KKN “Horor” di Subang

KKN “Horor” di Subang

Beberapa waktu lalu booming tulisan tentang KKN di Desa Penari. Bahkan, kisah tersebut akhirnya dibukukan, meski benar atau tidak kisahnya masih menjadi kontroversi.

Saat KKN, aku pun mengalami setidaknya ada empat peristiwa horor.
Oleh kampus Universitas Padjadjaran, kami ditempatkan di Desa Sirap, Tanjung Siang, Subang, Jabar.

Pengalaman horor yang pertama adalah bersama dengan teman-temanku yang perempuan terjebak di belakang kantor desa. Saat itu kami sedang mengurus ijin untuk melegalisasi program-program yang akan dibuat.


Setelah selesai, kami menuju ke bagian belakang kantor yang berupa ruangan terbuka dengan tembok yang mengelilinginya. Kami pun menuju ke kamar mandi karena ingin BAK. Setelah selesai, betapa kagetnya kami karena pintu kantor desa telah dikunci.

Rupanya, penjaga kantor desa telah pulang dan tidak mengetahui kalau kami masih berada di belakang. Kami pun berteriak-teriak, namun tak ada yang mendengar karena kiri-kanan kantor berupa lahan kosong. Karena kami mahasiswa miskin, kami belum memiliki ponsel saat itu. Hanya orang tertentu yang memilikinya. Pokoknya, muahaaal!

Kami hanya berharap semoga teman kami yang laki-laki (kami beda rumah) menyadari kalau kami anak-anak perempuan belum pulang.

Hari semakin sore, bahkan menjelang magrib. Kepala kami dipenuhi dengan
pikiran yang horor-horor. Mana ini tempat asing lagi! Tiba-tiba, kami mendengar suara langkah kaki di luar tembok kantor. Kami pun berteriak minta tolong.

Ternyata, orang itu adalah Dicky, salah satu teman kami. Si gondrong ini pun memanjat tembok, kemudian nyengir melihat kami. Kami pun ditolong olehnya, dengan ditarik untuk naik tembok. Kalau kami lakukan sendiri hal itu sangat sulit karena tak ada tempat untuk berpegangan.

“Seneng, ya, punya kenangan pas KKN,” celetuk Dicky.

Pengalaman horor kedua terjadi saat aku melakukan salah satu program KKN yaitu khitanan masal.
Di daerah Jawa Barat, anak yang dikhitan biasanya masih anak-anak pra sekolah, kecil-kecil.

Nah, tugasku adalah membantu mahasiswa kedokteran yang akan mengkhitan dengan cara memegangi tangan anak-anak yang akan dikhitan.

Entah mengapa saat melihat proses khitan itu rasanya horor sekali, sampai-sampai aku pusing dan mataku berkunang-kunang. Oleh temanku, JoJo, aku disuruh sarapan dulu karena memang tadi belum makan apa-apa, sedangkan aku terbiasa sarapan sejak kecil.

Selesai makan, aku kembali bertugas. Namun, melihat ‘calon dokter’ menyayat-nyayat bagian vital anak itu rasanya mengerikan sekali.
Aku pun nyaris pingsan lagi. Akhirnya, aku memilih mundur dari arena, Saudara-Saudara! Hehehe ….

Pengalaman ketiga yaitu berkaitan dengan jarak. Desa Sirap yang kami tempati ini jauh dari kota. Pada suatu malam, kami ingin membeli es krim sekalian refreshing. Nah, untuk mendapatkan es krim, kami harus berjalan kaki ke ‘kota’ sekitar satu jam.

Beramai-ramai kami melewati jalanan desa yang gelap karena lampu jalan tidak ada. Kami hanya mengandalkan cahaya dari beberapa senter yang dibawa. Di jalan kami mengobrol hal-hal yang lucu hingga tertawa-tawa.

Tiba-tiba, kami semua terdiam setelah menyadari kalau kami sedang melewati kompleks pemakaman yang sangat luas. Kami menyebutnya jalan diam. Karena tak terbiasa lewat makam, maka rasanya horor sekali. Pandangan lurus ke depan, pantang menengok kiri-kanan karena yang terlihat adalah batu-batu nisan. Hiiii!

Pengalaman horor keempat adalah saat makan tiba. Dan, ini kisah paling horor bagiku.
Bagaimana tidak horor, seringkali kami disuguhi menu berupa nasi, ikan bakar/goreng, sambal, dan lalapan.

Tiap kali makan bisa dipastikan kami akan menambah lagi sepiring hingga dua piring karena nikmatnya. Apalagi jika kami disuruh mengambil sendiri ikan di empang oleh bapak kos. (Terima kasih bapak/ibu Arum)
Wah, outbond rasanya! Porsi makan bisa dipastikan akan bertambah! Dan, hal itu horor sekali karena berat badan kami naik semua selesai KKN!

rumahmediagrup/windadamayantirengganis

2 comments

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.