Agenda (Re)Kontruksi Diri Di Era Industri 4.0 (2)

Sumber gambar : http;//www.google.com

Agenda (Re)Kontruksi Diri Di Era Industri 4.0 (2)

Teknologi menjadi trending topic jika bicara soal industri 4.0, benarkah? Melalui big data bermunculan ide-ide yang egosentris. Pemikiran egosentris membawa munculnya karya-karya yang membunuh peran Tuhan. Padahal kita (manusia) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (lain), mengajak yang ma’ruf, mencegah yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Nah, sekarang dengan peran teknologi yang begitu luar biasa, maka menjadi serius untuk didiskusikan di mana peran Tuhan?, di mana peran manusia?

Bagaimana masa depan Tuhan? Bagaimana menguatkan pikiran, dan juga iman? Bahkan ada banyak pertanyaan jika semuanya dikendalikan oleh teknologi. Bahkan ada karya buku yang sudah menuliskan bagaimana berjuang menjadi “Tuhan”. Masa depan manusai apakah ada di tangan yang serba robotik ini?

Diskusinya kita mulai dari nilai-nilai yang dibawa oleh industri 4.0 ya. Banyaknya manusia mesin, yang dimaknai lahirnya manusia hanya wujudnya saja, namun kesehariannya sangat tergantung pada mesin teknologi tertentu, bahkan cara kerja otak sudah berjalan secara otomasi. Misalnya kita masuk ke swalayan, secara otomatis petugas layanan bilang “selamat belanja”, ini hanya contoh kecil saja. Pusat kesemestaan ada di tangan manusia dan mulai bermunculan pabrikasi model pemiliki modal yang berkuasa menggunakan teknologi (hutang melalui online, transaksi ekonomi melalui big data, dst). Nilai-nilai kemanusiaan dan naluri nurani juga semakin hilang, upload saja brow….nurani hilang saat upload sebuah kematian atau kecelakaan atau musibah atau peristiwa kemanusiaan. Innalillahi….astaghfirullah….

Banyak robot bermunculan tapi berwujud manusia, sudah tidak ada saling sapa. Jika kita masuk ke supermarket berbeda jika masuk ke pasar tradisional. Obrolan ringan menanyakan kabar masih di dengar, bukan hanya pembicaraan “ butuh apalagi bu?, minyak goreng lagi promo? Beli satu gratis satu? Dan lainnya, obrolan kabar dan saling sapa hangat masih dijumpai pada masyarakat pedesaan, yang masih jarang bertegur sapa melalui teknologi.

Kebiasaan berbagi juga semakin memudar. Dulu masih dijumpai makan bersama, ini artinya bukan makan dan duduk di tempat yang sama tetapi makan yang berbeda, namun betul-betul makan dalam wadah yang sama. kebersamaan yang semakin luntur, nilai-nilai berbagi akn semakin hilang. Manusia sudah lupa akan manfaatnya untuk manusia yang lain. Pikirannya hanya untuk teknologi. Di rumah, di kantor, di tempat tidur, bersama teman, bersama keluarga, bersama rekan kerja, bersama suami, bersama anak, bersama saudara, ada gadget yang tak pernah lupa ditinggalkan.

Lalu dampak normatif apa yang muncul? Bermunculan penguatan atas jiwa materialisme, digitalisasi (robotisasi) pada manusia, menekankan jiwa pragmatisme secara ekstrim, manusia akan kehilangan pegangan nilai yang ideal (keteladanan), perubahan nilai ( sangat ekstrim ?). Selanjutnya kehidupan manusia akan muncul rasa ketidakpastian (ketidakamanan, ketidaktenangan, kebimbangan) tentang masa depan manusia itu sendiri. Benarkah?

Jawabnya ada pada jiwa yang selalu tunduk pada ketenangan, pada dirimu sendiri.

Semoga bermanfaat

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.