Cinta di Hati Rima

Cinta di Hati Rima – Bagian 1

“Rima, makan dulu, yuk! Jangan terlalu lelah ngurusin acara tahlilan. Biarlah Om dan Tante yang mengurusnya. Kamu terima tamu teman almarhum mama aja ya.”

Tante Dina, adik Mama datang membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat kuhapus rinai yang sudah mengalir deras di kedua pipi. Beliau memelukku dengan penuh kasih sayang.

“Tante tau isi hatimu, Neng. Betapa kamu begitu sayang sama Mama. Mamamu pun sebaliknya. Kamu, anak perempuan satu-satunya yang selalu Mama banggakan dan paling bisa diandalkan. Biarkan beliau tenang di sana.” Elusan tangan Tante Rina menyentuh rambutku. “Doakan, semoga diterima segala amal ibadah dan diampuni semua dosanya. Insyaallah, doa anak sholehah akan memudahkan jalan menuju surga-Nya.”

“Iya, Tante! Aamiin. Sekarang Mama udah tenang engga ada lagi rasa sakit yang membuatnya menderita,” jawabku dengan tertunduk.

Mama sudah lama sakit diabetes. Tujuh tahun sudah masa-masa itu masih kuingat. Dari mulai vonis dokter, pemeriksaan rutin hingga akhirnya Mama menyerah.

Awalnya dari sebuah luka di kaki akibat tertusuk paku yang entah darimana datangnya. Luka Mama tidak kunjung sembuh. Ketika ke dokter, beliau di vonis memiliki diabetes. Mama menuruni sakit ini dari nenek yang memiliki riwayat yang sama.

Dari vonis itu, kehidupan Mama mulai berubah. Ada yang berbeda dalam keseharian. Pola makan dijaga. Apa yang Mama mau mulai dibatasi, terkadang beliau mengeluh capek dengah kondisinya. Aku, Papa, dan adik-adik selalu menguatkan. Mama kembali bangkit. Namun aku tahu, Mama masih menyimpan kesedihan yang membuat beliau sulit untuk sembuh seperti sediakala.

Bukan penyakit yang beliau risaukan. Mama bilang sudah pasrah dengan sakit yang dideritanya dan selalu bersyukur dengan apa yang sudah Allah berikan selama ini. Tapi Mama risau dengan sesuatu hal. Tentang aku anak perempuan satu-satunya.

Aku … Rima Damayanti janda anak satu.

Mama merasa bersedih dan sering memandangku diam-diam. Aku bukannya tidak tahu tapi tepatnya pura-pura tidak tahu. Dengan demikian, perasaan gundah mama tidak semakin melebar yang mengakibatkan rasa sesak di hatinya.

“Ma … aku tahu ada yang sakit di hatimu”

-Bersambung-

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.