Persia (Iran)

Berbagai aliran kepercayaan pernah dianut oleh masyarakat Persia (Iran). Awalnya, mereka menyembah tiga dewa: Mithra, Yema, dan Asya. Aliran ini bertahan beberapa lama hingga akhirnya datang Zaratustra yang membawa ajaran Zoroaster. Ia mengajak masyarak Persia untuk “bertauhid” menurut versinya. Ia juga mengajak mereka agar pada saat shalat menghadap matahari dan api. Pada akhirnya, kepercayaan dan agama masyarakat Persia yang tersisaa adalah menyembah api. Ritual sesat tersebut dilaksanakan di kuil-kuil.

_95753463_gettyimages-148742132

Gambar : Pahatan sosok Zoroaster.

Ajaran Zoroaster menghilang ketika Alexander dari Makedonia menyerang Persia pada akhir abad ke-4 SM. Lalu, muncullah Majusi yang meyakini bahwa api adalah tuhan dan karenanya harus disembah. Dalam setiap ritualnya, mereka selalu memuja-muja api melalui syair-syair keagamaan. Karena itu, Majusi dikenal sebagai para penyembah atau pemuja api.

symbol-of-Zoroastrianism

Gambar: Lambang Zoroaster.

Kuil api atau Otash kadeh sendiri merupakan tempat suci dan ibadah orang Majusi atau serig disebut sebagai agama kuno orang Persia (Iran). Api dalam kuil ini tetap menyala sampai sekarang. Sehingga disebut abi abadi karena tak pernah padam sejak ribuah tahun. Tapi, konon katanya pernah padam saat lahirnya Nabi Muhammad lahir.

Zoroaster 02

Gambar: Kuil Pemujaan untuk Dewa Api bagi Zoroaster.

Secara sosial, masyarakat Persia mempraktikkan perbedaan starat secara ketat dan keras. Starata itu terbentuk berdasarkan nasab (garis keturunan). Mereka dilarang melampui batas-batasnya dan tak boleh mengganti profesi yang telah ditentukan padanya. Mereka juga menerapkan sistem keuangan yang tidak adil. Sitem ini berdasarkan pada pungutan pajak dan retribusi yang sangat besar.

Penduduk Persia sangat menyucikan orang yang dianggapnya paling kuat. Mereka juga menjandikan raja-raja meraka sebagai tuhan mereka yang memiliki kekuasaan dan hak mutlak. Mereka memandang para raja memiliki kekuasaan dan hak mutlak. Mereka memandang para raja memiliki tingkat atau derajat yang lebih tinggi daripada kebanyakan orang dalam hal budi pekerti, tingkah laku, akal, dan kesucian jiwa. Oleh karena itu, tak heran jika rakyat Persia memberikan kekuasaan spiritual tak terbatas pada mereka.

 

_95753465_gettyimages-533794232

Gambar : Kuil di Yazd , Iran

Ada juga Raja Yazdeger, raja terakhir Persia. Konon, saat melarikan diri, dia membawa sekitar seribu juru masak, seribu penyanyi, seribu petugas kebersihan,  seribu penjaga pakaian dan masih banyak lagi.

Dikutip dari: The Great Story of Muhammad

One comment

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.