Mudik di Tengah Wabah

Mudik di Tengah Wabah



Mudik konon sudah menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia, khususnya Pulau Jawa, sejak zaman Majapahit. Kala itu para pejabat yang ditempatkan di berbagai wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit biasa pulang sesekali ke kampung halamannya untuk menengok keluarga dan menyampaikan laporan pada Raja. Di zaman modern mudik baru menjadi tren pada tahun 1970-an. Bahkan belakangan ini mudik seolah menjadi sebuah kewajiban, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri. Para perantau berduyun-duyun kembali ke kampung untuk menengok keluarga, sekaligus “melaporkan” prestasinya selama di perantauan.

Menengok keluarga dan menjaga silaturahmi tentunya baik-baik saja. Dengan mudik, para perantau seperti diingatkan akan asal-usulnya, agar tidak seperti kacang yang lupa kulitnya. Namun, tahun ini mudik menjadi sebuah rencana yang agaknya tidak bisa terlaksana. Penyebabnya, apa lagi kalau bukan si virus Corona yang tengah menjadi primadona di berbagai media massa maupun media sosial. Dengan sifatnya yang sangat menular, virus ini akan menemukan jalan untuk menyebar dengan cepat di antara para pemudik yang saling berdesakan di stasiun dan terminal. Selanjutnya mereka menumpang di pakaian, tas, koper, bahkan di kulit para pemudik, sepanjang perjalanan hingga di kampung halaman. Di sana mereka bisa menyebar dengan leluasa melalui jabat tangan, cipika-cipiki dan kontak fisik lainnya. Apalagi tidak semua daerah mendapat edukasi yang memadai mengenai virus ini.

Skenario di atas tentunya menjadi cerita buruk yang kita harapkan tidak terjadi. Itu sebabnya pemerintah menghimbau masyarakat agar menunda mudik tahun ini, dan bertahan di tempat masing-masing hingga wabah mereda. Bahkan pemerintah tengah mempertimbangkan untuk melarang sama sekali mudik tahun ini. Sebuah tindakan yang tepat, agaknya. Sebab beberapa hari ke belakang terjadi lonjakan pemudik ke arah Wonogiri dan Jepara. Kenaikan jumlah penumpang bus mencapai 500-700 orang per hari sejak 17 Maret 2020, demikian Kepala Terminal Induk Tipe A Giri Adipura Wonogiri, Agus Hasto Purwanto, seperti dilansir detik.com.

Bagi para pemudik sendiri sebenarnya perjalanan ini menjadi sebuah solusi dari keadaan tak menentu di tengah kebijakan social distancing. Bagi para pedagang dan buruh harian, tetap di Jakarta berarti bertahan di tengah kesulitan mencari nafkah karena jumlah konsumen menurun drastis. Mumpung sekolah pun diliburkan, maka mereka memilih pulang kampung. Pulang ke tempat yang lebih memberikan rasa aman, ke tengah keluarga yang bisa menolong di kala sulit. Virus Corona yang tak kasat mata tidak lagi menjadi kendala yang diperhitungkan, karena keberlangsungan nafkah keluarga adalah prioritas utama. Sebuah argumen yang dapat dimengerti, namun tetap tidak bijaksana.

Sejauh ini para pemudik dan sopir bus tidak ada yang terdeteksi mengidap gejala Covid-19. Bupati Wonogiri pun telah membuat surat edaran yang isinya melarang masyarakat menyelenggarakn hajatan yang telah menjadi tradisi penduduk Wonogiri setiap menjelang bulan Ramadhan.
Semoga saja perjalanan mudik ini tidak ditumpangi makhluk-makhluk mikro yang telah berbulan-bulan meneror dunia hingga ke pelosok. Semoga tidak ada lagi warga perantau yang terinspirasi untuk mudik hingga wabah ini teratasi. Indonesia tengah berjuang, jangan lagi kita bebani dengan hanya memikirkan kepentingan diri sendiri.

#rumahmediagrup

#latihanmenuliskomunitas

#miradjajadiredja

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.