Curhat Guru di Covid-19

Assalammualaikum

Ngapunten abah Hery pengayom kami ….
Mau laporan kalian curhat.
Abah, saya berusaha terus bersama guru kami yang gigih berjuang di medan pendidikan Indonesia. Yudanda (SDN JOGOYUDAN 02) tidak boleh lenyap melayang seperti SDN Jogoyudan 3 dan 4.
Yudanda harus ada dalam sejarah, mengapa abah? Karena guru kami adalah guru full potensi dengan keterbatasan energi. Insyallah ini banyak di sekolah besar lain. Namun yang perlu diberi garis bawahi adalah ini sekolah kecil, nyelempit, 50% ekonomi lemah. Sekolah lain senasib insyallah sehati.

Aspek-aspek charging terus kami lakukan dan tidak sedikit upaya itu mendatangkan gejolak, karena sebuah perubahan sungguh suatu pekerjaan yang tidak ringan. Namun sungguh Allah cinta kepada umatnya, para pendidik bukan menurun energinya melihat jumlah siswa di kelas 1 (itu pun hampir tidak mendaftar semua), tetapi kami berpacu. Bergerak, berupaya di banyak celah dalam persaingan yang begitu ketat. Niat kami satu, meng-install jiwa mereka melalui dunia pendidikan.

Sementara kami memang tidak begitu bergerak di perolehan banyak piala, seperti sekolah-sekolah lain yang bisa mendulang piala di berbagai macam lomba. Ijinkan kami berbenah diri. Kami menyadari memperbaiki bukanlah hal yang mudah, kami harus merubah sistem, sistem yang bisa dilaksanakan secara terpadu. Alhamdulillah guru-guru semakin meningkat energinya siap berdiri mengadakan berbagai inisiatif, nano-nano sesuai potensi dan ide mereka. Sungguh bisa dikatakan di sini pimpinan bukanlah apa-apa, yang patut diberikan penghargaan adalah guru, karena gurulah yang berjiwa _ mengendalikan mereka _ para siswa, memantau mereka agar rajin belajar, membimbing mereka, sabar dan tabah menghadapi segala sesuatu. Terutama jika ada gejolak di masyarakat. Kerjasama mereka amat solid.

Bagi saya GURULAH YANG PATUT DISEBUT PEJUANG DI GARDA DEPAN.

Mengapa?
Lihatlah pada musim libur Covid-19. Mereka mengalami banyak kendala. Memang disampaikan oleh Mas menteri Nadiem, bahwa tidak perlu memaksakan kondisi yang tidak bisa diberlakukan dengan cara yang sama. Ngapunten Abah, Mas menteri bisa berkata demikian, tetapi guru tidak bisa. Airmata guru tak bisa disebut. Guru berupaya agar semua siswanya menerima ilmu yang sama dalam arti setara, atau bahkan bisa mendapatkan lebih dari sekedar yang sekarang diberikan oleh gurunya.

Dan itu benar adanya. Mereka antusias belajar daring melalui WhatsApp, Vidcall, Google form, interaksi Facebook dan belajar tema dengan orang tua dengan beberapa kompetensi inti 4 yaitu keterampilan. Mereka laporkan juga berupa video proses suatu keterampilan. Masya Allah… Terimakasih telah memberikan orangtua dengan dukungan totalitas akan pembelajaran daring. Berilah rejeki berlimpah kepada mereka.

Insyaallah pesan mas menteri di surat edaran nomer 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat penyebaran coronavirus disease (Covid-19) kami laksanakan, jika memungkinkan memberi pulsa data buat mereka. Untuk sementara masih untuk para pendidik yang 70 % GHS.

Abah, inilah piala kami yang sesungguhnya. Piala cita-cita dan harapan, piala ketulusan, piala semangat, piala cinta kepada anak didiknya, piala kerja keras menyingkirkan aral menuju guru era baru, era 4.0 milenial digital menjadi portal pendidikan di tempat sempit namun di ruang imam yang luas.

Jogoyudan, 08 Maret 2020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.