Sebuah Pulpen

Sebuah Pulpen

Setiap sore saya menemani anak-anak mengaji dan menghafal. Mereka anak-anak usia 4-10 tahun di sekitar tempat tinggal saya. Senin sampai Jum’at mereka mengaji. Sabtu dan Ahad saya liburkan.

“Ibu, pulpennya rusak, ya, bu?” Chandra yang baru mulai mengaji, bertanya sambil memperhatikan pulpen yang saya pegang.

Memang biasanya saya menggunakan pulpen untuk menuntun bacaan iqra mereka. Sekalian untuk menuliskan pencapaian bacaan mereka pada selembar kertas. Sore ini, ujung pulpen itu pecah karena terinjak dan ada bagian yang patah, sehingga terlihatlah pipa tinta di dalamnya.

“Iya, Chandra. Pulpennya terinjak.”

Lalu kami melanjutkan mengaji. Selepas mengaji, anak-anak mempunyai waktu untuk bermain di luar. Ada jungkitan, perosotan, juga kursi putar. Ada juga yang bermain sepeda, karena mereka datang dengan bersepeda.

Beberapa hari kemudian, ketika tiba giliran Chandra mengaji, ia mengeluarkan pulpen dari sakunya.

“Bu, ini pulpen buat ibu. Kan pulpen ibu rusak.”

Saya tertegun. Anak berumur 4 tahun itu ternyata masih mengingat pulpen saya yang rusak.

“Ini pulpen dari mana? Punya mamah Chandra, ya?”

“Iya, bu. Tapi aku udah bilang sama mamah, katanya boleh buat ibu.”

Masya Allah, saya terharu dengan kepeduliannya.

“Terima kasih, Chandra. Sampaikan sama mamah ya, terima kasih.”

“Semoga kepedulian itu tetap engkau miliki sampai kapanpun dan untuk siapapun,” batinku dalam hati.

Rumahmediagrup/YuyunKho

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.