MENAKAR PERAN IBU DIMASA PENDEMI

Menakar Peran Ibu Dimasa Pandemi

Oleh: : Sri Ariyati, SH (Pemerhati Umat)

Dampak penyebaran COVID-19 di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Nadiem Makarin selaku Menteri Pendidikan membuat kebijakan baru. Guna proses pembelajaran tetap berlangsung dari rumah dan pembelajaran secara daring (dalam jaringan) untuk para siswa selama 14 hari (Republika, 17/03/2020) Dalam jangka 14 hari pula. Ibu diminta peranannya menjadi guru kelas, guru tahfidz, guru bimbel, petugas klinik, chef handal sekaligus penjaga sekolah. Sedang Ayah menjadi Kepala Sekolahnya.

Besar harapan Ibu akan menjadi guru yang menyenangkan dan mengerti dunia mereka. Namun faktanya, Ibu kewalahan memberi pendidikan dan bantu anak-anak dalam  menyelesaikan tugas-tugasnya. Sebab sekolah sudah diharapkan menjadi Laundry  pendidikan yang mencerdaskan. Seolah-olah belajar hanya di sekolah saja. Dirumah istirahat main gadget dan games. Tugas Ibu hanyalah mencukupi asupan gizi, memberi tempat tinggal, uang jajan dan perlindungan bagi putera-puteri mereka. Sehingga ketika berhadapan dengan situasi genting wabah corona. Ibu-ibu pangling beralih fungsi menjadi guru private 24 jam. Tak jarang terdengar dari lisan polos mereka:

“Aku pengen kesekolah Ma. Maunya belajar sama Ibu Guru bukan Mamah guru.”

Sungguh sebuah kegagalan yang nyata. Untuk sebutan “Madrasatul Ula“. Ketika mereka lebih nyaman dan lebih percaya dengan selain Ibunya.

Fakta tersebut sekaligus membuktikan. Bahwa negara gagal membentuk, mendidik dan mencetak perempuan menjadi Madrasatul Ula untuk anak-anaknya. Kesetaraan gender yang dihembuskan rezimlah sebenarnya yang mengikis peranan mulia yang mestinya Ibu jalani. Baik di ranah politik, ekonomi, pendidikan juga sosial. Intinya perempuan harus diberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam hal kebebasan dan pengembangan diri. Sehingga melabrak kewajiban menjadi seorang Ibu demi mengejar sesuatu yang mubah meskipun nyawa menjadi taruhannya.

Sehingga anak-anakpun  fokus diajari ilmu dunia oleh orangtuanya. Agar besar kaya harta walau miskin ilmu agama. Orientasi pendidikan beralih dari materi untuk materi. Akibatnya, lahirlah anak-anak yang beraqidah dangkal dan bermoral rusak yang mengisi dunia ini. Sudikah Ibu?

/Islam Muliakan Perempuan/

Agungnya tugas dan peran perempuan terlihat pada kedudukannya sebagai pendidik pertama dan utama generasi muda Islam. Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin berkata, “Sesungguhnya kaum perempuan memiliki peran yang agung dan penting dalam upaya memperbaiki kondisi masyarakat”, hal ini dikarenakan upaya memperbaiki kondisi masyarakat itu ditempuh dari dua sisi:

Pertama: Perbaikan (kondisi) di luar (rumah), yang dilakukan di pasar, mesjid dan tempat-tempat lainnya di luar rumah. Yang perbaikan ini didominasi oleh kaum laki-laki, karena merekalah orang-orang yang beraktifitas di luar rumah.

Kedua: Perbaikan di balik dinding (di dalam rumah), yang ini dilakukan di dalam rumah. Tugas mulia ini umumnya disandarkan kepada kaum perempuan, karena merekalah pemimpin/pendidik di dalam rumah, sebagaimana firman Allah Ta’ala kepada istri-istri Nabi SAW

“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu, dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya” (TQS al-Ahzaab:33).

Oleh karena itu, tidak salah kalau sekiranya kita mengatakan: bahwa sesungguhnya kebaikan separuh atau bahkan lebih dari (jumlah) masyarakat disandarkan kepada kaum perempuan. Hal ini dikarenakan dua hal:

Pertama, Jumlah kaum perempuan sama dengan jumlah laki-laki, bahkan lebih banyak dari laki-laki. Ini berarti umat manusia yang terbanyak adalah kaum perempuan, sebagaimana yang ditunjukkan dalam hadits-hadits Rasulullah  SAW Berdasarkan semua ini, maka kaum wanita memiliki peran yang sangat besar dalam memperbaiki (kondisi) masyarakat.

Kedua, Awal mula tumbuhnya generasi baru adalah dalam asuhan para wanita, yang ini semua menunjukkan mulianya tugas kaum wanita dalam upaya memperbaiki masyarakat.

Makna inilah yang diungkapkan seorang penyair dalam bait syairnya:

“Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya”.

Wallahu ‘alam bii showwab

rumahmediagrup

One comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.