Agenda (Re)Kontruksi Diri Di Era Industri 4.0 (3)

sumber gambar : http;/www.google.com

Agenda (Re)Kontruksi Diri Di Era Industri 4.0 (3)

Industri 4.0 dan segala konsekuensinya membawa pertanyaan baru. Bagaimana memahami realitas termasuk 4.0 memiliki nilai-nilai parsial, yaitu berpikir rasional material, surface, dan egoistik? Sebenarnya sesuai tidak dengan nilai-nilai pancasila? Pancasila mengingankan jiwa manusia yang berketuhanan, memiliki jiwa kemanusiaan (beradab), harmoni dalam persatuan, menjalin musyawarah mufakat, dan berkeadilan sosial.

Selanjutnya, kita (manusia) mau ke mana? Kita (manusia) seharusnya menyadari bahwa semua perilaku yang kita pratikkan dan yang kita lakukan membutuhkan nilai (values, bukan hanya ekonomi). Apa yang terjadi jika kita melalaikan dan tidak mengetahui atas apa nilai kita? Berarti harus ada aksi perubahan? Tidak lagi menjadi bebek-bebek peradaban, ngikut aja yang lagi ngetrend.

Perlukah melakukan (re) kontruksi diri? mengembalikan sesuatu ketempatnya yang semula ; kembali pada fitrah sejatinya manusia. (Kalau mau ) Kembalilah melalui memotivasi diri, menyentuh unsur terdalam dari sejatinya manusia melalui keberadaan industri 4.0, menghantarkan manusia menjadi pembelajar aktif dan kritis, semata-mata untuk niat memperbaiki diri secara olah rasa, olah pikir dan olah batin, membebaskan dari ketergantungan dirinya dari kungkungan modernisasi yang dapat menjauhkan dari peningkatan harkat (hakikat) dirinya sebagai manusia yang mengemban misi kekhalifahan manusia dari Sang Pencipta. Subnallah…..

Kembali (jika kita mau) melalui menguatkan pijakan nilai tentang arti pentingnya berbagi/adab melayani (dalam berbagai hal) dengan manusia (dan bahkan mahluk lain yang ada di lingkungan) sebagai aktualisasi kemanusiaan dan kasih sayang, mendorong kreativitas dan inovasi manusia sebagai penghargaan atas kehendak bebas manusia sebagai pemberian Sang Pencipta (ada akal sebagai pembeda mahkluk), menguatkan keahlian yang dimiliki sebagai sarana pengabdian dan bentuk harmonisasi hubungan antar manusia dan alam  yang harus dipelihara dengan baik. Dan meningkatkan kepekaan diri atas lingkungan dengan seluruh perubahannya tanpa meninggalkan sifat-sifat sejatinya manusia (melekat sifat baik Allah sebagai penciptaNya. Bisakah kita?

Jawabannya ada dalam keluhuran hati nurani, dalam diri kita.

Semoga bermanfaat

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.