Tanggal Merah

Pagi-pagi sebelum mengawali aktivitas menulis dan memasak. Aku sempatkan lihat whatsapp, ternyata ada salah satu rekan kerja mengirimkan chat. “Sepi banget Bu. di sekolah nggak ada yang masuk” chat dari salah satu karyawan di sekolah. “Memang yang lain ke mana Mas?” Tanyaku sambil membalas chatnya. “Nggak tahu tuh Bu, sepi yang lain gak ada. Saya sendirian, Alhamdulillah kerjaan sudah kelar semua? Jawab mas Yusuf dengan santai masih dalam chatnya.

Tak lama mas Yusuf mengirimkan fotonya yang memakai masker. Kling, bunyi lagi whatsappku, saat dilihat ternyata mas Yusuf yang chat. “Nih Bu, saya pakai masker sekarang. Masker mahal Bu sekarang, jadi saya pakai beginian Bu biar virus-virus pada kagak masuk.” isi chatnya tetap dengan bahasa daerahnya. Aku cukup menjawab “Iya Mas, pakai masker, untuk jaga-jaga dan waspada saja.”

Aku kira selesai mas Yusuf tidak chat lagi eh ternyata bunyi lagi ponselku. Saat dilihat, ternyata chatnya masih nyambung dan masih mas Yusuf yang chat.

“Astagfirullah Bu, rupanya tanggal merah Bu. Ya Allah saya sampai lupa Bu nggak lihat kalender saking semangatnya kerja. Begini deh, tanggal merah saja saya terobos terus.” ujarnya dalam chat whatsapp. “Boleh ngakak nggak saya, Mas?” Balasku di whatsapp.

Padahal aku sendiri lupa, jika hari ini memang tanggal merah. Karena hampir dua pekan bekerja dari rumah, jadi tak paham kalau hari ini tanggal merah atau hitam. Tak lama kemudian ponselku berbunyi kembali.

“Gara gara corona Bu jadi poho sama tanggal beureum.” ucap mas Yusuf di whatsappnya. Aku hanya kirim emot ngakak. Lalu ia membalas dengan ucapan “Jadi lieur saya Bu.”

Semua merasakan dampak dari musibah virus corona ini, aku pribadi malah merasakan sedikit stres dengan kondisi ini. Jika ada yang ramai, tetangga mengobrol di luar rumah, aku mulai siap-siap dan memastikan ibu tak keluar untuk ikut ngobrol.

Ibu ingin nimbrung untuk mengobrol, aku larang. Saat ada yang jualan lewat, ibu akan memberhentikan tukang jualan itu, aku larang. Tak sedikit aku berselisih paham, aku coba pelan-pelan menjelaskan kepada ibu. Bagaimana bahaya dan penyebarannya. Ibu jarang melihat perkembangan berita di televisi. Beliau hanya melihat sepintas saja, paling yang dilihatnya ceramah para ustaz atau ustazah. Selanjutnya menikmati sinetron di stasiun televisi langganannya.

Semoga Allah senantiasa melindungi dan menjaga kita semua dari segala virus ataupun penyakit lainnya. Aamiin yaa Rabbal Aalaamiin.

Wallahu A’lam bishowab

rumahmediagrupa/suratmisupriyadi

One comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.