Pahlawan Senyum di Tengah Kekacauan Dalam Negeri Rumah Sendiri

Pahlawan Senyum di Tengah Kekacauan Dalam Negeri Rumah Sendiri

Diam di rumah aja sudah memasuki hari keduabelas. Hampir mendekati dari 14 hari yang disarankan. Namun pemberitaan tentang wabah ini bukannya surut atau menunjukkan data penurunan jumlah orang yang terpapar. Semua masih bergerak naik, termasuk kebutuhan hidup. 

Para pencari nafkah, tulang punggung keluarga mulai resah, karena kebijakan perusahaan tentang upah yang alih-alih bukannya menambah tapi pekerja malah harus ikut prihatin dengan kondisi usaha yang anjlok. Pekerja lepas, pekerja harian, pedagang kecil, semua yang tidak memiliki gaji bulanan pun menjerit.

Para istri, penunggu setia dan penerima berapapun hasil keringat didapat, kini harus lebih ketat anggaran belanjanya. Ada anak yang harus tetap diberi makan, ada listrik yang harus diisi ulang, ada tagihan yang belum ada kabar masih bisa ditunda atau tidak pembayarannya, dan harus pula punya uang untuk kuota belajar daring dan komunikasi. Situasi itu membuat dahi ini berkerut berlapis-lapis, wajah tegang nyaris tanpa senyum.

Bila hidup hanya memikirkan diri sendiri, mungkin tidak serumit dengan orang yang sudah berumah tangga. Lalu, kekesalan ini pada siapa dilampiaskan. Ujung-ujungnya anak. Mereka menjadi pelampiasan ketidakberdayaan orang tua menghadapi pertarungan kehidupan ini. Urusan dalam negeri rumah tangga sendiri menjadi kacau, tapi tetap harus dijalani. Secara tidak sadar, kita telah menanamkan trauma hidup pada usia dini mereka. Ketakutan akan menghantui mereka, rasa nyaman akan menjadi kegelisahan saat melihat orang tua yang uring-uringan. 

Mari rehat sejenak, untuk menarik nafas dan berpikir jernih. Tarik sedikit garis senyum ke atas dan nikmati. Wajah yang tersenyum bisa menjadi kekuatan baru untuk bertindak lebih lembut dan terarah. Anak-anak pun akan senang hati, menikmati proses belajar walaupun orang tuanya tak mengerti paedagogik, masih terukir senyum di wajah ayah dan ibunya.

Kita tak bisa menjadi pahlawan bagi orang lain yang terkena wabah, tapi masih terbuka peluang untuk menjadi pahlawan keluarga walau hanya dengan seulas senyum. Senyum yang menyejukkan dan penuh harapan kebaikan. Allah pun tak ingin melihat umat-Nya tenggelam dalam kesedihan.

Satu senyuman untuk kekuatan yang besar dalam bertahan selama pandemik ini. Senyuman yang akan menjadi tangis bahagia kala semua berakhir dan hidup kembali normal.

Yakinlah.

rumahmediagrup/hadiyatitriono

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.