Gagal Fokus

Gagal Fokus

Sebetulnya malas untuk keluar rumah dalam kondisi seperti sekarang ini. Apa boleh buat,  aku harus segera mentansfer sejumlah uang untuk pembelian buku online. 

Dengan percaya diri,  aku kirim bukti fisik transfer kepada no WA yang ditunjuk oleh pihak penjual buku.  Tanpa aku duga, si penerima bukti fisik transfer tersebut menginformasikan bahwa yang aku transfer itu  jumlahnya masih kurang. Yang aku pahami dari ucapannya itu,  ongkos kirimnya yang aku belum bayar.  Aku berpikir bahwa yang tadi ditransferkan baru untuk membayar bukunya.  “Bisa tidak sih kalau ongkos kirimnya dibayar di sini? ” Tanyaku kemudian. Yang ditanya menjawab dengan mengirim emotikon tertawa.  Aku menjadi semakin bingung. ” Apa lagi yang salah,” batinku.

“Yang tadi Ibu transfer itu baru untuk ongkirnya. Untuk bayar bukunya belum,” chat dari pihak penjual buku.

“Lho! Aku transfer sesuai dengan yang ditulis di daftar, kan?” Tanyaku.  Aku benar-benar tidak paham dengan apa yang dibicarakannya.

“Iya,  angka yang ditulis di bawah nama Ibu itu untuk ongkos kirim, sedangkan harga bukunya tertera di bagian paling bawah daftar,” paparnya.

“Waduh!  Salah jumlah dong! Gimana nih?” Tanyaku.

“Transfer lagi saja untuk uang bukunya,” jawabnya ringan.  

Jika bisa transfer dari rumah, tidak akan jadi masalah. Tinggal mengoperasikan gawai,  transferan langsung terkirim. Bukti transfernya juga langsung muncul di layar gawai.

Masalahnya, aku tidak menggunakan e-banking.  Setiap mau transfer,  ya harus ke ATM. Agak mending kalau ATM-nya dekat rumah. Lha… ini,  untuk tiba di ATM,  aku harus menempuh perjalanan sekitar lima belas menitan dengan kendaraan. Belum lagi terkendala ATM error atau kendala lainnya seperti yang kualami tadi pagi.  Harus bertandang dari satu ATM ke ATM lainnya.

Tadi,  setelah transfer, aku masih berdiri di depan mesin ATM, menunggu bukti transaksi keluar dari tempatnya.  Lama ditunggu,  ternyata tidak ada kertas keluar dari lubang bukti transaksi. Aku langsung panik,  maklum baru mengalami hal seperti itu. “Bagaimana caraku membuktikan bahwa aku sudah transfer jika bukti fisiknya tidak Ada? Harus transfer lagi?  Wah … wah, jangan sampe deh! Tekor dong,” kataku dalam hati.

Akhirnya aku bertanya pada satpam bank tersebut.  Pantas saja ditungguin ga keluar-keluar, ternyata kertasnya habis.

“Bagaimana nih Pak?  Saya kan perlu bukti itu ” rajukku.

“Ibu ke ATM depan rumah sakit,  lalu lakukan mini statement,” terang Pak Satpam.

“Bagaimana caranya,  Pak?” Aku mulai pusing.

Pak Satpam itu pun mempersilakanku masuk kembali ke ruang ATM. Di sana dia memanduku untuk melakukan mini statement.

“Coba Ibu masukkan ATM-nya! Klik Bahasa Indonesia lalu masukan pasword! Klik Mini Statement yang muncul di daftar sebelah kiri layar. Nanti akan keluar bukti transaksinya.”

Setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Satpam yang baik hati itu, aku pergi ke ATM yang ditunjukkannya. Setiba di ATM depan rumah sakit, dengan agak gemetaran, aku melakukan langkah demi langkah yang tadi dijelaskan Pak Satpam. Syukurlah, berhasil.

Sebelum pulang,  aku mampir ke supermarket, sekalian belanja.
Pas mau pulang,  hujan turun lumayan lebat.  Apa boleh buat,  aku  harus segera pulang.  Pekerjaan rumah sudah menungguku.

Dalam kondisi labil akibat corona seperti sekarang ini.  Agak ketar-ketir juga jika bepergian. Hampir di tiap jalan masuk desa atau perempatan dijaga petugas. Kondisi semacam itu tentu saja membuatku tidak nyaman.  Seakan-akan corona mengejar ke mana pun atau mencegat di mana pun. Belum lagi hujan yang sering kali turun tiba-tiba, membuatku semakin sungkan keluar rumah. Paranoid juga akhirnya.

Untunglah sore harinya,  suamiku berniat ke pom bensin. Meskipun malu,  aku minta tolong ditransferkan seharga buku yang ternyata nominalnya jauh di bawah ongkir.

Geli sendiri deh jadinya. Bagaimana barang dikirim jika belum dibayari.  Agak mending jika yang sudah ditransferkan itu untuk bayar barangnya. Ongkirnya bisa dibayar di sini. Lha ini…  Transfer ongkir,  barangnya malah belum.  Masa pengantar paket datang ke tempatku tanpa membawa buku yang kupesan.  Hemmmm…  Harusnya aku lebih teliti membaca pesan orang agar tidak salah paham. Selain itu, sikap tenang saat menghadapi masalah akan sangat membantu kerja kita menjadi lebih baik. Tadi aku terlalu terburu-buru menyimpulkan sehingga panik sendiri. Efek kurang cairan nih.  ***

rumahmediagrup/sinur

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.