Pasangan yang Tertukar

Pasangan yang Tertukar

“Yah, panas Uwais belum turun juga.”

Saya sampaikan kekhawatiran pada suami yang baru pulang salat subuh di mesjid.

Jika anak demam saya balurkan parutan bawang merah di punggung, dada, dan perutnya. Selain itu ASI tentunya lebih sering saya berikan. Biasanya cara ini bisa menurunkan demam anak. Tapi dari tadi malam hingga pagi ini belum ada perubahan. Demam Uwais masih tinggi.

“Badannya masih panas? Kita bawa saja ke bidan sekarang,” ucap suami.

Saya langsung bergegas mengambil kain gendongan dan dompet, sementara suami menyalakan mesin motor. Dengan tergesa-gesa saya memakai sendal dan segera naik ke motor.

Rumah bidan dekat dari tempat tinggal kami, tak sampai lima menit kami sudah sampai di depan gerbang rumah bidan.

Saat turun dari motor, baru beberapa langkah berjalan saya merasa ada yang ganjil dengan sandal yang saya pakai. Ternyata, sandalnya berbeda! Yang kanan berwarna merah dan yang kiri berwarna abu-abu. Ukurannya pun lebih kecil. Pantas saja saat jalan tadi terasa sesak di kaki kiri. Untung saja suasana masih sepi dan matahari belum menampakkan dirinya.

Rupanya, karena panik dan terburu-buru, saya salah memakai sandal. Padahal sandal yang saya lihat sebelum pergi adalah pasangan yang serasi, tapi mengapa sandal yang saya pakai jadi pasangan yang tertukar? Hehe…

rumahmediagrup/yuyunkho

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.