Kategori
cerita bersambung Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas

Sang Bidadari (2)

Sang Bidadari 2

Naya disambut dengan hangat oleh sekretaris Aditya. Ia dituntun masuk menuju sebuah ruangan yang berukuran cukup besar. Tampak tulisan di depan pintu, “CEO”.

Naya mencoba menata perasaannya yang mulai tak menentu. Meski sering kali ia berhadapan dengan relasi bisnis ayahnya, tapi ini pertama kalinya ia menghadap seorang pimpinan perusahaan, sekaligus pengusaha sukses yang hendak dilobinya untuk menjadi pembicara.

Tampak sosok seorang lelaki tengah berdiri tegap menghadap jendela.

“Maaf Pak, Bu Kanaya sudah datang,” ucap sekretaris Aditya memberitahu.

Lelaki itu membalikkan badannya. Naya terkesiap. Ketampanan lelaki itu mampu meluruhkan hatinya sebagai perempuan biasa.

Naya menundukkan pandangannya. Beristigfar sebanyak mungkin agar ia tak terbuai dengan pesona lelaki muda itu.

Postur tubuhnya tinggi tegap, tatanan rambutnya terlihat rapi dengan gaya pompadour, wajahnya yang khas turki kian menarik, dibalut dengan sikap dinginnya.

Rupa fisiknya yang sempurna, dilengkapi dengan setelan jas lengkap semakin menambah ketampanannya. Naya tak kuasa menatap lelaki itu lebih lama.

“Tinggalkan kami berdua,” ucap suara bariton itu pada sekretarisnya.

Sang sekretaris pun memohon diri dan berlalu pergi. Tinggal mereka berdua di ruangan yang didesain dengan nuansa mewah minimalis itu.

Naya semakin salah tingkah, tapi ia mencoba mengendalikan diri dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa dalam hatinya.

“Silakan duduk,” ucap Aditya seraya mengisyaratkan tangannya pada kursi sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Naya mengikuti langkah Aditya. Ia duduk tepat di hadapan lelaki yang masih terlihat dingin itu.

“Saya tak menyangka, jika ibu dosen Kanaya Zivana ternyata secantik ini,” puji Aditya membuat Naya tersipu.

“Sebentar, saya pesankan dulu minuman untuk Anda,” katanya, hendak berdiri.

“Tak usah repot-repot, Pak, kebetulan, saya sedang puasa,” ucap Naya segera.

“Oh, maaf,” ucap Aditya menyesal.

Naya hanya membalas dengan senyuman.

“Anda dosen Pendidikan Agama Islam?” tanya Aditya seraya menata posisi duduknya, mulai serius.

Naya mengiyakan sembari mengangguk.

“Saya salut, di usia muda, Anda sudah menjadi dosen.”

“Justru saya yang salut pada Anda, di usia muda seperti ini sudah menjadi pengusaha sukses, bahkan bukan di satu bidang saja, tapi di beberapa bidang sekaligus.”

“Saya menjalani proses yang panjang untuk sampai di sini. Kebetulan, kalau perusahaan properti dan hotel adalah milik Ayah saya, jadi tinggal dilanjutkan saja,” ucapnya merendah.

“Anda benar-benar contoh nyata bagi generasi muda untuk bisa sesukses Anda sekarang.”

“Proses untuk sampai di sini, itu yang harus menjadi kuncinya.”

“Ya, itu saya setuju.”

“Jadi, apa yang bisa saya bantu, Bu Kanaya?” tanya Aditya langsung ke pokok permasalahannya.

Naya menggeser posisi duduknya. Mencoba menata senyaman mungkin agar ia leluasa untuk berbicara.

“Seperti yang sudah disampaikan dalam e-mail yang dikirimkan minggu lalu, kampus kami hendak mengadakan seminar bisnis berbasis islam. Maka dari itu, kami meminta Pak Aditya untuk menjadi salah satu pembicara kami, melihat Bapak sebagai pengusaha muda yang sukses dan selalu mengingatkan akan kunci kesuksesan itu terletak pada sedekah.”

“Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Bukankah sudah jelas dalam Al-Qur’an, bahwa sebagian dari harta yang kita punya, terdapat hak anak yatim dan duafa.”

“Saya kagum dengan pemikiran Anda. Memang Allah akan menjamin bagi setiap hamba-Nya yang senantiasa bersedekah, dengan balasan yang berlipat ganda.”

“Saya hanya berpedoman pada keyakinan itu, karena saya sendiri sudah merasakan manfaatnya yang luar biasa.”

“Saya juga yakin, jika kita hanya berpedoman pada Al-Qur’an dan hadits, niscaya tak akan pernah kita merasa kekurangan.”

“Sepertinya Anda paham betul tentang Al-Qur’an dan hadits ya?”

“Saya sedang belajar sedikit demi sedikit, Pak. Kebetulan sejak kecil, orang tua saya sudah terbiasa mengajarkan tentang Al-Qur’an beserta pemahamannya. Dan hal itu, yang selalu menjadi pedoman saya dalam menjalani hidup.”

“Luar biasa. Ayah saya juga pernah bilang, jika kita hidup berpedoman pada ayat suci Al-Qur’an, maka niscaya hidup kita akan selalu dalam ketenangan.”

“Itu betul sekali, Pak.”

“Sepertinya, lain waktu kita bisa banyak membahas mengenai hal ini ya, Bu Kanaya?”

“Insyaa Allah.”

Hening selama beberapa saat. Aditya tampak memerhatikan Kanaya. Pandangan mereka bertemu, tatapan mereka terpaku sesaat, kemudian terurai dengan senyuman.

“Jadi, bagaimana dengan permintaan kami itu, Pak?” tanya Kanaya memberanikan diri, memulai kembali obrolan yang sempat tertunda.

“Jika penanggung jawabnya seperti Bu Kanaya, maka tak ada alasan untuk saya menolak menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan kampus Anda. Saya bersedia.”

Kanaya tersenyum puas.

“Terima kasih banyak, Pak Aditya.”

“Sama-sama, Bu Kanaya,” balas Aditya ikut tersenyum.

Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Naya mohon pamit. Aditya mengantar Naya hingga ke parkiran, tapi Naya menolak diantar oleh sopir pribadi Aditya.

Tanpa memakasa, Aditya mengantarkan Naya hingga naik ke dalam taxi.

**

Wajah tampan yang memikat, gaya bicara yang luwes dan kharisma yang memesona dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu, telah memukau seluruh mahasiswa yang menghadiri seminar bisnis pagi itu.

Tampaknya, seluruh mahasiswa perempuan, begitu terpesona dengan ketampanan dan kemapanan yang dimiliki Aditya. Ia adalah sosok lelaki idaman setiap perempuan. Saleh, tampan, kaya, berpendidikan, pemilik perusahaan ternama dan berkharisma, merupakan kesempurnaan yang jarang dimiliki seorang lelaki.

Bahkan, mahasiswa laki-laki pun begitu mengagumi Aditya dengan kesempurnaannya itu. Aditya hanya tersenyum kecil menanggapi kekaguman para mahasiswa di sesi coffee break.

Naya pun diam-diam mengagumi lelaki itu. Tapi ia tak ingin terlalu banyak berharap. Sebagai seorang perempuan biasa, Naya menyadari, dirinya mungkin tak begitu berarti di mata Aditya yang seorang pengusaha sukses. Begitu banyak perempuan yang pastinya sudah mengantri untuk menjadi pusat perhatian lelaki yang ternyata pandai mengaji itu.

Naya hanya berupaya untuk terlihat baik sebagai seorang perempuan yang menjaga martabatnya di depan Aditya. Ia tak mau terlihat salah tingkah meski hatinya bergetar hebat kala di dekat Aditya. Ia tak ingin tampak gugup meski kakinya tiba-tiba menjadi lemas saat bersama lelaki itu.

Aditya memang sepertinya lelaki yang tak begitu suka dipuja. Ia lebih terlihat dingin. Mungkin itulah yang membuat para perempuan semakin mengaguminya. Lelaki sempurna nan bersahaja. Tak pernah menyombongkan apa yang sudah dicapai dan dimilikinya saat ini.

Naya melepas kepergian Aditya dengan senyum manisnya. Acara seminar telah berakhir siang itu. Dengan mobilnya, Aditya meninggalkan Naya tanpa basa-basi. Lelaki itu tampak terburu-buru untuk menghadiri rapat dengan rekan bisnisnya selepas Zuhur.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Kategori
cerita bersambung Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas

Sang Bidadari (1)

Sang Bidadari (1)

Semburat senyuman terlukis di bibirnya yang merah meski tanpa pulasan lipstik. Pipinya merona walau tak disapu blash on, alisnya tebal tanpa goresan pensil, bulu matanya lentik alami dan wajahnya begitu bercahaya.

Kerudung panjangnya tergerai menutupi sebagian pakaian gamisnya yang menjuntai indah. Dominasi warna biru muda semakin menambah kesan kecantikannya.

Gadis itu bernama Kanaya Zivana yang artinya perempuan pemenang.

Sejak kecil, Naya, begitu ia biasa disapa. Selalu menjadi juara di kelasnya. Ia anak yang cerdas, prestasi dalam bidang akademik sudah tak terhitung lagi. Berjejer piala hasil berbagai kejuaraan di lemari kaca sekolahnya.

Tak hanya itu, ia pun pandai melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan tartil yang baik dan suara yang merdu.

Sejak usia empat tahun, Naya sudah dimasukkan ke sekolah khusus tahfidz oleh kedua orang tua angkatnya.

Ya, Naya adalah anak yang diadopsi oleh keluarga Ali Hasan dan Nurul, istrinya. Nurul tak bisa memiliki keturunan, karena ia dinyatakan mandul oleh dokter.

Hanya dengan cara mengadopsi anak, membuat hidup mereka sempurna. Naya, bayi mungil yang masih berumur dua bulan itu, diambilnya dari salah satu panti asuhan di kota Bogor, untuk dijadikannya pelengkap kehidupan rumah tangga mereka.

Naya kecil tumbuh menjadi gadis cantik dan periang. Kecerdasannya mampu membuat orang-orang takjub. Tak ada yang menyangka jika ia adalah anak adopsi. Secara lahir, wajah Naya mirip dengan sang ibu, sementara kecerdasannya, sama persis dengan ayahnya.

Seiring waktu, Naya kecil telah menjelma menjadi gadis cantik yang memegang teguh prinsip dalam hidupnya. Ia tumbuh menjadi perempuan yang salehah, berhati lembut, penyayang dan sangat menghormati orang tua.

Naya tak pernah membantah apa yang dikatakan kedua orang tuanya. Baginya, apa yang diucapkan ayah dan ibunya adalah titah yang harus ia jalankan dengan penuh keikhlasan.

Itulah sebabnya, kedua orang tuanya begitu menyayangi Naya. Bagi mereka, Naya merupakan anugerah terindah yang dititipkan Allah untuk menjadi pelengkap kebahagiaan.

Naya pun bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya, mengajarkannya akhlak dan budi pekerti yang baik, sehingga ia menjelma menjadi perempuan yang beraklak mulia.

Selepas menempuh program studi S1 pendidikan agama islam di salah satu universitas di Jogjakarta, Naya melanjutkan S2 di Brunei Darussalam. Semua pendidikan itu Naya tempuh dengan jalur beasiswa yang diraihnya.

Selepas S2, Naya diminta untuk menjadi dosen di salah satu universitas di Jakarta.

Meski banyak relasi bisnis ayahnya yang seorang pengusaha travel haji dan umroh, tapi Naya tak pernah memanfaatkan itu sebagai ajang aji mumpung untuk mendapatkan pekerjaan. Sejak kecil, Naya memang bercita-cita menjadi guru.

Sebagai seorang dosen, kegiatan Naya tak hanya mengisi mata kuliah saja, kegiatan di luar itu yang berhubungan dengan keagamaan dan sosial pun Naya ikuti, untuk menambah pengetahuan dan menjalin silaturahmi dengan sesama muslim.

Maka tak heran jika Naya adalah sosok perempuan yang disegani, supel, ramah dan berjiwa sosial tinggi.

**

“Assalammualaikum,” sapa seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan dosen.

“Waalaikummussalam,” jawab Naya menoleh.

Seorang bapak berusia hampir setengah abad itu tersenyum. Naya yang kebetulan hanya sendirian di ruangan itu kemudian menghampiri sang bapak.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Naya menatap bapak tua itu.

Wajah ramah dan senyuman Naya mampu membuat bapak tua itu terdiam sesaat.

“Maaf Bu Kanaya, saya Rudi, sopir pribadinya Pak Aditya Wibisana. Saya diminta pak Aditya kemari untuk menjemput Bu Kanaya.”

Naya mencoba mengingat nama Aditya Wibisana. Naya teringat, dua hari yang lalu, sekretarisnya menelepon Naya. Pimpinan Perusahaan Wibisana Corporation itu meminta Naya untuk bertemu di kantornya.

Aditya Wibisana adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Bisnisnya bukan hanya di bidang periklanan saja. Properti dan hotel merupakan bagian dari bisnis yang digelutinya.

Oleh sebab itu, para mahasiswa menginginkannya untuk jadi pembicara sebagai salah satu pengusaha muda yang sukses dalam kegiatan seminar kampus.

Naya sebagai penanggung jawab acara diminta oleh mahasiswa untuk mewakili mereka, meminta Aditya Wibisana, agar ia mau menjadi pembicara.

Hari ini, adalah waktu yang dijanjikan sekretaris Aditya untuk mereka bisa bertemu. Naya tak menyangka jika sopir pribadinya akan menjemputnya di kampus.

“Jika Bu Naya sudah siap, bisa kita berangkat sekarang?” tanya pak Rudi membuyarkan lamunan Naya.

Seketika Naya tersadar dan meminta pak Rudi untuk menunggunya sebentar. Kebetulan jam mata kuliahnya sudah selesai hari ini. Naya berbalik, berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil tasnya di atas meja.

“Mari kita berangkat sekarang, Pak,” ajak Naya sesaat setelah berada di hadapan pak Rudi.

Pak Rudi mempersilakan Naya untuk jalan terlebih dulu. Dengan anggun, Naya berjalan menuju parkiran.

Sampai di sana, Pak Rudi setengah berlari menghampiri mobil Mercedes Benz S-Class berwarna silver. Ia membukakan pintu belakang dan mempersilakan Naya masuk ke dalamnya.

Naya agak canggung mendapat perlakuan seperti itu. Meski orang tuanya pun dari keluarga berada, tapi ia tak pernah mau diperlakukan istimewa oleh sopir pribadi ayahnya.

Selama dalam perjalanan menuju perusahaan Aditya, Naya hanya terdiam. Sesekali bibirnya melantunkan ayat suci yang sudah berkali-kali dihapalnya.

Mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota yang terik dan macet.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Kategori
Non Fiksi Opini

Sekolahku sepi

Keadaan sekolahku sepi sejak penyebaran covid.19

Sekolahku sepi… Guru dan murid belajar kelas PJJ (Pelajaran Jarak Jauh /Daring). Selama liburan sekolah guru dan mirid tetap melaksanakan tugssnya seperti biasa, hanya berbentuk kelas daring (online). Apabila guru disebut makan gajih buta. Ini fakta dan bukti yg kulakukan setiap hari di rumah.

Tugas-tugas yg diberikan kpd murid-murid diperiksa krn rumahku dekat dg sekolah. Sehingga sangat mudah untuk mengumpulkan tugas2nya. Selain belajar materi yaitu Tema 7 +8 ditambah pola pembiasaan yg dilakukan murid di rumah masing-masing.

Kumpulan buku kelas 2 SD

Apalagi ada info tidak akan diadakan ulangan kenaikan kelas. Otomatis guru-guru menggunakan nilai sehari-hari ditambah ulangan harian. Semangat untuk mengerjakan rapot dengan aplikasi rapot yg ada. Demi kepancaran adm semua adm dibawa ke rumah…Semoga penyebaran covid. 19 cepat berakhir dan kita bisa belajar lagi murid2ku, Aamiin…

Kumpulan Administrasi kelas 1 & 2 kelengkapan data
untuk mengisi rapot semester 2 Tahun Pelajaran 2019_2020

Rumahmedia/Sri Yamini_Bandung/Non fiksi_Opini

Kategori
Non Fiksi Opini

Pola pembiasaan pejuang cilik kelas daring

Video kegiatan murid kelas 1 & 2 SD sedang melaksanakan sholat

Alhamdulillah… Kegiatan Kelas Daring dengan tema “Kegiatan melaksanakan sholat sendiri/berjamaah bersama keluarga”. Pesertanya adalah murid kelas 1 & 2 SD adapun sholat yang dikerjakan yaitu :
1. Sholat Subuh

2.Sholat Dhuhur

3.Sholat Asyar

4.Sholat Magrib

5.Sholat Isya

6.Sholat sunat Dhuha

Berbagai gaya yg mereka lakukan ada yg sholat sendiri, sholat bersama ayah, ibu, kakak, adik. Sungguh luar biasa. Semoga pola pembiasaan ini menerap dalam kehidupan setelah dewasa. Bukan hanya ada tugas dari guru saja. Semoga kita dalam lindungan dari Allah Subhanawataala. Covid. 19 cepat berlalu sehingga murid dan guru bisa belajar lagi di sekolah. Aamiin Ya Robalalamin…

Rumahmedia/Sri Yamini_Bandung/Non fiksi_Opini

Kategori
Artikel Latihan Menulis Komunitas

Tips Mengkonsumsi Kafein Supaya Sehat

Tips Mengkonsumsi Kafein Supaya Sehat

Banyak orang mengira bahwa kafein yang terdapat pada kopi atau teh hanyalah menjadi sumber penyakit. Ada kepercayaan di masyarakat umum bahwa mengkonsumsi kafein bisa menyebabkan beberapa penyakit. Padahal kafein merupakan antioksidan yang sangat ampuh. Jika dikonsumsi dengan takaran yang benar kafein memiliki banyak sekali manfaat.

Bennet Alan Weinberg dan Boni K. Bealer, seorang peneliti di Universitas Temple Amerika Serikat mengungkapkan dalam buku mereka The Miracle of Caffein beberapa manfaat kafein adalah sebagai penenang dan bisa mengatasi jet lag, untuk media relaksasi dan meditasi, mengasah pikiran, melejitkan kreatifitas, membangun emosi positif, meningkatkan keterampilan atletik, menurunkan berat badan, dan memiliki kandungan zat untuk awet muda.

Manfaat yang disebutkan di atas bisa dicapai dengan maksimal apabila kafein dikonsumsi dalam takaran yang pas dan tidak berlebihan. Takaran yang dianjurkan dalam sehari adalah tidak melebihi 500 sampai 600 mg kafein atau setara dengan 3-4 cangkir kopi dengan ukuran sekitar 180 ml. Anda masih bisa mengkonsumsi lebih dari ini dengan catatan tubuh anda masih bisa merespon baik. Karena respon kafein pada setiap orang berbeda-beda. Dan ketika anda merasa tubuh tidak nyaman, itu berarti kafein harian yang anda konsumsi terlalu banyak, sehingga anda bisa mengurangi dosisnya.

Kandungan kafein yang terdapat pada makanan atau minuman berbeda-beda. Kopi arabica memiliki kandungan kafein lebih sedikitdaripada kopi robusta. Dan teh memiliki kandungan kafein yang lebih rendah lagi. Makanan lain yang juga mengandung kafein adalah coklat.

rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

Referensi. The Miracle of Caffein

Bennet Alan Weinberg n Bonnie K Bealer

Kategori
cerita bersambung Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi

Obrolan Petang – Bagian 2

Obrolan Petang – Bagian 2

Seperti biasa, setelah mengurusi tanaman di halaman rumahnya, Aki Rahmat duduk santai di teras rumah sambil menikmati segarnya udara sore. Berkali-kali dia menoleh ke arah  rumah Mang Kardin. Rumah mereka memang bersebelahan. Rumah Mang Kardin berada di samping kanan rumah Aki Rahmat. Kedua bertetangga itu biasa saling mengunjungi. Sebetulnya, belum genap setahun Aki Rahmat menetap di kampung itu. Dia dulu seorang pejabat teras salah satu BUMN di ibu kota. Setelah pensiun, dia kembali ke kampung halamannya dan menetap di rumah yang sengaja dia bangun di atas tanah warisan dari ayahnya.

 Aki Rahmat adalah sosok pria tua bersahaja. Meskipun jarang keluar rumah, tapi di kampung barunya itu, dia dikenal warga sebagai dermawan. Begitu juga dengan istrinya, yang dikenal dengan panggilan Ambu. Kedua suami istri itu disukai para tetangganya. Di antara semua tetangganya itu, Mang Kardinlah yang paling sering mengobrol dengan Aki Rahmat. Selain karena rumahnya yang memang bersebelahan, kedua laki-laki itu sama-sama suka mengobrol.

“Ke mana ya Mang Kardin? Tumben sore begini tidak terlihat batang hidungnya?” Batin Aki Rahmat. Diambilnya gawai yang selalu berada di dekatnya. “Untung ada benda kecil ini, jadi aku bisa lihat kabar terkini. Jika  tidak ada ini, aku harus terus nongkrong di depan televisi,” gumamnya. Di kampung itu memang sulit mengakses surat kabar. Makanya, Aki Rahmat selalu mencari berita terkini di gawainya. Dia tidak terlalu suka berada lama-lama di depan televisi.  “TVRI sulit diakses di sini,” keluhnya suatu ketika. Memang ada juga beberapa chanel televisi swasta yang suka dia tonton. Tetapi itu pada acara tertentu saja yang memang dia suka. Acara-acara yang membuka wawasan tentunya. Selain alasan itu, karena televisi di rumahnya hanya ada satu, sementara Ambu lebih mendominasi untuk memegang kendali remot, maka Aki Rahmat memilih mengalah. “Biarlah, si Ambu dapat hiburan gratis dengan sinetron atau film-film impor kesukaannya,” kilahnya suatu ketika.

Hampir setengah enam petang saat Mang Kardin menghampiri Aki Rahmat. Seperti biasanya, kedua sahabat itu langsung larut dalam obrolan tentang berita terkini, masih sekitar corona.

“Dari mana saja, Mang? Baru kelihatan,” tanya Aki Rahmat.

“Bantu-bantu di rumah Jana, adik bungsu saya di desa sebelah,” jawab Mang Kardin.

“Memangnya Mamang bantu apa di Mang Jana?” Tanya Aki Rahmat penasaran.

“Besok, Jana mau menikahkan anaknya. Jadi tadi saya bantu siap-siap. Meskipun tidak digelar seperti rencana semula, tetap saja perlu persiapan.” Mang Kardin menarik nafas panjang.

“Ijab kabulnya di rumah atau di KUA, Mang?”

“Di KUA, Ki. Yang hadirnya juga dibatasi. Paling banyak sepuluh orang. Perlu waktu lama untuk menentukan siapa saja yang akan hadir. Semua keluarga mau menghadiri akadnya. Akhirnya, diputuskan hanya ibu-bapak dan kakak-kaka pengantin saja yang ikut ke KUA,” suara Mang Kardin agak tercekat.

“Apa boleh  buat, Mang. Dalam kondisi  seperti sekarang ini, kita harus ikuti imbauan pemerintah. Semua aturan yang dibuat, tentunya untuk kebaikan kita juga. Yang penting, kedua calon pengantin bisa sah menjadi suami istri. Sah menurut agama maupun negara. Kalaupun mau menghelat pesta, nanti saja setelah kondisi membaik.” Aki Rahmat mencoba mengurangi rasa kecewa Mang Kardin.

“Iya, Ki. Yang mau nikah kan anak bungsu. Semula akan menggelar pesta meriah. Tapi kondisi sekarang tidak diperbolehkan untuk itu. Untungnya calon mempelai prianya sama-sama penduduk sini. Coba kalau orang jauh, mungkin masalahnya akan lebih pelik lagi.”

Hening sejenak.

“Tradisi di kampung kita ini, selain lebaran, sanak keluarga yang merantau akan mudik jika ada keluarga yang menggelar hajat perikahan. Jadi, saat-saat seperti itulah kami bisa berkumpul dengan semua keluarga besar. Sayangnya, kali ini kerabat yang merantau terhalang corona sehingga tidak bisa berkumpul di rumah hajat.” Mang Kardin masih terlihat kesal.  

“Kita harus berlapang dada menghadapi semua ini. Janganlah kita menyalahkan keadaan. Coba saja pikir, siapa coba yang mau ada dalam kondisi seperti sekarang. Masih beruntung kita berada di kampung yang masih bersih dari wabah corona. Di sini, kita berupaya agar jangan sampai tertular. Sementara untuk saudara-saudara kita yang dinyatakan positif terjangkit, Mamang bisa bayangkan betapa mnderitanya mereka. Bukan hanya karena harus diisolasi dan dirawat intensif, tapi juga karena masyarakat akan berpikir negatif tentang mereka. Belum lagi jika di antara pasien korban corona itu meninggal dunia. Mamang pernah dengar juga kan ada penolakan dari sebagian warga terhadap jenazah yang akan dimakamkan di wilayah mereka?” Aki Rahmat terdiam sejenak. Sementara itu Mang Kardin masih terlihat mengangguk-angguk.

“Mamang percaya kan, bahwa semua yang terjadi itu sudah digariskan yang Maha Kuasa?” Sambungnya.

“Iya, Mamang percaya.” Jawab Mang Kardin singkat.

“Sekaranglah saatnya kita bersabar sambil terus menelisik diri. Mengintrospeksi diri, jangan-jangan semua yang menimpa kita kali ini karena ulah manusia sendiri. Maksud saya, mungkin ini merupakan teguran dari Yang Mahakuasa. Atau setidaknya, Tuhan ingin melihat sebatas apa kita bisa bersabar terhadap kondisi yang tidak menyenangkan ini. Emm… azan magrib tuh Mang. Kita keasyikan mengobrol sampai tidak sadar waktu berlalu begitu cepat. Kita sambung lagi besok Mang.” Aki Rahmat menutup obrolannya.

Setelah mengucapkan terima kasih, Mang Kardin pamit pulang. ***

#RMG_obrolanpetang02_sinur

rumahmediagrup/sinur

Kategori
Artikel Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Non Fiksi

Kriteria Istri Idaman

Kriteria Istri Idaman

Istri adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ialah penentu sebuah generasi beriman atau generasi yang tak mengenal Tuhan.

Nabi Muhammad shallallahu alayhi wa sallam bersabda ” Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, kehormatannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah perempuan karena agamanya niscaya engkau tidak akan celaka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rumah tangga adalah ibadah terlama. Sudah seharusnya menikah bukan hanya karena jatuh cinta tapi karena kebaikan akhlak dan agamanya.

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr, bahwa Nabi shallallahu alayhi wa sallam bersapda ” Janganlah kalian menikahi seorang perempuan karena kecantikannya, barangkali kecantikannya akan menghancurkannya. Janganlah menikahi seorang perempuan karena hartanya, barangkali hartanya akan membuatnya sombong. Namun nikahilah perempuan karena agamanya, sungguh seorang budak hitam lagi cacat (telinga dan hidung) yang mempunyai agama lebih utama (daripada perempuan cantik tidak beragama).” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Dia yang shalihah akan mencintaimu karena Allah. Dia yang mencintaimu karena Allah akan memuliakanmu. Tatkala marah, ia tak akan meninggikan suaranya. Tatkala ia temui keburukanmu, ia tak akan mengumbar aibmu. Tatkala engkau membuat hatinya terluka, ia tak akan menghinakanmu. Ia akan tetap menjadi istri yang nurut lan patuh kepada suami. Ia akan tetap mengabdi pada tuannya. Baginya, cinta bukan lagi pengorbanan tapi pengabdian.

Menikah tidak harus karena engkau mencintainya, tapi menikahlah berdasarkan agama yang ada pada dirinya. Untuk itu, tidak perlu terburu-buru. Jangan sampai pada saat sudah berumah tangga penuh sesal.

Untukmu yang masih menanti kekasih hati. Siapkan saja ilmunya. Percayalah, orang baik akan Allah pertemukan dengan orang baik pula. Jodoh adalah cerminan diri. Bila saat ini engkau sedang sibuk memperbaiki diri, sibuk menyiapkan ilmu rumah tangga. Semoga jodohmu pun sama. Sama-sama sedang memantaskan diri untuk kau pinang agar kalian menjadi sepasang suami istri yang saling mencintai karena Allahu Rabbi.

Rumahmediagrup/Vita

Kategori
Artikel Keahlian

Yuk, Mengenal Psikologi Perpustakaan

Untuk Perpustakaan yang memiliki layanan internet, saat ini masih bisa melakukan pelayanan dengan meminta referensi melalui digital library.

Namun, karena adanya aturan pembatasan untuk keluar rumah saat ini, maka tetap dilakukan di rumah saja.

khusus Perpustakaan Sekolah yang belum sepenuhnya menggunakan perpustakaan digital, tentu akan memiliki kendala.

Yaitu untuk sementara tidak dapat melakukan pelayanan sampai batas waktu yang tentunya masih belum diketahui, efek dari adanya wabah yang terjadi saat ini.

Pengguna juga di rumahkan, sampai batas waktu menyusul, diberitahukan selanjutnya.

Diluar permasalahan itu semua, saya tertarik untuk sekedar berbagi tentang sebuah wacana menarik. Yaitu tentang psikologi perpustakaan.

Ternyata di Perpustakaan pun, seorang pustakawan akan diberi pengetahuan tentang psikologi Perpustakaan.

Kami tentu saja dituntut untuk tahu dan memahami psikologi perpustakaan. Baik itu definisinya, sejarah serta metode yang nantinya akan dipergunakan di keseharian.

Kebanyakan dari masyarakat kita saat ini, terkadang tahu tentang istilah yang sudah kita kenal kini. Walaupun, terkadang mungkin belum sepenuhnya mahfum apa yang dimaksudkan.

Sebenarnya apa sih psikologi menurut para tokoh di kita dan menurut tokoh dunia? Kalau dibahas pasti cukup menghabiskan waktu seharian kita ya.

Ada dua hal utama yang dapat menjadi kesimpulan benang merah, bahwa :

  1. Psikologi memiliki pengertian sebagai ilmu pengetahuan,
  2. Psikologi yaitu tentang mempelajari tingkah perilaku seseorang yang dapat dilihat, sekaligus juga yang tidak dapat dilihat (tertutup).

Kebanyakan orang berujar bahwa psikologi hanya untuk mempelajari perilaku yang sangat bermasalah atau sikap yang tidak normal menurut kita.

Tetapi di dalam psikologi disini, bukan hanya sikap saja yang tampak yang dapat kita pelajari, namun juga tentang perasaan, sikap serta proses mental lain yang tidak bisa kita lakukan observasi secara langsung.

Dari hal tersebut, kita dapat melihatnya dengan cara dari apa yang mereka sampaikan, atau kitapun dapat melihat reaksi yang langsung terjadi terhadap sebuah permasalahan.

Sebagai contoh yaitu melamun, mengingat, berfikir, persepsi, motivasi, dan sikap. Disini kita berusaha untuk lebih mengenal manusia, dengan kepribadiannya yang Tentu akan sangat beragam.

Kenapa pustakawan perlu tahu tentang psikologi? Nah, sebelum kita tahu jawabannya, sebaiknya kitapun mengenal tugas dari seorang pustakawan.

Dan tugas utama seorang pustakawan yaitu menyiapkan sekaligus menyediakan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Supaya hal ini tepat berjalan sesuai sasaran, maka seorang pustakawan harus melakukan kegiatan, diantaranya :

  1. Pengadaan bahan pustaka
  2. Pengolahan dan Pengorganisasian bahan pustaka
  3. Penyebaran informasi
  4. Membimbing pengguna agar bisa memakai perpustakaan dengan tepat dan efektif
  5. dan sebagainya.

Tidak hanya berhubungan dengan buku-buku, majalah atau sekaligus benda-benda mati lainnya, tetapi juga harus berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya.

Karena dengan psikologi perpustakaan ini, diharapkan akan sangat membantu seorang pustakawan dalam berhubungan dengan orang lain dalam hal ini para pengguna perpustakaan dan yang berkepentingan di dalamnya.

Rumah Media Grup / Allys Setia Mulyati
Foto : dokumentasi pribadi
Referensi : Nina Ariyani M. BMP. PUST2226 Psikologi Perpustakaan; Jakarta : Universitas Terbuka, 2011.

Kategori
Dongeng/Fabel Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas

Balas Budi Sang Raja Hutan

Seperti hari-hari biasanya seorang pemuda dari desa Pagupon pergi mencari kayu di hutan. Kayu yang ia kumpulkan kemudian dijual dan sebagiannya ia gunakannya sendiri. Dengan berbekal nasi bungkus, karung, dan pisau serta kapak ia berangkat menyusuri jalanan desa sebelum akhirnya memasuki hutan.

Saat tengah asyik memotong ranting pohon ia mendengar suara erangan binatang. Segera ia menghampiri sumber suara tersebut. Betapa terkejutnya ternyata seekor harimau tengah tersangkut kakinya pada semak berduri yang lebat.

“Aduh kakiku sakit tolong aku !. Hai pemuda tolong aku, jangan takut aku takkan bisa menerkammu. Tolong singkirkan semak berduri ini dari kakiku,” pinta harimau.

Sejenak pemuda itu hanya berdiri karena ia takut dengan harimau. Akhirnya ia memberanikan diri untuk meyingkirkan semak berduri meskipun tangan dan kakinya bergetar karena ketakutan. Dengan susah payah akhirnya semak berduri dapat ia singkirkan. Segera ia berlari dengan kencang dan meninggalkan harimau begitu saja.

Pemuda desa itu juga melupakan kayu yang telah ia kumpulkan. Dalam benaknya ia harus pergi menjauhi harimau. Ia terus berlari tanpa disadarinya ia memasuki dan menginjak-injak tanaman bunga.

“Berhenti!. Lihat apa yang kamu lakukan!” bentak seseorang dengan pakaian prajurit kerajaan.

“Maaf tuan,” ujar pemuda desa itu masih dengan napas terenggah-enggah.

“Kamu telah merusak tanaman bunga kesukaan Raja,” lanjut prajurit.

Akhirnya pemuda desa itu dibawa ke kerajaan tanpa ada pengadilan dan langsung dijebloskan dalam penjara. Selama dalam penjara tak pernah sekalipun ia diberi makan ataupun minuman.

Suatu hari tiba-tiba ia dipindahkan ke kandang dimana tempat binatang peliharaan Raja dipelihara. Tampak tulang belulang berserakan ia pasrah dengan apa yang akan terjadi, seketika ia memejamkan matanya karena takut dengan apa yang akan menimpa dirinya.

Sudah beberapa hari ia ada di kandang binatang, mengapa binatang Raja tak juga memakan diriku, demikian batin si pemuda. Dengan langkah gemetar ia memberanikan diri untuk mendekati harimau.

“Hai anak muda sebagai balas budiku, aku takkan memakanmu, segeralah kamu pergi dari sini,” ujar harimau.

Illustrasi Gambar : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

Kategori
Artikel Ilmu Seputar Agama Islami Motivasi dan Inspirasi

Tepis Ragu, Mantap Melangkah

Tepis Ragu, Mantap Melangkah

Pernahkah berada dalam posisi gundah mengambil keputusan?Dipaksa keadaan untuk memilih sesuatu yang sulit. Terkadang setelah mengendapkan sejenak, muncul keraguan dalam hati. Sudah benarkah apa yang dilakukan.

Mengapa hati bisa mudah goyah?
Karena kondisi hati menyesuaikan dengan apa yang dirasakan saat itu.

Keteguhan hati ada kaitannya dengan banyak-sedikitnya maksiat yang diperbuat. Sejauh mana diri belajar tunduk pada syariat. Bertindak sesuai dengan norma yang berlaku.

Semakin dekat dengan Sang Pencipta, maka ketenangan mudah diraih. Perlahan Allah hilangkan keraguan dan menggantinya dengan keyakinan. Menerima segala yang terjadi dengan keikhlasan. Sehingga tidak akan menyalahkan takdir atas apa yang menimpanya.

Syaikh Sholih Al Fauzan mengatakan,
Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, bertakwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, maka seluruh badan akan ikut rusak. Akibatnya dia tidak akan mampu mengendalikan perbuatannya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaklah meminta pada Allah agar dikaruniakan hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusannya. Sebaliknya, jika rusak hatinya, maka akan tidak baik urusannya

Bila masih ada perasaan ragu, coba sharing dengan orang yang dipercaya. Dengan begitu akan terbuka persepsi diri dan makin obyektif dalam memberikan penilaian.

Jikapun ternyata keputusan yang diambil adalah hal yang salah, maka bersegeralah menata hati. Setelah tenang, baru ambil opsi lain. Yakin saja bahwa Allah akan memberikan hal terbaik untuk hamba-Nya.

Tidak masalah membuat kesalahan, asal setelahnya berbenah diri. Kesuksesan bisa di raih dari pembelajaran kegagalan yang pernah dilakukan. Jangan pantang menyerah. Fokus masa depan, dan raihlah kebahagiaanmu!

rumahmediagrup/siskahamira