Antologi Murah atau Mahal?

Iklan

Antologi Murah atau Mahal?

“Ikutan antologi, kok, mahal, ya? Nggak bisa gratis, Mbak?”

“Loh? Harus bayar untuk sejumlah buku kalau ikutan antologi itu? Baru tahu saya.”

“Nulis di antologi harus bayar dulu sebelum bukunya terbit? Jangan mau. Siapa tahu cuma tipu-tipu. Kan seharusnya akad jual beli itu ada uang ada barang.”

“Mau ikutan nulis di antologi, dong. Tapi saya nggak ada uang untuk bayar bukunya. Bisa ditalangi dulu?”

“Saya kemarin itu nulis antologi gratis lho, Mbak. Kenapa di sini harus bayar?”

“Nggak jadi ikutan, deh. Habisnya harus bayar.”

Fenomena yang banyak tergambar dari para peminat proyek antologi adalah sebagian dari mereka adalah orang-orang pemuja “gretongan” alias gratis. Ingin eksis sebagai penulis tapi tak mau keluar uang barang sepeser pun. Ingin langsung melejit menjadi penulis tenar, tetapi tak mau sabar berproses dengan banyak berlatih agar menghasilkan karya yang fenomenal.

Beberapa bahkan berkomentar beli buku antologi barang 3 – 4 eksemplar itu mahal, tetapi untuk hal-hal kurang penting lainnya sanggup menghabiskan dana jutaan. Sudah ingin gratis menerbitkan, tak mau berpromosi atau menjual buku karyanya sendiri saat sudah terbit, tetapi langsung menuntut fee saat tahu bukunya dipromosikan dan dijual oleh penerbit yang bersangkutan.

Adakah yang belum tahu kenapa menerbitkan buku antologi di indie harus bayar di awal?

Pertama. Untuk mencetak buku, mendesain cover, dan sebagainya, pastinya butuh dana, kan? Butuh tinta, kertas, kuota, listrik untuk menghidupkan peralatan mengedit dan segala sesuatunya. Semua butuh dibeli dan didapatkan pakai uang, bukan daun pisang apalagi daun tauge. Belum lagi yang ngurusin proses penerbitan buku butuh uang untuk anak istri alias dapur tetap mengepul. Nggak ada itu yang bekerja berdasarkan ikhlas Lillahi taala semata. Apakah anaknya Mas layouter yang menangis minta jajan mau mengerti saat diberi doa saja? Tentu tidak, saudara-saudara. Anak-anak itu seperti slogan rakyat ketika partai-partai berkampanye saat  pemilu “Kami butuh bukti bukan janji”. Dikasih uang atau jajanan dulu, baru berhenti menangis.

Kedua. Penulis di antologi itu kebanyakan bahkan sebagian besar didominasi oleh penulis pemula yang kualitas tulisannya “entah”. Kalau ada yang mau beli dalam jumlah banyak, itu ajaib banget, gaes. Sebab faktanya, PO kedua atau lanjutan jarang sekali yang menembus angka pemesanan 20 eksemplar. Ada yang pesan lebih dari 50 eksemplar, tetapi bukan untuk dijual melainkan untuk dibagi-bagikan secara gratis. Entah memang ingin berbagi tentang isi tulisannya, memamerkan atau memang sudah sadar sesadar-sadarnya bahwa tulisannya nggak bakalan laku kalau dijual dengan harga sepantasnya. Wallahu alam.

Ketiga. Sejatinya penerbit indie itu “hanya” bertugas memfasilitasi keinginan dan impian para penulis pemula yang ingin menerbitkan karyanya dalam bentuk buku, mau bagus atau tidak. Sebab faktanya, di tengah-tengah masyarakat masih berlaku seseorang itu dianggap keren dan pintar karena sudah menulis buku. Jadi bila ada calon kontributor menolak atau keberatan dengan kewajiban membayar di awal untuk harga buku sebelum dicetak, buat penerbit indie sebenarnya hal itu bukan masalah, sebab masih banyak penulis di luar sana yang bersedia membayar sesuai ketentuan bahkan berani memesan lebih dari ketentuan standar.

Keempat. Menerbitkan buku di indie dengan jumlah minimal satu hingga tiga buku sebenarnya sudah sangat murah. Bayangkan bila kita ingin menerbitkan buku dan dijual di toko buku. Maka kita harus mau mengeluarkan dana seharga minimal 1000 eksemplar buku. Uang dari mana coba buat emak-emak yang mengandalkan gaji suaminya atau mahasiswa yang masih mengandalkan uang saku dari orang tuanya? Kecuali suami para emak adalah pejabat yang gajinya puluhan juta per bulan dengan tanggungan anak hanya satu saja, mungkin bukan hal mustahil. Kalau perlu buka percetakan dan penerbitan sendiri saja sekalian.

Kelima. Ada penerbit indie yang mengiming-imingi gratisan. Mungkin di awal menawarkan gratis, tapi ujung-ujungnya pasti minta dibayar lagi. Sebab mana ada penerbit yang sengaja mendirikan penerbitan dengan tujuan untuk berbagi gratis terus-menerus tanpa memikirkan profit? Apalagi menerbitkan buku dari penulis yang belum punya “nama”. Tidak ada jaminan sama sekali bahwa kalaupun buku jadi diterbitkan akan langsung best seller atau booming saat penjualan. Memang ada juga penerbit indie yang memberi gratisan, tetapi biasanya di-support oleh pemerintah setempat yang mencanangkan program literasi di instansi.

Di balik semua perilaku dan tanggapan “ajaib” dari para calon penulis di proyek NUBAR, alhamdulillah masih banyak penulis yang open minded dan tetap bersikap profesional dengan terus mengikuti setiap tahap progress cetak buku antologi dari awal hingga terbit. Rela merogoh koceknya bahkan tak jarang sengaja menabung sejak jauh-jauh hari agar bisa ikut proyek antologi lagi dan lagi.

Tak lagi memandang sejumlah rupiah sebagai kendala dalam berkarya. Mereka rela berinvestasi dalam karya meski mungkin buku yang dihasilkannya masih sepi peminat. Sebab yang terpenting bukanlah materi semata, tetapi manfaat dari karya yang dihasilkan dan upaya setiap kali membuat karya. Memilih untuk sabar dan istikamah dalam berproses. Berlatih, berlatih, dan terus berlatih. Seraya tak lupa memanjatkan doa dan pengharapan bahwa Tuhanlah yang paling berhak menilai setiap usahanya. Bukan puja-puji manusia, bukan pula limpahan materi semata.

Tulisan ini dibuat bukan untuk menyudutkan pihak-pihak tertentu, tetapi fakta di lapangan yang banyak terjadi dan berbicara selama ini. Semua menunjukkan kualitas-kualitas seperti apakah yang ada dalam diri penulis di Indonesia pada umumnya.

Jadi, masihkah berpikir menulis antologi itu mahal?

***

Penulis: Rhea Ilham Nurjanah

Editor: Ilham Alfafa

Rumah Media Grup

8 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.