Pembelajaran Dari Suatu Peristiwa

Pembelajaran Dari Suatu Peristiwa

Ketika siaran berita di beberapa stasiun televisi dan media sosial belum segencar saat seperti sekarang, rentang mulai minggu kedua di bulan Maret 2020 adalah seolah bom waktu yang sudah disetel oleh Sang Maha Penentu kejadian untuk kita bangsa Indonesia khususnya warga Jakarta dan sekitarnya, ketika mulai merebak berita yang tersiar dengan adanya dua warga kota Depok yang terinfeksi wabah si jelita nama  Corona namun si jahat membabat nyawa yang sudah ada dalam daftar ketentuanNYA, awalnya sebagai Orang Dalam Pemantauan sampai kemudian ternyata menjadi Pasien Dalam Pengawasan. Sungguh semua bukan serba kebetulan, semua sudah dalam genggaman tangan Alloh yang ibarat gulungan kertas skenario film, sutradara  segenius Stephen Spielberg pun tidak akan sanggup memerintahkan menggantikan alur cerita menjadi yang lebih bahagia di akhir cerita.

Kita masih seperti seorang pongah yang belum yakin  bahwa si cantik nama namun nyata jahat aksinya tadi akan juga berkenan singgah di bumi pertiwi kita tercinta Indonesia, dan beranggapan kalau kita bangsa  yang kuat karena bangsa kita suka meminum minuman dari  sari rempah-rempah, lalu laju harga rempah-rempahpun terus beranjak naik, terbukti dengan berseliweran curhatan penjual jamu online di berada Facebook, belum lagi ungkapan sinis beberapa pihak yang mungkin ingin dianggap agamis, parahnya di kalangan ustadz pun ada perselisihan pendapat, dengan mengatasnamakan “kematian di tangan Alloh, tidak usah takut Corona, hanya takut lah sama Alloh akan dosa-dosamu”.

Cukuplah kita meredakan silang pendapat yang beredar, sekedar kita mengalah, merendahlah keegoisan diri yang selalu meninggi, akan tetapi kemudian masih saja aksi tidak manusiawi dengan makin langkanya masker kesehatan didapatkan, kalau pun ada dijual dengan harga yang tidak layak tingginya, walaupun di prinsip Ekonomi memang membenarkan kondisi seperti sekarang, makin tinggi permintaan, makin mahal suatu benda,  tidakkah sadar bahwa Tuhan sedang memainkan skenarionya dari mula di negeri Tiongkok, lalu menyebar ke Italian, dan Iran. Lalu apa yang membuat kita bisa semakin yakin bahwa kita lagi-lagi harus belajar dari setiap fenomena alam ataupun kejadian memdadak yang luar biasa? ada apa saja dengan perbuatan kita selama ini telah membuat Alloh murka?, apakah kita sudah berlebihan mengesampingkan Alloh, walau kita rajin ibadah tapi semua lupa dan hilang niat karena cinta kepada Alloh semata, bukan cinta dunia karena haus sanjungan dan Like di media sosial?

Sejenak bermuhasabah diri, menata hati kita apa kemarahan Tuhan sudah akan selesai atau masih akan terus berlangsung menyentil bangsa kita rakyat Indonesia, dengan kota Jakarta sebagai episentrum menyebarnya sicantik nama Corona. Terlebih jika kita masih sangat meninggikan egoisme untuk tidak ta’at anjuran pemerintah dan fatwa MUI, untuk sekedar bertahan dan betah di rumah dengan segala macam resiko kebosanan yang akan kita rasakan, rasa jenuh dari efek Work From Home, Learn From Home, Social Distancing, ini masih sebuah pengorbanan kecil tapi bisa menyelamatkan orang-orang yang kita cinta, keluarga kita dan ratusan bahkan ribuan orang di luar sana.

Tak terhenti hati bergejolak menanya, ketika mata nanar menatap berita tumbangnya para dokter dan tenaga kesehatan di ujung medan laga beliau-beliau ini menyumbangkan bakti darma profesionalime mereka menolong dengan memperdulikan reaiko terdampak sekecil mungkin, namun mereka juga manusia biasa, bukan robot yang tak punya lelah, sudah ikuti Standard Operational Procedure dalam pemakaian Alat Pelindung Diri pun, kelelahan dan imunitas tubuh yang terkikis sedikit demi sedikit akibat overload, kelebihan beban kerja yang membuat mereka akhirnya gugur sebagai pahlawan di medan perang.

Mulai lagi berkali-kali tak bosan mengingatkan, menegur anggota keluarga, anak-anak kita, yang seperti sudah tidak betah dalam masa belajar di rumah, kita erat kan ikatan jalinan komunimasi antara ayah, ibu dan anak dengan meningkatkan kualitas kebersamaan dalam ibadah sholat berjamaah misalnya, atau makan bersama dalam satu meja makan, menkomunikasikan permasalahan kehidupan, kebutuhan remaja kepada orang tuanya, mengingatkan teman, sanak saudara, famili di kejauhan dengan saling terus keep in touch, tetap berbagi pesan dan kabar, menyampaikan pengingat perlindungan diri sedari awal dengan tetap berdiam diri di rumah.

rumahmediagrup/isnakuainr

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.