Kategori
cerita bersambung Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas Tantangan Menulis Tema Bebas

Sang Bidadari (26)

Sang Bidadari (26)

Naura menggeliat dalam gendongan Aditya. Lelaki itu masih belum percaya, kini ia sudah memiliki seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Viona terlihat bahagia melihat kedekatan ayah dan anaknya.

Viona tak menyangka, ternyata hubungan darah itu begitu kuat, hingga bisa mengubah Aditya yang dingin menjadi hangat. Hubungan dengan dirinya pun tak seperti dulu lagi.

Apalagi, Mama Sita yang juga sering datang berkunjung untuk menemui Naura, sering memberikan wejangan sebagai orang tua baru pada Viona dan Aditya. Mereka tampak seperti keluarga utuh yang berlimpah kasih sayang.

Kesabaran Viona selama ini, perlahan mulai menampakkan hasil. Aditya mulai perhatian dan menunjukkan kasih sayangnya. Kehadiran Naura telah membuat semuanya berbeda.

Bahagia untuk Naura, coba dirasakan pula oleh Naya. Meski cinta Aditya tak pernah berubah untuknya, tapi sikapnya berbeda kini. Naya tahu sebabnya, dan ia tak marah, tak juga kecewa.

Naya mencoba mengikhlaskan apa yang sudah jadi kehendak-Nya. Ia tahu, Allah tengah mengujinya, Allah ingin meningkatkan derajatnya, Allah sangat menyayanginya.

Tak mengapa kesedihan itu datang. Ia yang akan memberikan pelajaran tentang arti kebahagiaan. Jika cinta itu diuji untuk semakin dikuatkan, tak ada kata lelah untuk siap menghadapi segala resikonya, karena sejatinya cinta adalah kepunyaan-Nya.

Biarlah Dia yang menentukan, apakah kita layak memiliki cinta itu, hingga surga menyambutnya dengan suka cita, ataukah akan berhenti hingga waktu yang sudah ditentukan?

Cinta datang dan pergi itu sudah biasa. Sebagai manusia, sudah pasti kita meninggalkan atau ditinggalkan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan kembali, karena kita adalah kepunyaan-Nya.

Entah itu kita mencintai dengan begitu kuatnya, atau hanya sekadar memilikinya saja, itu akan berlalu ketika Allah sudah memanggil untuk pulang. Meski cinta di hati selalu ada, tapi hidup harus tetap berjalan.

Jadi, pantaskah kita memuja sebegitu hebat kepada selain Allah? Menyanjung sebegitu kuat kepada manusia? Memiliki cinta sebegitu besar melebihi cinta kepada Rabbnya?

Mencintai karena Allah, begitu luas maknanya, dan telah menanti kursi Yakut (permata) yang berada dalam singgasana Arsy yang dikelilingi oleh para malaikat bagi siapa saja yang saling mencintai karena-Nya.

“Orang-orang yang saling mencinta karena Allah, mereka berada pada kursi-kursi Yaqut (permata) di sekitar Arsy.” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (QS Al-Haaqah [69] : 17).

Begitu mulianya bisa mencintai karena Allah. Harapan setiap kekasih halal untuk bisa mendapatkan itu. Tentunya dengan dasar keimanan, bahwa semua yang kita lakukan hanya karena Allah semata. Begitu pun mencintai pasangan halal kita, yang juga mencintai Rabbnya.

Sungguh indah jika demikian adanya. Karena sejatinya cinta adalah mencintai Sang Maha Pemilik Cinta. Tak ada yang kekal dan abadi selain dari pada itu. Akan ia dapatkan cinta yang sebenar-benarnya kepunyaan-Nya.

Naya pun tengah memaknai itu. Sejak awal jatuh cinta pada Aditya, suaminya, ia ingin menumbuhkan cinta itu atas rida-Nya. Begitu pun ia berharap, Aditya akan mencintai karena Rabbnya.

Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik (An-Nur ayat 26).

Naya percaya, Aditya ditakdirkan menjadi jodohnya karena iman pada Yang Maha Kuasa. Sebagai imam dalam keluarga, Aditya menjalankan kewajibannya dengan baik.

Membimbing dan menuntun istrinya untuk tetap istiqomah di jalan Allah, begitu pun sebaliknya. Sebagai seorang istri, Naya selalu mengingatkan suaminya akan tugas dan tanggung jawabnya. Kasih sayang dan cinta diantara mereka tak pernah ternodai.

Hingga pada saat Naya meminta suaminya untuk menikah lagi. Meski tak ada larangan bagi seorang lelaki memiliki istri lebih dari satu, tapi tetap saja, hati perempuan mana yang tak terluka dan merasa cemburu.

Bahkan Sayyidah Aisyah pun begitu cemburu kepada Sayyidah Siti Khadijah, ketika Rasulullah menyebutkan nama istri pertamanya itu, (diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Apalagi Naya yang hanya manusia biasa. Maka, rasa cemburu itu manusiawi. Tentunya, selama tidak menimbulkan sifat yang berlebihan, sehingga merusak makna cinta yang sebenarnya.

Begitu rasa cemburu itu menyelimuti setiap hamba. Seperti halnya cemburu Naya pada suaminya yang kini hubungannya semakin dekat dengan Viona dan juga anak mereka.

Naya hanya bisa berdoa, agar ia bisa ikhlas melihat kebahagiaan yang baru direguk Aditya dan Viona.

Ia percaya, apa yang sudah digariskan untuk hidupnya, adalah kehendak yang terbaik. Kebahagiaannya takkan terampas begitu saja. Meski kini, tak hanya tentang Naya dan Aditya, tapi itulah hidup, selalu penuh warna.

Semua itu akan indah, bila kita bisa memaknainya dengan indah pula. Tak mudah memang. Namun, perlahan tapi pasti, akan ada masa di mana kita terjatuh pada suatu kesakitan yang menghempas hidup kita ke jurang terdalam, dan saat kita rida, maka dengan mudah, Allah akan mengangkat kita ke langit tertinggi dengan limpahan kasih sayang-Nya yang tak pernah kita sangka. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Kategori
Artikel Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Non Fiksi Tantangan Menulis Tema Bebas

LDM, Yess or No?

LDM, Yess or No?

Selayaknya sebuah pernikahan memang suami-istri tinggal seatap. Namun apa daya, terkadang beberapa kondisi menyebabkan mereka harus tinggal berjauhan selama kurun waktu tertentu hingga akhirnya bisa berkumpul kembali. Kondisi ini dinamakan LDM atau Long Distance Marriage.

Banyak pro-kontra menyikapi pilihan ini. Tapi selama kedua pasangan saling rida, maka tidak mengapa. Orang lain biarkan saja menilai. Keputusan tetap berada di tangan rumah tangga yang bersangkutan.

Tidak ada jaminannya, pasangan yang tinggal seatap minim konflik dibandingkan dengan pasangan yang menjalani LDM. Bisa saja tinggal serumah, tapi semua sibuk sendiri. Alhasil rumahpun terasa tak nyaman.

Sedangkan bagi pasangan LDM, bisa jadi mereka begitu menghargai singkatnya waktu pertemuan. Akhirnya tercipta quality time yang menenangkan. Meski tak bertemu raga setiap hari, namun ketika raga nyata menyapa, mampu meneduhkan hati yang merindu.

Berikut ini adalah tips bagi para pejuang LDM, di antaranya:

  1. Jaga komunikasi dengan pasangan

Meskipun berjauhan, kejujuran tetap faktor utama. Jangan sampai terpikir untuk memulai kebohongan. Kenapa? Karena sekali berbohong, akan ada kebohongan selanjutnya untuk menutupi hal sebenarnya.

  1. Merawat diri dengan baik

Berjauhan dengan pasangan bukan berarti abai terhadap penampilan. Jangan sampai ketika waktu pertemuan dengan pasangan tiba, akan ada banyak keluhan.

  1. Jaga kesetiaan

Rasa percaya itu mahal. Oleh karena itu harus dijaga dengan baik. Termasuk dalam hal setia dengan pasangan. Ini termasuk hal penting dalam berumah tangga. Jangan sampai karena keegoisan diri, mengorbankan keutuhan rumah tangga.

  1. Langitkan doa agar mampu saling menjaga hati di saat berjauhan

Doa adalah senjatanya orang beriman. Jadi jangan gentar untuk terus meminta kekuatan hati. Tetap tangguh di kala berjauhan dengan pasangan.

  1. Qanaah

Merasa cukup dengan semua pemberian Allah. Tidak boleh menyalahkan takdir, karena menjalani LDM adalah sebuah pilihan atas keinginan sendiri.

Nah itulah beberapa tips yang bisa dilakukan agar tetap bersyukur di saat menjalani LDM. Yakin saja ya, semua akan berakhir indah.

Semoga bermanfaat!

Barakallahu fiikum

rumahmediagrup/siskahamira

Kategori
Hiburan Latihan Menulis Komunitas Tantangan Menulis Tema Bebas

Cerita Segar Sesegar Es Serut yang Disajikan di Siang Hari Saat Ramadan.

Tahukah kamu apakah itu teks Anekdot? Teks anekdot itu merupakan teks yang menceritakan kisah lucu berisi sindiran atau kritikan untuk menyindir atau mengritik orang atau seseorang agar orang yang dimaksud tidak tersinggung.

Menjaga perasaan atau menjaga hati orang agar tidak tersinggung tujuannya baik. Bisa jadi menjaga agar orang tidak marah. Namun apakah maksud tersebut akan tepat sasaran?

Betul sekali, itu akan tepat sasaran jika orang yang disindir paham bahwa ia yang dimaksud. Bagaimana kalau yang dimaksudkan tak memahami? Malah tak membaca teks atau pengumuman tersebut.

Bisa jadi teks Anekdot tersebut menjadi tidak tepat sasaran. Seseorang yang disindir akan tetap berlaku atau berbuat sekehendaknya karena ia merasa masih di jalur normal. Padahal ia tak menyadari bahwa ia lah yang dituju.

Di sisi lain, akan ada pihak yang merasakan tidak nyaman bila sindiran seperti itu disampaikan tidak tepat sasaran. Malahan akan timbul, rasa prasangka siapakah yang seperti itu. Siapakah yang dimaksud? Akan banyak pertanyaan di benak masing-masing orang.

Namun dilihat dari definisinya teks Anekdot itu berisi kisah lucu atau cerita lucu, bagaimana kalau ia tak lucu? Apakah masih dikategorikan teks anekdot? Atau bukan? Namun berisi menyindir. Bagaimana Anda menilainya? Teks Anekdotkah atau bukan?

Lalu bagaimana dengan kisah atau cerita yang lucu namun tak menyindir atau mengritik? Masihkah dikategorikan teks anekdot?
Apa perbedaannya dengan cerita humor? Apakah humor termasuk cerita anekdot?

Mari kita tengok ulang teks anekdot itu kembali. Buka kembali buku bahasa Indonesianya. Buka kembali kamusnya, carilah definisi sebenarnya apa? Ayo bersama-sama kita renungkan 😁😁

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Kategori
Latihan Menulis Komunitas

SAJAK CINTA BUAT BAPAK

SAJAK CINTA BUAT BAPAK

Oleh Puji Yuli

Untaian nada iringi jiwa ini

Yang lagi mengukir kata kata indah di hati

Mengenang pribadi bapak yang terpuji

Bawa energi dan nutrisi jiwaku yang letih

Penat penuh keinginan di otak kecil ini

Belum terwujud dan masih jadi misteri

Bapakku yang telah pergi ke Alam baka

Semoga jiwamu damai dan bahagia

Ingin rasanya kubuatkan sajak cinta

Buat bapakku terbaik dan tersayang

Lewat lantunan doa tulusku ke bapak

Sebagai pelipur rindu jiwaku pada bapak

Sajak cinta buat bapakku tersayang

Itu bisa buat jiwaku melayang indah

Teringat kenangan manis bersama bapak

Waktu kita masih bersua di alam dunia

Canda tawa dan nasehat indahnya bapak

Tak akan bisa terlupakan sepanjang masa

Kasih sayangmu yang tulus penuh cinta

Telah terpatri dalam hati sanubari jiwa

Takkan hilang rasa cintaku pada bapak

Walaupun bapak telah tiada

Tapi hati dan jiwa bapak seolah ada

Mengiringi langkahku gapai kemuliaan

Sajak cinta buat bapak

Inilah yang kuukir indah penuh makna

Akan sosok bapak yang jadi teladan

Bagi diri ini meraih mimpi indah

Raih kesuksesan dan berkah dunia akhirat

Semoga kita bisa bersua di syurga kelak

Puji

Kategori
Cerita Anak Cerita Pendek Latihan Menulis Komunitas Tema Bebas

Bungkus Es Krim

Bu Sosro memiliki 3 anak titik anak pertama namanya Pati, perempuan memiliki sifat yang sensitif. Anak kedua namanya Dono, memiliki sifat pendiam namun patuh kepada orang tua, mengalah jika adiknya rewel, mengalah pula jika kakaknya sedang sensitif terhadap sesuatu. Anak ketiga namanya Dodi, memiliki sifat manja, cerdas, banyak protes, dia memiliki kelemahan Jika menginginkan sesuatu minta segera diluluskan keinginannya.

Sore hari pukul 16.00, Dodi pulang dari bermain. Setelah mengucap salam, Dodi menyerang ibunya dengan pertanyaan pertanyaan. Dia menanyakan, siapa yang telah makan es krim. Tentu ibunya menjawab tidak tahu, karena memang ibunya tidak makan es krim. Ibunya menanyakan mengapa Dodi menanyakan hal itu, dari mana asal-usulnya. Dia dengan sedikit emosi dan ekspresinya menunjukkan seolah-olah dia sedang dilupakan atas jatah es krim itu.

Bu Sosro tersenyum melihat anaknya yang marah-marah. Melihat Bu Sosro tersenyum Dodi semakin marah dan menganggap sedang di- bully atau diremehkan. Dan ketika ditanya asal muasal mengapa menanyakan tentang tuntutan es krim yang dia mau, Dodi menjawab dengan kesal. “Di tempat sampah depan rumah ada bekas bungkus es krim!” Dan … spontan ibunya tidak bisa menahan tawa mendengar jawaban anak termanjanya ini. Bukankah tempat sampah itu ada di pinggir jalan, di mana siapa saja yang lewat bisa membuang sampah di sana. Ibunya tersenyum dengan memberikan penjelasan.

Asparaga, 24042020

Kategori
cerita bersambung Dunia Fiksi Tantangan Menulis Tema Bebas

Betawi Sonoan Dikit

Bagian 2

Mahmud cuek aja. Bagi dia masalah keseleo ato salah urat itu nyang cemen. Mahmud tahu benar siapa Firman dan gimana lagunya. Firman emang anak muda nyang lumayan ganteng. Mukanya nirus, matanya rada sipit, idungnya bangir, dan rambutnya ikel. Hobinya maen sepak bola amatiran. Dan maennya lumayan hebat sih nggak kalah sama si Aliyudin Striker Persija tempo dulu. Beberapa kali Mahmud nyempetin nonton ketika kesebelasan Kampung Bulak sparing ngelawan Imola FC kesebelasan dari Jatiluhur nyang lumayan hebat. Firman salah satu pemain nyang disewa untuk memperkuat kampungnya ketika itu. Firman pemain tarkam juga. Kata orang, Firman tuh lumayan trekelan, kakinya lengket ama bola, gocekannya yahud, dan naluri bikin golnya ajib. Namun nasibnya aja nyang belon mujur hingga ampe ari gini belon dipanggil oleh PSSI sebagai pemaen Timnas. Firman ngegereng nahan sakit.

            “Ya udah, sono dah lu buka baju, meleding aja. Lu langsung rebahan dibale. Bukan cuman kakilu nyang gue urut, seluruh awaklu juga pasti pada pegel. Gue bikin minyaknya dulu…” kata Mahmud sambil usir Firman untuk sigrah pergi ke Peseban.

Firman ngeloyor sembari berjalan rada dingklik. Mahmud mencibir, “Baru segitu aja udah sombong lu, belon jadi pemain hebat kayak Lionel Messi…prêt payah luh!”.

Belum lagi Mahmud kelar nyiapin minyak urut tiba-tiba dua ponakannya ngebrubul datang kaya selaron. Siti dan Tata merangsek dan minta dialem.

            “Mang, bagi duit dong”, suara Siti cempreng.

“Tata juga, Mang”, timpal Tata gak kalah nyanter.

Dua bocah itu terus merajut dan tarik-tarik lengan Mahmud. Mahbud dibetot jadi rebutan. Mahmud keki juga, “Hus…kagak liat apa nyang mamang lagi bikin. Nanti ya botoh, sekarang mamang lagi ada pasen. Dah mendingan sono maen”, Mahmud ngebuka saku kopel dan ngambil duit “Nih, sono jajan, sarang serebu aja ya. Dah cepet sono!”, usir Mahmud setelah ngasihin duit dua rebu pada bocah-bocah kecil itu.

Tata dan Siti adalah dua keponakan Mahmud nyang paling disannyang. Kedua bocah itu penurut dan manut. Bahkan Mahmud juga banyak ngarep kalo suatu saat nanti akan mewariskan keahlian “dukunnya” pada salah satu dari kedua bocah tersebut. Makanya Mahmud mulai ngasih perhatian lebih pada mereka. Mengajari mereka mengaji, belajar silat ampe budaya Betawi nnyang nyaris luntur itu. Mahmud senang jika suatu ari nanti, anak-anak itu gede masih ngewarisin kemampuan nyang beguna dan tentu saja nggak ngelupain budaya nenek monnyang mereka. Jajanan gemplong, nasi uduk semur jengkol, kue jalabia..bikin kangen. Mahmud ngelamun barusan. Uff..kampungnya udah berobah. “Semoga aja lu lu pada bisa ngebawa warisan Betawi, Tong!”, gumam Mahmud sambil ngebawa alat urut dan ngelehod menuju Firman nyang udah rebahan seperti Kebo Bule lagi bejemur di galengan sawah.

Mahmud nyamperin Firman, dia duduk di bangku jongkok, Firman telentang. Mahmud  mulai nyari sumber urat nyang sakit di kaki Firman. Bekali-kali Firman meringis nahan rasa sakit ketika urat-urat dikaki bagian engkel nyang ngeringkel dipijat oleh Mahmud.

            “Aduuuuh…adaaaaw…sakit banget, Beh”, jerit Firman sambil kelojotan.

            “Tahan dan rasain ajah, bentar juga bae. Jamak anak lelaki mah keseleo kayak begini. Lah jaman Engkong kita mah dulu perang lawan Kompeni Belanda…”, hibur Mahmud.

            “Tapi itukan dulu, Beh. Sekarang yah sekarang. Semua sudah berubah dan semua ada jamannya, bukan begitu?”, sahut Firman.

Dan, aduuuuuuuh! Firman ngejerit lagi. kelojotan kaya diantup tawon balu. Kali ini pas ujung jempolnya nyang cantengan dipijat  Mahmud. Firman ngerasain seperti kakinya dilindes mobil glebeg. Air mata sempat ngucur dipojok-pojok matanya. Matanya rumbai. Firman nahan sakit nyang bikin idungnya ikutan meler.

            “Pelan-pelan dong, Beh! Ingat ini kaki, Beh…bukan kaki meja ketapang..”, kata Firman mencoba mengingatkan Mahmud.

            “Bawel luh, gue juga tahu. Gue kira kakilu gedebong pisang”.

Mahmud terus saja mengurut dan mengikuti jalur urat dan otot nyang kejang. Keahlian Mahmud memang tidak diragukan lagi. Waktu pertamakali diurut olehnya memang sakit dan geli-geli, tapi setelahnya badan menjadi terasa lebih ringan. Dan itu selalu dirasakan oleh Firman. Makanya dia nggak pernah kapok minta dipijat urut oleh Mahmud.

            “Gimana, udah enakan sekarang? Ntar juga bae”, tanya Mahmud kemudian.

            Firman mengangguk, dari pada benjol, padahal kakinya masih kerasa senut-senutan panting griming kaya dialirin setrum. Namun nggak lama, kemudian rasa sakit itu pelahan ilang.

            “Iya, Beh…kontan rasa sakitnya hilang”, Firman mulai gerakan sekujur tubuhnya seperti melakukan pemanasan. Kali ini sudah tidak terdengar lagi suara gemeretak urat-urat nyang pegal. “ Makasih, Beh. Untung ada Babeh, kalo enggak ada Babeh kemana lagi saya minta diurut?”, cetusnya pula sambil mulai mengenakan kaos bergambar Bang Ben.

            “Sonoh lu minta urut di Undrus ( On Rust)”, Mahmud jengkel.

            “Eh becanda lagian, Beh. Jangan diambil ati. Sorry..” rajuk Firman lagi

            “Urat lu itu gampang kena, Man. Soalnya lu kalo main pasti nggak pemanasan dulu kali ye?”, suara Mahmud lagi.

            “Kadang-kadang sih, Beh. Yah namanya juga pemain kejar tayang, Beh”, kelakar Firman lagi sambil mulai kenakan celana panjangnya.

            “Lu kira sinetron kejar tayang. Lu ada aja kalo ngomong..”, Mahmud nyengir. Mahmud mulai membereskan alat-alat kerjanya.

            “Berapa nih, Beh?”, tanya Firman sambil matanya dijulingin kadang ngeriyep.

            “Lu kayak orang baru aja sama gue. Lagu lu tuh…”, sahut Mahmud agak sewot.

            “Bukan begitu, Beh…biasanya kan gratis- free, kebetulan saya lagi punya rejeki gedean dikit, boleh dong bagi-bagi….”, kata Firman sambil keluarin dompet dari saku celana. Firman tunjukkin dompetnya nyang gendut melendung persis pantat bayi dipakein pampers. Dompetnya bengkak bejubel duit cebanan nyang masih kaku.

Mahmud ngelirik sejenak, “Benar, banyak juga tuh bocah duitnya. Dari mana yah? Mungkin…mungkin dia abis dapat persekot main bola tarkam karena kesebelasan nyang dibelanya menang. Bisa jadi…asal jangan uang hasil korupsi aja seperti Gayus”, gumam Mahmud sambil mendehem. Ehmmmm. Firman sedikit kaget, tapi dia sudah tahu bagaimana gayanya Mahmud nyang suka pura-pura tidak butuh dan jual mahal. Jaga imej kalo kata anak karang mah!

            “Gimana, Beh?”, ulang Firman lagi.

            “Gue sih dibeliin rokok juga senang, Man. Apalagi kalo ada kupinya, kue sagon ama koya, sekalian juga buat belanja gabus kering hehehe. Lagian keahlian gue ngurut juga warisan Engkong nyang secara memang buat nolong orang…”, jawab Mahmud polos.

Firman keluarin duit lima puluh rebuan, baru dan masih kaku. Duit itu masih ada baunya. Persis seperti duit nyang baru keluar dari bank. Firman ngasih duit itu pada Mahmud sambil ngucapin terima kasih. Dan…tanpa diduga Siti dan Tata datang sambil langsung tedengin tangannya lebar-lebar kepada Firman.

            “Bagi duit dong, Om…” suara mereka hampir barengan.

            “Husss…Siti…Tata…enggak boleh celamitan begitu. Bikin malu aja lu pada. Bocah kecil celutak dan minta duit, siapa nyang ajarin…”, hardik Mahmud dengan muka galak.

            “Mamang…” sahut dua boca itu kompak.

            “Hussss…”, Mahmud keki.

            “Ya udah…”, sahut Siti sambil ngeleos pergi

            “Mamang payah…”, kata Tata sambil menyusul Siti.

Firman berdiri dan menyusul kedua bocah itu. Mencegatnya.

            “Ayo sini kalian, jangan marah begitu. Siti dan Tata mau uang buat jajankan?”, tanya Firman. Kedua anak itu mengangguk. “Om akan kasih kalian uang, tapi Om ada syarat…”.

            “Apa itu Om?”, tanya Siti cepat.

            “Iya, apaan Om syaratnya?”, Tata tidak mau kalah saing.

Firman agak berjongkok dihadapan mereka, “Bibi Fatimah ada nggak dirumah? Bilangin ada Om Firman datang nih!”, kata Firman lagi.

            “Bibi Fatimah masih mondok..”, sahut Siti asal jawab.

            “Kapan dong baliknya?”, tanya Firman lagi.

            “Nggak tahu, tapi kata Ence Romlah sih minggu depan pas mau Lebaran Haji”, sahut Siti lagi.

Yes! Firman kegirangan. Memang sudah lama banget dia nggak ngeliat Fatimah, tepatnya sejak Fatimah mukim di pesantren dan tinggal dengan Cang Rohim di Komsen. Asal tahu saja, Firman sudah sejak lama demen Fatimah. Tepatnya ketika pertama ngeliat waktu ngebantuin Mahmud ngebawa baskom berisi air panas buat basuh kaki Firman nyang dulu keseleo. Waktu itu Fatimah mungkin baru kelas dua SMU. Anak gadis seusia itu sedang cantik-cantiknya. Sedang kemayu dan lugu. Ibarat mangga, dia adalah mangga mengkel. Nah, ketika tatapan pertama itulah Firman merasakan jantungnya berdebar-debar, gedebak gedebuk kaya bunyi traktor getah karet di bedeng. Fallen In Love In The First Sight. Awalnya Firman sangat takut untuk diurut, namun setelah ngelihat anak Mahmud nyang bernama Fatimah itu cantiknya nggak ketulungan, Firman jadi sering datang untuk sekadar minta diurut atau hanya pengen ketemu Fatimah. Itulah lagu Firman. Dasar Panjul! Kutu Kupret! Kadal Bintit! begitu caci maki Midin, tukang ojek nyang juga diam-diam demen Fatimah meskipun umurnya berbeda jauh, persisnya dibilang ABG Tua atau Berondong Tua. Hmm..kayak lagu dangdut aja.

            “Nih goceng buat kalian berdua. Tapi jangan jajan permen yah!”, kata Firman pada Tata dan Siti. Kedua bocah itu kegirangan. Goceng, Men! Merekapun berlarian keluar halaman dan hilang ditelan batang palm nyang tinggi menjulang. Pergi jajan ke warung Bang Namin.

            “Eh  lu, Man”, tiba-tiba suara seseorang ngejutin Firman. Nyang datang Romlah. Nyaknya Fatimah. Romlah nampak kelihatan lelah. Itu bisa dilihat dari peluh dan keringat nyang merembas disekitar dahinya.

            “Eh Nyak Romlah. Dari mana nih Nyak, pagi begini kayaknya lelah banget. Abis olahraga kali ye?”, tanya Firman kemudian.

Romlah letakin rinjing nyang dibawanya di atas bale ketapang. Sejurus kemudian dia taro pantatnya dibangku. Duduk dengan nikmat.

            “Boro-boro olahraga. Nyak abis bantuin orang lahiran, Man. Itu si Saroh bininya Midin”, kata Romlah.

            “Midin…Bang Midin nyang tukang ojek itu Nyak? Nyang ngojeknya dekat pangkalan Caman”, tanya Firman penasaran.

            “Lah iya, Midin manalagi sih dikampung ini nyang kerjanya ngojek? Pan ada juga Haji Midin, dia mah punya toko kelontong dan kebonnya juga lebar, sawahnya lega ampe untap-untap dari ujung Legok ampe kampung Rawa Bogo. Masa iya dia ngojek? Tuh barusan dia nganterin Enyak sampe ujung gang”, sahut Romlah ngejelasin.

Midin? Jadi Bang Midin nyang dulu sempat cemburu sama gue itu sudah punya bini? bathin Firman. Kalo begitu ceritanya, gue enggak ada saingan lagi dong buat dapetin Fatimah. Gue kan bujangan, pemain sepak bola lagi, he..he..he..Firman gitu lho! Hati Firman berbunga-bunga.

            “Oya, Nyak..sudah lama rasanya enggak ngelihat Fatimah…”, suara Firman parau sambil kepalanya celingak-celinguk nempo dalem rumah. Kali-kali Fatimah nongol.

            “Emang lu kagak tau yah, ari gini ketinggalan berita? Hohoy deh..!”, Romlah cekikikan. Firman kebingungan. “Fatimah tuh mondok dipesantren, Man. Yah, diakan mau nyenangin kedua hati orangtuanya. Abis Babehnya kepingin dia jadi ustadzah…”, suara Romlah terputus. Ada nada kegalauan dalam intonasi bicaranya.

            “O…begitu. Bagus banget tuh, pekerjaan mulia. Tapi, kok kedengarannya Enyak Romlah kayak kurang sreg gituh?”, tanya Firman seperti mau menyelidiki.

            “Kalo gue sih, Man…jujur nih gue ngomong sama lu. Gue kepengen ngeliat Fatimah tuh jadi suster kek, bidan atau perawat seperti nyang gue lihat di Puskesmas Kecamatan Jatiasih. Enak dilihatnya. Seragamnya putih-putih, mukanya cakep…”, Romlah melamun jauh.

            “Tapi jadi ustadzah juga kan bagus Nyak. Bahkan ustadzah juga bisa terkenal dan bisa masuk tivi lagi, seperti Mamah Dedeh ato Umi Yuyun nyang sering kita tonton kalo abis shalat subuh”, timpal Firman sedikit menghibur.

            “Nggak tau, Man. Enyak mah nurutin apa maunya Fatimah ajah”, sahut Romlah.

“Oya, apa Nyak enggak kepingin Fatimah jadi artis atau selebritis?”, tambah Firman kemudian.

            “Huss..lu lagi, Firman! Emang ada sejarahnya ngapah kalau orang kampung kayak kita begini bisa jadi artis?”, sergah Romlah nggak yakin.

            “Ah Enyak ini, jangankan jadi artis Nyak, mau jadi presiden juga bisa. Tuh lihat Barack Obama, dia juga orang kampung di Hawaii dan bisa jadi Presiden Amerika”, cerita Firman membuat Romlah lebih mengerti.

            “Yah…kita tunggu nasib ajah dah. Kalo emang rejeki Fatimah bagus, tentu dia bisa ngeraih apa nyang dia cita-citain. Kan jodoh, maut dan rejeki Tuhan nyang ngatur. Kita mah tinggal usaha dan ikhtiar doangan nyang rajin. Da ah, gue jadi ngelantur, ampe lupa mau ngaronin nasi”, cerita Romlah sambil pergi tinggalkan Firman sendirian.

Firman tersenyum. Senyum dikulum. Sebuah senyum penuh makna dan harapan.

            “Fatimah…kayaknya dia emang pantesnya ngedampingin gue deh, jadi bini gue. Guenya ganteng, Fatimahnya molek, udah pas banget kayak raja ame permaisuri…”. Shuuut…breoook! Mendadak Firman kaget ampe loncat lantaran Mahmud buang air kobokan di baskom dan ngeguyur kepala Firman. Entah disengaja Mahmud atu kaga, nyeng jelas mah Firman mandi air kobokan. Mahmud ketawa ngelumik.

            “Yah Babeh, ane udah mandi diseblokin air kobokan…rusak dah penampilan”.

            “Gue tau lu belon mandi, mangkanya gue guyang. Dah sono mandi, sekalian isiin gombangan biar luber ye…”, kata Mahmud sambil pegi ke dalem.

Firman bengong melongo. Garuk-garuk rambutnya nyang gujid, ngerindil kaya bulu domba. “Gue disuruh nimba ngisiin gombangan? Tapi ga papah deh, itung-itung ngebakal ame calon mertua hehehe…”, bathin Firman rada sogol.

Firman langsung ngegloyoh nuju sumur senggot disamping rumah Mahmud.

***

Bersambung…

Majayus Irone/Budayawan/Rumediagrup.com/Novel Budaya

Kategori
Cerita Pendek Dunia Fiksi

Kongkow Cerdas: Aki Maja dan Kong Usman

Awaaaasss Hipnotis..!!!

Beberapa orang lagi jajan di warung kopi. Mereka semuanya ngobrolin hipnotis. Kong Usman dan Aki Maja juga nimbrung ngopi disitu. Warung Mpok Jenong saban pagi selalu rame didatengin pengunjung. Sebabnya dia jualan banyak makanan gurih plus murah meriah dan nasi uduk semur jengkolnya; ajib. Emang lagi rame dan heboh diberitain di koran, redio maupun di tivi. Banyak orang kena hipnotis nyang katanya bikin korban kaga sadarin diri kemudian dipretelin sampe harta bendanya ludes setelah itu dibiarin sampe kleyengannya hilang. Setelah sadar baru korban tahu semua hartanya hilang.

      Kong Usman nyomot kue jalabia nyang ketiga.

      “Karang mah kita kudu ati-ati, banyak penjahat nyang gunain elmu hipnotis buat nyuri barang berharga. Terutama buat lu, Nong..”, seloroh Kong Usman membuat Mpok Jenong julingin matanya kaget.

      “Apa urusannya sama ane, Kong?”, Jenong mendelik.

      “Lu kan empuan, lu jualan, duit luh pasti ada. Bisa jadi aja luh jadi inceran penjahat hipnotis. Makanya gue pesen ama luh kudu waspada. Gitu doang”, lanjut Kong Usman sambil nyengir, padahal giginya juga tinggal dua.

      “Oh gitu, Kong. Kalo gitu mah makasih, Kong”, sahut Jenong seneng.

      “Tumben luh idep, Kong. Bisa nasehatin orang. Emang luh kaga takut kena hipnotis juga?”, Ki Maja nyindirin. Kong Usman nyengir. Kue jalabia masih ngejubel dimulutnya.

      “Apa nyang dia mau ambil dari gue? Gue kan cuman aki-aki?” sahutnya.

      “Siapa tahu aja ada penjahat nyang mau culik luh karena liat luh antik buat ditaroh di museum, hehehe..”, Ki Maja ngikik.

      “Sompret luh, Ki. Emang dikira gue ini patung arca apah?”, kong Usman keki.

Ki Maja cuek pura-pura budeg. Atau emang budeg beneran. Ki Maja nyuap terakhir nasi uduknya. Kemudian minum kopi pahit nyang kentel. Gak lama terdengar suara atob eeeeeuuuuuuggghhh. Kong Usman nutup hidung, bau atob sendawa Ki Maja nyang abis ngunyah jengkol berasa bau got Bantar Gebang. Sembriwing.

      “Jangan-jangan banyak penjahat hipnotis gara-gara dia nyontoh nyang sering muncul di tivi. Luh tau, ada kan acara tivi nyang nampilin hipnotis…siapa tuh orangnya?”, Kong Usman mulai ngomong lagi.

      “ Master Romy Rafael, maksud luh Kong?”, tanya Ki Maja nimpalin.

      “Bukan. Ada lagi nyang laen”, sambung Kong Usman makin kepo dan penasaran karena dia lupa.

      Ki Maja ngomong précis di telinga Kong Usman, “ Oh maksud luh Deddy Corbuzier yah?”. Kong Usman makin bingung. “ Uya Kuya yah?”, kata Ki Maja lagi lebih nyanter. Kong Usman nyaris kebudegan kupingnya. Dia ngusap-ngusap kupingnya. Pleng…ada suara begitu digendang telinganya.

      “Gila luh, pengang banget!!!”, makinya pada Ki Maja nyang ketawa ngakak. Ki Maja nyoba baekin Kong Usman dengan ngambilin kue jalabia nyang ke empat. Kong Usman nyantap kue jabaia lagi. Padahal giginya nyang ompong sangat sulit ngunyah tapi dipaksain, katanya: nyang penting rasanya bung!

      “Nah…kita pan punya banyak ahli hipnotis seperti nyang luh sebutin tadi tuh. Mereka kan buat ngibur penonton bukan buat nyolong. Tapi dasar aja banyak nyang bisa elmu hipnotis buat kejahatan. Mereka itu nyang keblinger..”, cerita Kong Usman panjang lebar. Dia coba nguyup kopi, barusan dia ampir keselek jalabia.

      “Eh iya, kong ngapah kaga kita manfaatin aja orang-orang nyang bisa hipnotis buat bantuin Polisi ama KPK interogasi para koruptor dan penjahat. Pan bisa lebih gampang dan gak butuh waktu nyang lama ngorek keterangan dari mulutnya”, kata Ki Maja ngeluarin idenya.

      “Betul juga luh Ki. Kalo para koruptor dan penjahat dihipnotis dan disiarin di tivi seru kali yah? Orang- orang semua bisa pada nonton dan tau akal busuknya para koruptor dan penjahat. Ngapain ribet kudu diinterogasi, kudu ditakut-takutin, kudu disundutin, kudu dibentak, kudu digaplok, kudu disetrum…pan kalo dihipnotis cukup palingan lima menit juga kelar..”, tambah Kong Usman pinternya mendadak datang.

      “Bener Kong. Ajuin aja ke tivi sekalian bikin acara hipnotis koruptor hehehe”, Jenong nimpalin sambil ketawa ngakak. “ Ngaku..ngaku…ayo ngaku…”, lanjutnya sambil nyanyiin lagu nyang kaya di tivi.

      “Pasti seru…siapa tau di siarin di tivi Bekasi hehehe..”, kelakar Kong Usman sambil bangun dari duduk. Ngelangkahi bangku semata. Kemudian dia rampa-rempe kantongnya. Aduh..dompetnya kaga ada.

      “Kenapa, Kong?”, tanya Jenong mulai curiga.

      “Yaaaahh..dompet gue ilang? Gimana nih, Nong? Jangan-jangan ada nyang hipnotis gue nih?”, Kong Usman matanya liatin semua orang nyang ada di warung. Kemudian Kong Usman nyengir. “Gue ngutang yah, Nong”, sambungnya sambil ngeloyor pergi.

      “Dasar Kong Usman banyak bangat akalnya…ketempuan lagi dah gue..”, Jenong tepak jidatnya pusing.

Ki Maja berdiri dan mau pergi. Jenong buru-buru cegat. “Eh..Aki kudu bayar dulu baru boleh pegih!”, ketus Jenong rada ngancam. Jenong kapok ketipu lagi.

      “ Tenang Nong, pasti gue bayar. Orang dompet gue juga tebel..” Ki Maja keluarin dompet, buka dompet nyang isinya bejubel duit warnaya merah, cepean rebu.

      “Duit Aki banyak amat, dompet siapa tuh, Ki?”, tanya Jenong. “Sekalian bayarin utang Kong Usman ya, Ki!”, sambung Jenong lagi.

      “Tenang aja luh mah, Nong. Nih..kembalinya buat luh aja. Tapi luh jangan bilang Kong Usman yah kalo dompetnya gue pinjem hehehe..”, kata Ki Maja sambil pergi nyusul Kong Usman buat balikin dompetnya.

      “Dasar Aki ama Engkong..tua juga lagunya masih banyak, set dah”, Jenong kegirangan dibayar seratus rebu. Hahahaiiiii.***

Majayus Irone/Budayawan/Rumediagrup.com/Cerpen

Kategori
Hiburan Latihan Menulis Komunitas Non Fiksi Tantangan Menulis Tema Bebas

Celotehan Lucu Siswaku

Kisah dua siswaku yang bersahabat, sebut saja namanya Key dan Nad. Tidak seperti kebanyakan siswa-siswaku yang lainnya, keduanya tergolong pendiam. Jika siswa yang lain saat istirahat pergi ke kantin mereka berdua akan berada di dalam kelas hanya untuk mengobrol.

“Kalian berdua nggak ke kantin?” tanyaku.

“Ehhmmm enggak bu, gak laper,” jawab Nad singkat.

Tak berapa lama mereka berdua mendekati mejaku, “Bu kalo mo jadi Polwan sekolahnya apa?” tanya Nad sambil mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Belum sempat aku menjawabnya, tetiba Key dengan celotehan khas anak-anak menjawab. “Sebelum jadi Polwan ya jadi polisi tidur dulu !”

Kami bertiga tertawa mendengar jawaban lucu Key dengan wajah datarnya.

***

Suatu hari aku memberi tugas siswaku untuk membuat surat resmi, setelah sebelumnya sudah dijelaskan.

“Bu, kop surat ada logo dan alamat instansinyakan ?” tanya Attar sambil garuk-garuk kepala.

“Seperti yang Ibu jelaskan tadi, silakan kop suratnya dibuat sesuai dengan kreasi kalian sendiri ya, alamatnya demikian juga,” jawabku sambil berjalan keliling memeriksa pekerjaan siswaku.

“Bu, jalannya boleh pake alamat rumah sayakan ?” tanya Intan memastikan.

“Boleh,” jawabku singkat.

“Bu, Saya nulis alamatnya Jalan hidup masih panjang, bolehkan ? Kata Ibu alamatnya bebas terserah kreasi kita,” celetuk Attar.

Sontak kami tertawa mendengar pertanyaan Attar. Akhirnya aku beri batasan bebas menggunakan alamat namun yang digunakan adalah nama-nama pahlawan sebagai nama jalan.

Sumber Foto : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/ She’scafajar

Kategori
Latihan Menulis Komunitas Motivasi dan Inspirasi Non Fiksi Tantangan Menulis Tema Bebas

DIY Mainan Anak : Membuat Wayang dari Kertas

DIY Mainan Anak : Membuat Wayang dari Kertas

Menjadi seorang ibu, selain dituntut untuk mampu mendengarkan dan memahami keinginan anak, juga perlu kreatif dan penuh imajinasi. Apalagi saat mendampingi perkembangan anak usia balita yang sedang sangat bersemangat bermain, dan di saat yang bersamaan memiliki hasrat untuk belajar yang sangat besar.

Di sinilah pentingnya membuat aktivitas-aktivitas bermain sambil belajar, membuat kegiatan belajar menjadi menyenangkan. Karena itu, seorang ibu tidak boleh kehabisan ide. Nah, kali ini saya ingin berbagi sebuah ide sederhana untuk bermain bersama anak.

Membuat wayang kertas. Mudah dan menyenangkan untuk dikerjakan. Selain itu, akan melatih motorik anak dengan aktivitas mewarnai, menggunting dan menempel. Tentunya dalam pengawasan orang tua, terutama saat memotong dengan menggunakan gunting.

Ini dia langkah membuat wayang kertas :

  1. Kumpulkan bahan-bahan; buku mewarnai bergambar tokoh favorit anak, karton bekas yang ada di rumah, pensil warna atau krayon, gunting, lem.
  2. Warnai gambar yang ingin dijadikan wayang.
  3. Gunting gambar yang telah diwarnai.
  4. Gunting karton dengan ukuran menyesuaikan ukutan gambar. Fungsi karton adalah sebagai tempat pegangan untuk memainkan wayang.
  5. Tempelkan karton yang sudah digunting pada gambar yang telah dipotong. Wayang kertas pun siap dimainkan.

Wayang kertas hasil kreasi bersama anak, nantinya bisa digunakan sebagai alat untuk berkisah maupun membacakan buku cerita. Sambil menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai kebaikan. Pesan yang disampaikan dengan cara yang menarik dan mengasyikkan akan lebih mudah diterima serta dipahami oleh anak.

Oh ya, kegiatan membuat wayang kertas ini juga bisa mengisi waktu sambil menunggu saatnya berbuka puasa. Pasti mengasyikkan dan akan mengalihkan perhatian anak dari rasa lapar. Terutama bagi anak-anak yang sedang bersemangat memulai belajar puasa Ramadan.

Baca juga : 9 Tips Mengajarkan Anak Berpuasa Ramadan

Selamat berkreasi 😊

rumahmediagrup/arsdiani

Kategori
Cerita Pendek Dunia Fiksi Latihan Menulis Komunitas Tantangan Menulis Tema Bebas

Diari Cik Onis

Cik Onis Butuh Bantuan

Pagi jelang siang, Negeri Batu Berserak sedang panas-panasnya. Nyelekiiit
Cik Onis yang dapat tugas jaga toko baru saja mendaratkan motornya di parkiran. Tengok kiri kanan, “Wah, ramai ini di toko sebelah,” kata Cik Onis dalam hati. Habis simpan helmnya di bagasi dan cabut kunci motor, dia berjalan cepat menuju tokonya.

Begitu masuk toko, sambutan semilir angin AC membuatnya mendesah nyaman, “Oooyyy, kimacam masok bang kelokas yeee rase è… deluar seeehhh tepanggang benar,” ujarnya dalam bahasa yegeri Batu Berserak. Icak-icak pandai, padahal ngarang bebas itu ngomongnya.

Sang pegawai yang masih muda belia menganggukkan kepala tanda setuju sambil nyengir. Mungkin di pikirannya begini yang dia bilang, “Cik Onis ini agak korslet sepertinya kena serangan panas. Kasihannyaaa…”

Cik Onis letak tas besarnya di atas meja, geser kursi, lalu duduk berselonjor menghadap AC. Bulan puasa memang ujiannya ya panas, haus, dan orang-orang yang dikirimkan Allah untuk memancing emosi kita. Dan cara paling mudah melalui puasa adalah mendekam di ruangan dingin, sehingga haus jadi tereliminasi, dan jauh pula dari setan, eh, orang, yang terkutuk, eh, yang pancing emosi. Maaf korslet…

Lagi santai begitu, tiba-tiba masuk seorang bapak. “Ada aqua,” tanyanya. Cik Onis melongo sejenak. Ini bukan sedang shooting iklan, kan? Tadi gak pake bedak soalnya. Lalu dia sadar sekarang kan masih bulan puasa, tega bener tukang iklan bikin script dadakan kayak begini. Maka dia menyahut, “Adanya cuma saingan aqua, Pak… Mau?”
Si bapak mengangguk. Lalu mereka tukeran duit dengan barang.

Nah, beres urusan jual beli tadi, Cik Onis kembali selonjor. Tak sampai lima menit masuk pula om-om ganteng tanya stiker. Ooh rupanya ada perlu dengan Maklong Bumbu, yang menyusul masuk sekitar 10 menit kemudian. Urusan mereka berdualah itu. Beres si om, keluar dia, muncul abang-abang pake baju cap hotel. Si abang ini berurusan juga dengan Maklong Bumbu. Mereka ngobrol sejenak dua jenak. Tak lama.

Lalu, “Cik Onis, kita dapat pesanan bikin paket untuk lebaran,” Maklong buka pembicaraan. “Totalnya 81 paket dengan 3 tipe harga. Isinya bebas. Bisa kamu siapkan?”

“Haaaa???” Cik Onis kembali melongo. Kasihan Cik Onis, keseringan melongo membuat wajahnya jadi kurang simetris. Padahal, dia itu kalau perkara susun menyusun semuanya harus sama persis. Kemudian dia memandang sekeliling toko. “Sepertinya bisa, Long. Kita habiskan saja semua stok di sini.”
Maklong pun setuju. Si abang baju cap hotel tersenyum, “Tolong dihitung dulu total harganya. Saya pergi ambil duit sebentar. Saya bayar tunai semuanya.”

Kalkulator pun langsung dipencet-pencet. Cik Onis sampai hitung 2-3 kali. Eh, banyak juga totalnya. Masa iya sih. Tak percaya dia.

Sekitar 15 menit, si abang baju cap hotel datang lagi bawa duit biru bertumpuk-tumpuk. Rasa-rasa nak tergelincir jari Cik Onis hitung lembar demi lembar duit tu. Selembar saja hilang, hilang juga harapan makan sate padang pas buka nanti. Wusss, dia pun istighfar terus dalam hati supaya uangnya cukup dan aman. Alhamdulillah pas…

Sejak hitung duit banyak itu, hilang lemas Cik Onis. Hilang pula semangat selonjor. Berganti jadi galau. Bagaimana ini wadahnya, cukup apa tidak semua stok untuk pesanan ini, siapa yang bungkus dan hias paket? Itu salah tiga pikirannya…

Kebanyakan mikir, kapan kerjanya? Maka Cik Onis pun bertindak memanggil Nyonya Moyang yang pandai simpan duit. Nyonya Moyang pun segera datang. Diserahkannya lah duit bertumpuk itu.

“Kau beri aku 500 saja untuk beli bahan hias paket,” perintah Cik Onis. Nyonya Moyang tanpa banyak cingcong menyodorkan duit merah dan biru. Campuran dua warna itu bikin mata Cik Onis jadi hijau, hatinya jadi pinky. Asyik, bisa belanja belanji, katanya dalam hati.
Dia pun segera meluncur ke toko pernak-pernik langganannya di Pasar Samudra.

Selesai belanja dan menyetor belanjaannya ke toko, Cik Onis pulang dulu. Ada kawannya hendak bertemu di rumah. Lagipula kalau seharian kerja di luar, anak-anaknya pasti protes. Mereka rindu juga dengan emak antik ini.
Nanti malam baru dia balik lagi ke toko untuk membuat paket hias. Tadi sudah kirim pesan minta tolong kawan-kawannya untuk membantu dan mereka setuju.

Malam pun tiba…
Kawan-kawannya sudah menghias dua paket ketika Mang Olele datang dan melihat hasilnya berseru, “Beeeh, ngape kimacam ngembungkus nasi? Bikin nok lagak. Idang berik urang nee. Itula mikak kebanyakan bebiakan duluk e… jadi dak pandai bebuatan.”

Issshh, Mang Olele ini ribut betul. Untungnya dia memberi contoh bagaimana membuat paket hias lebih menarik. Kalau cuma sekedar komen pedas, siap-siap saja mulutnya ditambal selotip.

Malam makin larut. Cik Onis dan kawan-kawan tak mungkin lanjut kerja. Padahal masih banyak yang harus dibungkus. Biarlah, besok dilanjut pula. Tolong bantuin yaaa…

Foto : Ben White/Unsplash

rumahmediagrup/fifialfida