Penumpang Misteri

Penumpang Misteri

Hari ini bakal menjadi perjalanan yang melelahkan. “Hmm … Siap stamina ni,” pikirku.

Ayam sudah mulai berkokok menyambut pagi. Mereka memanggil matahari yang bersembunyi di ufuk timur.

Sebelum azan Subuh, aku sudah mandi dan berpakaian. Sehingga setelah salat aku siap berangkat. Sarapan cukup sepotong roti yang sudah kusiapkan sejak semalam.

Aku punya janji dengan pihak kepegawaian di Bandung. Ini berkenaan dengan kelengkapan administrasiku untuk usul pangkat 4.c ke Jakarta. Satu berkas belum lengkap akan fatal mengganggu kelancaran.

Perjalanan sekitar 4 jam. Pukul 9 pagi, aku sudah sampai di tempat tujuan. Kereta yang kutumpangi cukup membuatku nyaman. Walau ojek lain sedikit menyebalkan karena bensinnya habis di jalan.

Aku diterima oleh resepsionis yang ramah. Berkasku pun sudah disiapkan. Salah satu pegawai mengantarkannya dan memintaku memeriksanya. Semua berjalan lancar.

Urusanku berikutnya mampir ke kampusku. Kupikir kesempatan yang baik sekalian melegalisir ijazah doktoralku. Sekali mendayung dua pulau terlalui.

Tak terasa, waktu sudah pukul 6 sore. Sudah setengah jam, aku menanti travel di salah satu warung depan kampusku. Travel menjemput penumpang dari satu rumah ke rumah lainnya.

“Ting,” bunyi sms di gawaiku.

“Pak, kami sudah di depan kampus,” pesan dari sopir travel.

Senyum ceria ke luar dari bibirku. Ternyata mobil travel berada di seberangku. Aku lambaikan tangan sambil menelpon sopir itu. “Pak, ini saya,” panggilku.

“Maaf, Pak telat. Tadi ada kemacetan,” kata pak sopir memberi penjelasan.

“Tidak apa-apa, Pak. Bandung kota besar yang padat. Kemacetan juga sering terjadi,” jawabku.

Mobil melaju kencang memasuki jalan bebas hambatan. Kemudian menuju Kab. Kunimgan. Jalan menanjak menjadi ciri khas. Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi dan terbesar di Jawa Barat dimana kotaku berada. Udara dingin mulai menyeruak. Itu tandanya kami sudah memasuki Kota Kuda, Kuningan.

“Kang sopir, abdi di payun,” kata penumpang pertama yang akan turun.

“Siap, Teh,” jawab sopir kepada penumpang seorang wanita muda.

Satu demi satu penumpang diantar ke rumah mereka masing-masing. Rasa penat mulai menghinggapi tubuhku. Bosan mulai hadir di diriku. Aku menoleh ke belakang ternyata masih ada satu penumpang. Ia tertunduk malu dan pura-pura merapihkan tas yang dipegangnya. Wanita berpakaian putih duduk di bagian tengah sedangkan aku di samping sopir. Lampu diredupkan membuatku hanya samar-samar melihatnya.

“Kang, kita ke mana lagi?” tanyaku kepada sopir.

“Kan, Bapak penumpang terakhir,” jawabnya.

“Akang bawa isteri?” tanyaku lagi kepada sopir sambil kembali menengok ke belakang. Ternyata wanita berbaju putih itu telah menghilang.

rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.