Aksi jagoanku

Sudah 4 hari dirumah saja, semenjak wabah corona sudah memasuki wilayah tempat tinggal Kami. Aku Melihat banyak hal lucu dan menggemaskan dari Narendra putra kesayangan kami yang usianya belum genap 2 Tahun.

“Aduh Narendra, kenapa semua diberantakin Nak. Bunda sudah capek berbenah sayang, kok malah di tumpahin mainan adek semuanya”. ujarku sambil memungut mainan Narendra dan memasukkannya ke dalam dus.

Narendara hanya bengong melihatku, tidak lama setelah itu dia malah tertawa-tawa kecil, sambil berlari kian kemari tanpa memperdulikan lagi ocehanku. Tanpa Ku sadari, aku telah melewatkan banyak perkembangan Narendra, karena kesibukanku di sekolah.

Sekarang Narendra sudah bisa berlari, kemudian memanjat dan turun dari tempat tidur tanpa rasa ragu dan takut. Dia juga suka melompat-lompat diatas kasurku yang empuk sambil menggerakan tangannya dengan riang. Bahkan sambil melambaikan tangannya kepadaku lalu bilang, ayoook.. ayok..lalu dia menunjukkan padaku tempat penyimpanan stok cemilannya, dan mengerlingkan matanya sambil menunjuk dengan jarinya yg kecil, agar Aku mengambilkan sesuatu di dalam lemari itu.

Satu hal yang membuatku takjub, pernah secara tidak sengaja Aku menumpahkan air dilantai, tiba-tiba Narendra datang membawakan lap kepadaku, aku jadi teramat senang, ternyata Narendra selama ini belajar dan meniru apa yang dilakukan oeh kakak-kakaknya selama ini, padahal kami tidak pernah mengajarkannya sama sekali.

Tiba- tiba Narendra terjatuh, langsung Dia menangis dengan kencang.

“Aduh sayang, Narendra tidak apa-apa kan”. ujarku sambil berlari dan langsung menggendongnya lalu memeluknya dengan erat.

Tangisnya tak mau berhenti, Aku sudah berusaha membujuknya tapi semua sia-sia. Tiba- tiba suamiku datang menghampiri kami.

“Sini Bun, biar Papa bantu membujuknya”. ujar Papa sambil tersenyum kepadaku lalu mengambil Narendra dari gendonganku.

“Kenapa sayang? Narendra jatuh ya..sini Papa lihat mana yang sakit”. ujar suamiku sambil mencari-cari dan mengalihkan tangisan Narendra.

Aku langsung terkesima, ternyata Narendra langsung diam dan berhenti menangis sambil menunjuk ke lututnya yang sedikit lecet. Aku hanya bisa tersenyum sendiri melihat mimik Narendra yang memonyongkan mulutnya kedepan sambil ngobrol dengan Papanya.

Memang Ku akui secara psikologis anak-anakku lebih dekat dengan Papanya, kalau ada apa-apa, selalu Papanya yang mereka cari. Kalau mereka memangis akan langsung terdiam setelah dibujuk dan digendong suamiku.

“Oh..ini ya? mari kita obati ya nak, nanti kalau main adek gak boleh lagi lari-larian ya, janji?”. ujar suamiku sambil mengaitkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Narendra

Setelah itu suamiku membersihkan lututnya yang terluka, kemudian langsung diolesi dengan madu. Tak lama waktu berselang, suasana kembali riang seperti semula.

Narendra seakan lupa janjinya yang barusan di ikrarkan dengan Papanya, dia langsung berlarian tanpa kenal lelah. Karena dunianya saat ini masih dunia bermain, dia selalu tertawa riang dan gembira sesuka hatinya tanpa takut untuk jatuh untuk kedua kalinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.