Misteri Amara

Misteri Amara

Ilana berlari-lari kecil di taman belakang. Gadis tujuh tahun itu begitu riang menikmati waktu bermainnya di halaman belakang rumah. Sejak pindah ke rumah baru kemarin sore, Ilana tampak bahagia. Ia menyukai rumah yang dipilihkan orang tuanya.

Kekecewaannya karena harus berpisah dengan teman-teman di sekolah lama, mulai terobati dengan suasana baru di rumah barunya. Apa lagi kamar yang sengaja dipilihkan sang bunda, begitu pas menghadap ke arah taman belakang yang ditumbuhi banyak bunga-bunga aster dan aneka mawar.

Ilana kini bisa menerima keputusan sang ayah yang harus ditugaskan ke kantor baru di ujung kota Bandung. Meski tak seramai kota Jakarta, tapi justru keasrian dan keindahan di rumah barunya, membuat Ilana kerasan. Terlebih lagi, kini ia memiliki teman baru yang tinggal di samping rumahnya.

Amara, nama gadis kecil yang seumuran dengannya itu. Dengan wajah cantik dan rambut panjang yang selalu terurai, Amara selalu terlihat ceria. Senyum manis yang terkembang kala pertemuan pertama dengan Ilana, membuat keduanya semakin akrab.

Boneka beruang kesayangan Amara selalu dibawa serta kala mereka tengah bermain bersama. Tapi, ada yang mengganjal pikiran bunda Ilana akan boneka beruang Amara, sebelah matanya hilang.

Bunda Ilana pernah berniat ingin memasangkan mata pada boneka Amara, tapi gadis kecil itu menolak. Bunda Ilana tak bisa memaksa. Mungkin Amara lebih nyaman dengan keadaan bonekanya yang seperti itu.

Kebersamaan Ilana dan Amara semakin akrab. Seminggu setelah kepindahan Ilana dan ayah bundanya, suasana rumah seakan ramai dengan tawa riang kedua gadis kecil itu. Bunda Ilana mulai menyayangi Amara yang cantik dan periang.

Menurut cerita Amara, dirinya sering ditinggal pergi ibunya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Sang ayah pergi meninggalkan dia dan ibunya sejak Amara kecil. Mungkin begitu yang biasa ibunya ceritakan pada Amara.

Setiap hari, selepas ibunya berangkat kerja di pagi hari, Amara diantarkan sekolah, sepulang dari sekolah, ia harus pulang ke rumah dengan ojek langganannya. Makanan dan segala kebutuhan Amara sudah dipersiapkan sang ibu setiap harinya, dari mulai nasi, lauk pauk, camilan sampai mainan Amara.

Amara tak diperbolehkan keluar rumah. Kalau pun boleh, hanya diizinkan bermain di rumah tetangga sebelah kanan dan kirinya saja, itu pun sore hari harus sudah ada di rumah. CCTV terpasang di setiap sudut rumah, itulah kenapa ibunya akan tahu kegiatan Amara setiap harinya. Begitu cerita Amara pada bunda Ilana.

Amara termasuk anak yang penurut dan sopan. Saat pertama kali ia menyapa kedatangan Ilana dan ayah bundanya dari balik pagar, ia bersikap santun dengan senyumannya yang ramah. Itulah kenapa Ilana merasa menemukan pengganti teman-temannya.

Bunda Ilana merasa prihatin dengan kondisi Amara yang kesepian, tapi masih tetap bisa riang menghadapi kondisi yang menimpanya. Mungkin pemikiran anak-anak yang polos, dan merasa bahagia kala ia memiliki teman untuk bermain bersama, segala duka dan kesedihan yang menimpanya selama ini, seakan sirna.

Sudah seminggu sejak menempati rumah baru, bunda Ilana merasa penasaran ingin berkenalan dengan ibu Amara. Tapi karena sang ibu selalu pulang larut malam, ia mengurungkan niatnya. Di hari Minggu ini, ia berharap ibu Amara libur dan ia bisa berkunjung ke rumahnya.

Pagi-pagi sekali, bunda Ilana sudah membuat bolu yang akan diberikan pada tetangganya itu. Tak lupa, ia membuatkan pula bolu keju untuk camilan Ilana di rumah. Ia berharap, ibu Amara akan senang dengan kedatangannya.

“Kue bolu itu untuk siapa, Bunda?” tanya Ilana saat melihat bundanya tegah sibuk di dapur.

“Ini untuk Amara dan ibunya, Sayang. Pagi ini, kita akan mengunjungi rumah mereka.”

“Horeeee, akhirnya, kita akan main ke rumah Amara ya, Bunda,” sorak Ilana kegirangan.

“Sekarang, kamu mandi dulu, sambil menunggu Bunda menyelesaikan membuat kue, lalu setelah itu kita akan pergi.”

“Baik, Bunda,” ujar Ilana seraya berlalu meninggalkan bundanya dan menuju kamar mandi.

**

Beberapa saat lamanya Ilana dan bundanya memencet bel. Tak ada sahutan dari dalam rumah. Sepi.

“Assalammualaikum,” teria Ilana dengan keras.

Masih tak ada jawaban. Suasana rumah Amara tampak seperti tak bertuan.

“Mungkin Amara dan ibunya sedang pergi, Sayang. Kita datang lagi nanti ya,” ucap bunda mengajak putrinya yang takmpak kecewa itu.

“Iya, Bunda,” jawab Ilana menurut.

Saat Ilana dan bunda hendak melangkahkan kaki menuju rumah mereka, tiba-tiba seorang perempuan telah berdiri tepat di belakang mereka. Tatapannya dingin. Ilana terlihat bergidik dan bersembunyi di balik punggung bundanya.

“Kalian siapa? Mau apa datang ke rumah ini?” tanya si perempuan dengan sinis.

“Saya penghuni baru di sebelah rumah ini, ini putri saya, Ilana. Kami hendak mengunjungi Amara dan ibunya yang tinggal di rumah ini,” ujar bunda Ilana dengan sopan.

Perempuan itu tampak menautkan kedua alisnya. Dengan tatapan menyelidik, ia pun mulai bertanya.

“Kau kenal dengan Amara?”

“Ya, tentu, dia teman sepermainan putri saya. selama seminggu ini, Amara selalu bermain dengan Ilana, putri saya di rumah kami.”

Perempuan itu terkejut. Wajahnya berubah pucat. Air matanya tiba-tiba mengalir perlahan. Ilana dan bundanya hanya menatap heran perempuan itu.

“Kalau boleh saya tahu, ada apa sebenarnya?” tanya bunda Ilana yang mulai curiga.

Perempuan itu menatap bunda Ilana dengan tatapan sedih. Tak lagi sedingin saat pertama tadi.

“Maaf kalau saya telah membuat Mbak bersedih,” lanjut bunda Ilana tak enak hati.

“Amara sudah meninggal setahun yang lalu.”

Rasanya seperti guntur menggelegar di siang bolong, ucapan perempuan itu mampu membuat bunda Ilana lemas. Kini berganti, wajahnya yang pucat pasi.

“Apa kau tidak sedang bercanda, Mbak?” tanya bunda Ilana sambil mencoba bersikap tenang, karena ada Ilana bersamanya yang hanya terlihat heran. Ia mungkin belum memahami apa yang diucapkan perempuan itu.

“Aku ibunya Amara,”

Kembali bunda Ilana dibuat terkejut. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang menimpanya kini. Selama ini, ia telah menerima Amara di rumahnya, bermain-main dengan putrinya.

“Bisa kau ceritakan apa yang terjadi dengan Amara? Maaf, bukannya aku mau ikut campur, tapi dengan apa yang terjadi selama seminggu ini, sepertinya aku berhak tahu apa yang menimpa Amara hingga ia masih bisa berhubungan dengan yang bukan dnianya.”

Perempuan itu tampak termenung. Detik berikutnya, ia menyetujui permintaan bunda Ilana.

“Sebaiknya kita bicara di dalam.”

Bunda Ilana menyuruh putrinya untuk pulang duluan. Tanpa bantahan, gadis kecil itu pun menurut dan segera berlalu menuju rumahnya. Sementara perempuan itu membuka gerbang dan mempersilakan bunda Ilana untuk mengikutinya.

Hawa dingin terasa menusuk kulit saat pintu terbuka. Suasana rumah begitu mencekam. Bau apek begitu menyengat hidung. Sepertinya rumah ini sudah lama ditinggalkan pemiliknya. Ibu Amara mempersilakan bunda Ilana untuk duduk di kursi kayu yang terletak tak jauh dari arah pintu.

Debu yang menempel di kursi segera ia bersihkan dengan sapu tangan yang biasa ia bawa di saku celananya. Kue bolu yang sedari tadi dibawa, diletakannya di atas meja.

Ibu Amara duduk di hadapannya. Menarik napas panjang dengan kesedihan yang menghiasi wajahnya.

“Amara anakku satu-satunya. Ia anak yang baik dan penurut. Setiap hari, aku meninggalkannya untuk bekerja. Ia tak pernah protes. Pada hari yang naas itu, Amara sempat meneleponku, ia mengeluh sesak napasnya kambuh, dengan enteng aku hanya menyuruhnya untuk menggunakan inhaler yang biasa ia bawa keman-mana.”

Ibu Amara kembali mengurai air mata, menahan duka yang menimpa putrinya.

“Aku adalah ibu yang tidak bertanggung jawab. Tak begitu peduli dengan kondisi putrinya saat itu. Aku bisa melihat melalui CCTV di dalam kamar, setelah ia meneleponku, ia mencari inhaler itu, tapi ia tak menemukannya. Rasa sesak yang membuatnya meregang nyawa, hingga ia tak bisa diselamatkan. Boneka beruang kesayangannya yang saat itu depeluknya erat menjadi tumpuan kesakitan yang menderanya, hingga sebelah matanya terlepas. Aku sangat menyesal. Tapi waktu tak pernah bisa kembali, aku hanya bisa meratapi diri dengan penuh rasa sesal di sisa hidupku ini.”

Bunda Ilana tampak terenyuh dengan apa yang menimpa Amara. Ia pun geram dengan sikap ibu Amara yang begitu acuh terhadap putrinya yang tengah kesakitan. Tapi ia pun tak tega melihat penyesalan yang begitu dalam, ibu Amara sudah mendapatkan balasan dari ketidakpeduliannya pada putrinya sendiri.

“Mungkinkah Amara merasa kesepian, sehingga ia bisa berinteraksi dengan kami, yang bukan dunianya?”

“Kejadian seperti yang kau alami bukan yang pertama kali terjadi. Sebelumnya, keluarga yang baru pindah ke rumah yang kau tempati itu pun merasakan kehadiran Amara. Mereka bisa berinteraksi dengan Amara. Semasa hidup, Amara memang selalu senang bermain di rumah yang kau tempati itu, bersama dengan Nenek Idah, pemilik pertama rumah itu.”

“Kau pernah berinteraksi dengan Amara?” tanya Bunda Ilana ingin tahu.

Ibu Amara menggeleng.

“Aku tak pernah bisa berinteraksi dengannya. Entah kenapa, padahal aku ingin bilang padanya, untuk memaafkan kesalahan terbesarku karena tak pernah peduli dengannya. Selain itu, aku ingin ia bisa hidup tenang di alamnya, tak lagi mengganggu keluarga yang menempati rumah itu.”

“Aku sudah memaafkan Ibu.”

Tiba-tiba sebuah suara membuat bunda Ilana dan ibu Amara terkejut. Bersamaan, mereka menoleh ke arah sosok yang telah berdiri di ambang pintu.

“Ilana!” Seru bunda Ilana seraya berdiri.

“Aku Amara. Maaf karena telah meminjam tubuh Ilana untuk sementara waktu. Aku hanya ingin bilang pada Ibu, kalau aku sudah memaafkan Ibu. Aku hanya ingin, Ibu tak lagi menangisi kepergianku, karena itulah yang membuatku tertahan, tak bisa pergi dengan tenang. Tolong, ikhlaskan aku pergi, Bu.”

Ibu Amara berdiri, kemudian menghampiri Ilana, menangis sejadi-jadinya di hadapan Ilana. Menyesali perbuatannya.

“Maafkan Ibu, Sayang. Ibu benar-benar menyesal dengan ketidakpedulian Ibu terhadapmu.”

“Aku sudah memaafkan Ibu. Aku hanya ingin Ibu bisa ikhlas melepasku, agar aku bisa tenang di alam sana.”

“Ibu akan mengikhlaskanmu, Nak. pergilah dengan tenang, Ibu rida.”

“Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Bunda Ilana.”

Setelah berkata begitu, Ilana terkulai lemas. Dengan refleks, ibu Amara meraih tubuh Ilana.

“Terima kasih, Ilana, kau telah menjadi penghubung antara kami.”

Bunda Ilana segera menggendong tubuh Ilana yang masih dalam keadaan pingsan menuju rumahnya. Meninggalkan ibu Amara yang sudah merasa lega.

Sumber Gambar : Pixabay

rumahmediagrup/bungamonintja

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.