Obrolan Petang – Bagian 5

Obrolan Petang – Bagian 5

Hujan mengguyur sejak siang tadi. Otomatis Aki Rahmat kehilangan pekerjaan rutinnya, menyirami tanaman kesayangannya. Serasa ada sesuatu yang hilang hari ini. Betapa tidak, mengajak bicara sambil mengelus lembut tanaman-tanamannya yang tumbuh subur itu menerbitkan rasa bahagia tiada tara.

Petang ini, Aki Rahmat hanya bisa menatap tanaman-tanamannya itu melalui kaca jendela ruang tamu. Dedaunan yang bergoyang ditimpa titik hujan seolah melambai-lambai mengajak Aki bercengkerama. Reranting yang bergoyang dihembus angin seolah menghentak-hentak hati Aki agar datang menghampiri.

“Jahenya, Ki,” suara Ambu Rahmi membuyarkan lamunan suaminya.

“Oh, ya … ya … simpan di meja dulu Ambu.” Aki Rahmat beranjak meninggalkan jendela. “Terima kasih jahe panasnya, Ambu. Bismillah ….” menyeruput minumannya. Ambu hanya menjawab dengan senyum manisnya. “Minuman buatan Ambu emang yahut! Tidak ada duanya, muantap poll,” puji Aki Rahmat.

“Ah, Aki bisa saja,” Ambu tersipu. Hatinya selalu berbunga-bunga setiap mendapat pujian suaminya.

“Sekarang pakai daun salam ya, Mbu?” Tanya Aki.

“Iya, Ki. Tadi Ambu ke kebun belakang. Melihat daun salam yang tumbuh subur, rasanya sayang jika tidak kita manfaatkan.” Meraih cangkir minumnya.

“Itulah keuntungan tinggal di desa. Kita tidak berkekurangan tanaman rempah maupun obat herbal. Daun salam, selain berguna untuk mengharumkan masakan, juga memiliki aneka manfaat bagi kesehatan tubuh kita.”

“Betul, Ki. Saatnya kita kembali ke alam. Apalagi pada usia kita yang tidak muda lagi ya, Ki? Kita harus menjaga stamina tubuh kita. Ambu mah tidak mau sampai terkena struk seperti istri teman Aki dulu.  Ambu tidak mau nantinya jadi beban Aki dan anak-anak.”

Hening sejenak.

“Kalau mau tetap sehat mah, tidak hanya dijaga makanan dan minumnya, Ambu. Kita juga harus menjaga pola hidup kita. Apalagi pada saat genting seperti sekarang ini. Agar terhindar dari corona, kita harus betul-betul menerapkan pola hidup bersih. Jika stamina tubuh kita bagus  dan bisa menjaga kebersihan diri, sepertinya virus pun dapat kita tangkal.” Papar Aki Rahmat panjang lebar.

“Ngomong-ngomong tentang kebersihan diri, bagaimana jika kita pasang keran air di dekat pintu pagar,” usul Ambu.

“Untuk apa, Ambu? Kita kan sudah punya keran di sudut halaman yang biasa kita pakai untuk menyiram tanaman.” Aki Rahmat terlihat mengernyitkan dahi.

“Eeeh … Ini sih khusus untuk cuci tangan Ki. Jika kita pulang dari mana-mana, sebelum masuk rumah, kita cuci tangan dulu,” jelas Ambu.

“Ooh… Untuk cuci tangan. Aki kira untuk apa. Sediakan juga sabun cairnya, Ambu,” usul Aki.

“Siap, Aki,” mengacungkan jempol.

“Kalaupun tidak pakai sabun cair, kita bisa pakai rebusan daun sirih, Ambu. Di kebun belakang ada juga kan daun sirih?”

“Banyak Ki. Godogan daun sirih sih bisa digunakan sebagai hand sanitizer juga.” Ambu menjelaskan.

“Wah hebat! Sekarang Ambu banyak tahunya ya, ha … ha … ha…,” Diakiri dengan tawa renyahnya.

“ Alhamdulillah, Ki. Era digital seperti sekarang ini, mengharuskan kita melek informasi kan, Ki?”

“Iya, Ambu.” Jawab Aki sambil memasukkan biji jagung rebus ke dalam mulutnya.

“Nanti Ambu rebuskan daun sirihnya, Ki. Bisa diminum juga lho, Ki. Biar tenggorokan kita bersih dari virus. Kita minum secara rutin. Tidak perlu banyak-banyak. Satu sendok makan saja setiap kali minum.” Ambu menjelaskan panjang lebar.

“Bukannya yang minum daun sirih itu biasanya ibu-ibu?” Aki Rahmat mengernyitkan dahi.

“Betul Ki, daun sirih memang  bagus untuk ibu-ibu. Tapi,  sebetulnya manfaat daun sirih bukan hanya unuk itu. Tapi masih banyak kegunaan lainnya. Coba saja lihat pasta gigi kita yang herbal itu, mengandung ekstrak daun sirih juga, kan?” Pertanyaan Ambu dijawab Aki hanya dengan anggukan kepala.

Hening kembali.

“Eh, ngomong-ngomong, Nini dapat banyak informasi itu dari mana?” Aki penasaran.

“Kan dapat kiriman video dari teman di grup alumni,” jawab Ambu.

“Baguslah, berarti ada manfaatnya juga bergabung di grup,”  kata Aki.

“Iya lah Ki, ajang silaturahim juga. Kita kan tidak bisa sering bertemu mereka. Wah … tidak terasa kita mengobrol, Ki. Azan magrib, tuh,” Ambu beranjak dari tempat duduknya. Menutupkan tirai jendela lalu menyalakan lampu.

Magrib itu terasa begitu senyap, sejak beberapa hari belakangan ini, penduduk kampung memang memilih untuk berdiam diri di rumah. Tidaklah mengherankan, jika saat magrib tiba, suasana kampung terasa agak mencekam.***

#RMG_obrolanpetang5_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.