Menunggu Angan

Aku di sini menunggu.  Masih berharap ada suatu keajaiban. Sebuah pertemuan yang tak terduga.  Tapi…ah,  semua itu hanya angan yang tak mungkin terjadi.  Kamu tlah pergi berlalu dariku tanpa kata perpisahan. Namun mengapa aku masih berharap sebuah petemuan?

       Beberapa hari ini hatiku begitu resah. Tiap kali dalam kesendirian ingin rasanya ku pergi menenangkan diri. Tapi harus ke mana?  Aku tak tahu. Selama ini aku tak pernah ke mana-mana. Tiap hari rutinitasku hanya kantor dan rumah. Tak ada kegiatan lain selain itu. Hanya kadang-kadang kalau lagi mood, hari libur kugunakan untuk mengisi hobiku. Membuat baju. Ya, jika ada bahannya atau di benakku sedang ada model baju yang kuinginkan aku langsung ingin membuatnya. Walau sebenarnya ingin sekali jalan-jalan. Tapi kalau jalan sendiri malah bingung. Aku tak suka jalan tanpa tujuan. Apalagi sendirian.

       Seperti yang kulakukan hari ini. Tiba-tiba saja aku ingin sekali jalan-jalan. Tanpa tujuan yang jelas aku pergi saja ke mall. Ku lihat-lihat barang yang ada di sana tapi tak ada yang menarik. Daripada tanpa tujuan aku masuk saja ke toko buku. Ku lihat-lihat buku di sana barangkali ada buku yang membuat hatiku tertarik. Setelah menentukan pilihan pada dua buah buku, langsung kuambil dan membayarnya di kasir. Kemudian aku langsung ke luar dari toko buku. Aku belum ingin pulang. Perutku terasa lapar. Aku masuk dulu ke cafe dan pesan makanan.  Sambil menunggu pesananku. Aku baca-baca buku yang tadi ku beli. Ceritanya lumayan menarik “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono. Mengisahkan tentang kisah cinta antara seorang dosen muda dengan kekasihnya yang berbeda suku.

       Baru beberapa halaman buku itu kubaca. Pesananku tiba. Aku tak buru-buru menyantapnya. Kupandangi makanan itu. Ah,  seandainya bersama kamu.

       “Ayo dong makan”! Katanya menyuruhku

       “Iya”. Kulihat nasi di piringnya udah habis.

       “Habiskan dong”perintahnya padaku.

       “Kamu mau nambah lagi? Aku pesenin lagi ya” Tanyaku.

       “Ga usah”. Jawabnya.

       “Atau punyaku ini habisin. Bersih kok. Aku ga acak-acak ngambilnya. Aku udah kenyang”. Aku menawarkan makananku.

       “Iya deh,  aku ga jijik kok. Kamu yang pindahin ke sini tapi cuma nasinya doang”. Tak kusangka ia menjawab seperti itu.

       Tiba-tiba pesanan minumanku datang. Lamunanku menjadi buyar. Kulihat kursi di depanku kosong. Mengapa aku masih mengingat peristiwa itu? Sepertinya aku masih mengharapkan bisa makan bareng bersamanya saat ini. Tapi ternyata semua hanya mimpiku saja. Entah kapan kita bisa bertemu lagi. Mungkin kamu sudah melupakanku. Setelah kau menghilang tanpa sepatah kata. Tanpa alasan yang jelas kau pergi meninggalkanku. Namun aku masih berharap sama kamu. Dan aku merasa yakin bahwa kamu juga masih mengingatku seperti yang kurasakan saat ini.

       Segera kusantap saja makananku itu sendirian meski ingatanku masih terbayang padanya. Setelah selesai aku segera beranjak dari tempat itu. Dan berharap ada pertemuan tak terduga di sana. Namun semua berlalu begitu saja.

Foto: pribadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.