Aki dan Ambu – Bagian 1 (Tanaman Ambu)

Aki dan Ambu – Bagian 1 (Tanaman Ambu)

Cuaca petang ini begitu cerah. Secerah suasana hati Aki Rahmat. Laki-laki pensiunan itu seperti biasa, asyik bercengkerama dengan tanaman kesayangannya. Menyirami sambil sesekali  menyiangi rumput yang turut tumbuh dalam polybag sambil mengajak ngobrol tanaman-tanamannya itu merupakan hiburan tersendiri baginya.

Berbeda dari petang-petang sebelumnya, kali ini Aki Rahmat memiliki teman baru dalam merawat tanamannya. Ambu Rahmi, istrinya yang semula tidak suka bergelut dengan tanah dan pupuk,  kini menemaninya merawat tanaman yang makin banyak jumlahnya. Bukan hanya cabai dan tomat yang mulai berbuah yang kini dirawatnya, tapi juga tanaman hias yang baru tadi pagi dibeli Ambu.

“Bunga yang ini bagusnya ditanam di mana ya Ki? Di tanah atau di pot?” Ambu Rahmi mengacungkan amarilis yang masih ada dalam polybag.

“Kalau itu, lebih baik tanam di tanah saja. Tapi jangan terlalu banyak disiram. Amarilis tidak terlalu suka minum,” Aki menjawab sambil tetap melanjutkan pekerjaannya, menyiram tanaman cabenya yang kini mulai berbuah.

“Baiklah kalau begitu. Baiknya ditanam di sebelah mana, Ki?” Tanya Ambu Rahmi lagi.

Aki menghentikan pekerjaannya. Disimpannya gembor di pinggir pagar. Dihampirinya Ambu Rahmi yang berdiri kebingungan.

“Sini, Ambu. Biar Aki yang tanam,” Aki Rahmat mengambil amarilis dari pegangan Ambu. “Bawa yang lainnya, Ambu,” pintanya. Dibawanya amarilis itu ke pinggir pagar beluntas yang menjadi pembatas antara halaman rumahnya dengan rumah Mang Kardin. Diambilnya cangkul dan pupuk kandang sisa memupuk jeruk lemonnya dulu. Lalu, ditanamlah amarilis itu di sana bersama amarilis-amarilis lainnya yang dibawakan Ambu.

“Nah, Ambu. Biarkan mereka di sini. Kita sirami dulu biar tetap segar dan akarnya bisa segera tumbuh,” Aki mengambil gembor lalu menyirami tanaman barunya itu.

“Iya, Ki. Terima kasih ya, Ki,” Ambu tersenyum puas melihat amarilis yang kini berjejar menghias halaman rumahnya.

“Hemmmm …,” jawab Aki sambil melanjutkan pekerjaannya menyirami tanaman cabai dan tomat yang tadi sempat tertunda. Kali ini, Aki makin betah berlama-lama bercengkerama dengan tanaman-tanamannya itu. Tidak bosan-bosannya Aki memperhatikan setiap bunga dan buah cabai serta tomat yang mulai terlihat di setiap pohonnya.

“Aki! Bantu ambu memindahkan pot ini!” teriak Ambu.

Aki geleng-geleng kepala melihat apa yang dilakukan Ambu. Inilah pertama kalinya istrinya itu bercocok tanam. Makanya tidaklah mengherankan jika dia terlihat begitu sibuk dengan pekerjaan yang sebetulnya terhitung sangat mudah dilakukan.

“Sini, aki saja yang pindahkan,” Aki meraih pot yang ditunjukkan Ambu. “Di sini ya Ambu, di dekat jendela. Biar jika Ambu buka jendela, bisa langsung lihat bunga mawarnya,” kata Aki sambil meletakkan pot itu di teras samping dekat jendela ruang tengah.

“Siip! Terima kasih banyak Ki,” Ambu beranjak masuk ke rumah. Sebentar kemudian, dia kembali dengan segelas jus jambu batu merah. “Ini, Ki. Sebagai ucapan terima kasih dari Ambu,” menyodorkan gelas pada Aki yang baru saja meletakkan pot terakhir.

“Sebentar, Ambu. Aki cuci tangan dulu,” Aki beranjak, mencuci tangannya di keran di sudut halaman  yang kini bisa dikatakan sebagai taman.

“Oh iya, Ambu lupa. Maaf, Ki,” Ambu meletakkan gelas jus jambu untuk Aki di meja teras.

“Terima kasih Ambu. Bismillah …,” Aki meraih gelas itu lalu mereguk isinya. “Alhamdulillah … segar Ambu,” lanjutnya.

“Kayaknya, kita harus beli bibit jambu merah juga ya, Ki. Kita tanam di halaman samping atau di belakang. Biar nanti bisa sering-sering buat jus,” kata Ambu.

Aki Rahmat hanya menjawab dengan anggukan disertai senyuman. “Ambu benar-benar sudah berubah,” batinnya. ***

#WCR_tetap1_sinur

rumahmedia/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.