Pengalaman Pahitku

Cemburu, kata ini unik namun menggelitik. Cemburu itu menurut KBBI
merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung. Kurang senang ada orang lain mendekatkan diri dengan pasangan kita tepatnya.
Namun ada juga cemburu itu kurang senang melihat orang lain beruntung. Mungkin karena juara atau berhasil dalam kompetisi ataupun meraih sesuatu. Orang akan mencari sesuatu sebab yang membuat dirinya puas dan penasaran mengapa ia yang dipilih mengapa ia yang menang? Kenapa bukan aku?

Cemburu itu bersifat umum, bisa jadi juga cemburu terhadap kekasih atau suami yang mulai dekat dengan orang. Bahkan ada juga cemburu dengan sesama teman. Jadi cemburu itu bukan hal khusus untuk pasangan suami istri saja. Bisa lho antarteman atau sahabat juga bisa cemburu.

Seperti halnya aku seorang gadis remaja yang mempunyai banyak teman.  Namun aku hanya mempunyai beberapa teman yang begitu dekat, dekat dalam arti aku berani bercerita hal-hal yang rahasia atau bukan konsumsi publik. Jadi teman akrab atau sahabatku itu akan menjaga rahasia tersebut.

Kedekatan itu berawal semenjak aku masuk di bangku sekolah kelas x. Pas aku baru masuk di Fitrah Hanniah, aku tidak memiliki siapa-siapa alias tidak ada yang aku kenal satupun. Namun lama kelamaan aku mengenali seseorang yang menurutku baik ia bernama Sinta. Tak lama kemudian aku akrab banget sama Sinta, mungkin karena rumahnya satu perumahan, dan dia juga kenal  dengan temen SD ku dulu.

Saat baru kenal dengan Sinta, aku di kenalkan oleh Sinta temen yang lain bernama Raisa. Aku pun mulai akrab dengan mereka. Sinta dan Raisa. Bahkan kami membuat sebuah nama grup atau genk bernama “three friends” , kami membuat grup atau nama genk itu karena kami sudah merasa saling cocok untuk curhat, baik rasa sedih, senang, suka dan duka kami selalu berbagi.
***

Setahun sudah kami lalui bersama, persahabatan kami bagai kepompong. Kami saling menjaga satu sama lainnya. Namun ketika naik ke kelas 11 banyak yang mencoba memisahkan kami. Banyak yang menginginkan agar kami bubar dalam persahabatan ini, bahkan ada yang menginginkan kami saling bermusuhan, tapi semuanya tidak akan terjadi karena kita akan saling menguatkan satu sama lain.
***

Dua tahun persahabatan kami jalani bersama. Hingga kami naik kelas 12 secara bersama-sama.  Aku bahagia persahabatan kami tidak dapat dipisahkan walaupun banyak yang menginginkan demikian.
Kedekatan kami menimbulkan kecemburuan teman-teman sekelas yang lain. Mereka berpikir kami hanya berteman untuk tiga orang saja.

Untuk menghilangkan pikiran dan rasa cemburu teman-teman kami mulai membuka pertemanan dengan dengan yang lain. Ada seorang teman yang mulai masuk dalam persahabatan kami, ia bernama Yanti. Dia itu dulu waktu kelas x dan xi mempunyai teman dekat juga. Namun Yanti mulai dijauhi oleh teman-temannya dengan alasannya apa kami tidak tahu.

Sahabatku Raisa merasa iba, dan ia mengajak Yanti untuk berteman dengan kami. Awalnya aku masih menerima Yanti. Namun lama kelamaan Yanti dengan sahabatku semakin dekat dan akhirnya membuatku berprasangka buruk terhadap Raisa dan Sinta. Aku takut dijauhi oleh mereka. Aku mulai nggak suka dengan Yanti. Aku sempat marah terhadap Yanti.

“Kenapa Yanti gabung dengan kita? dia sudah nggak ditemeni oleh teman-temannya! Sekarang kenapa ia harus gabung dengan kita? Aku merasa kalian sudah berubah. Kenapa?” Aku luapkan kemarahanku terhadap sahabatku.

Aku marah dan akhirnya aku menangis. Sesungguhnya aku merasa ketakutan. Takut dijauhkan dari sahabat-sahabatku, karena dulu aku pernah dijauhi oleh sahabat-sahabatku waktu masih duduk di SMP.
Lalu salah satu sahabatku, Sinta mencari jalan keluar bagaimana cara mencari solusi masalah persahabatan ini.

Sinta menceritakan semua kejadian ini dari awal hingga ke salah satu guru kami, beliau bernama bu Nurma. Sinta mencurahkan isi hatinya tentang kegundahgulanaannya ke bu Nurma. Akhirnya kami dipanggil oleh bu Nurma, kami dikumpulkan bersama-sama. Kami diberikan nasihat dan masukkan tentang berinteraksi dalam persahabatan.

Bu Nurma memberikan masukan bahwa dalam persahabatan harus saling percaya dan menghargai. Jangan terlalu ditakuti sesuatu yang belum terjadi. Jangan memandang pengalaman masa lalu sehingga kita takut dengan masa kini. Persahabatan itu tidak saling mengekang, bersahabat itu harus saling menghargai dan memahami satu sama lainnya. Jadikanlah masa lalu sebagai pengalaman yang paling berharga  jangan jadikan ketakutan yang tak ada harganya.

Selepas dinasehati oleh bu Nurma, lalu kami akur kembali. Kami saling meminta maaf dan berjanji akan menjadi sahabat yang selalu mendukung. Akhirnya kami menjadi berempat, banyak sahabat itu malah lebih baik daripada banyak musuh.
Satu musuh dapat meresahkan hati dan pikiran. Dengan demikian buanglah sampah-sampah dalam pikiran, cemburu boleh saja tapi harus sewajarnya.

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.