Aki dan Ambu – Bagian 2 (PSBB)

Aki dan Ambu – Bagian 2 (PSBB)

Seperti biasa, selepas salat asar, Aki Rahmat sibuk mengurusi tanaman peliharaannya. Ambu Rahmi turut membantu setelah pekerjaan dapurnya selesai.

“Ayo minum dulu  biar kamu lebih segar,” tutur Aki Rahmat. “Biar kamu kelihatan lebih oke, daun kuningmu aku buang, ya,” lanjutnya. Disiraminya satu per satu tanamannya itu dengan gembor.

“Rajin, Ki … Ambu!” Mang Kardin menyapa sambil mendekat.

“Eh, Mang Kardin. Bawa apa tuh, Mang?” Aki mengamati yang dibawa Mang Kardin.

“Ini ada labu kuning dari sawah. Barangkali Ambu mau buat kolak,” jawab Mang Kardin sambil meletakkan sebuah labu kuning besar di teras rumah.

“Wuih, mantap! Alhamdulillah …. Terima kasih banyak, Mang. Bisa buat ngolek besok nih. Silakan duduk dulu Mang!” Ambu mempersilakan Mang Kardin duduk. Dibawanya labu pemberian Mang Kardin ke dalam rumah.

“Iya. Terima kasih, Ambu,” ucap Mang Kardin.

“Sebentar ya, Mang. Saya selesaikan dulu pekerjaan. Sedikit lagi, kok,” kata Aki.

“Lanjutkan, Ki,” Mang Kardin malah mendekati Aki. Dia memperhatikan apa yang dilakukan Aki Rahmat. “Kok, tanamannya diajak ngobrol, Ki?” Tanyanya kemudian.

“Seperti halnya kita, tumbuhan pun suka jika diperlakukan dengan baik. Coba Mamang perhatikan tanaman saya, subur-subur, kan? Sekarang sudah mulai berbuah. Itu karena selain diberi pupuk dan disirami,  tanaman-tanaman ini saya ajak mengobrol juga,” papar Aki.

“Ooh, begitu ya, Ki?” Mang Kardin manggut-manggut.

“Iya, seperti kita kan, Mang? Kita juga senang jika mengobrol. Saat hati kita merasa senang, maka tubuh kita pun mereaksi positif. Makanya, orang yang hatinya senantiasa senang dan bahagia, tubuhnya pun akan sehat. Virus pun tidak akan mudah menyerang. Kita ngobrolnya sambil duduk di teras yuk, Mang,” ajak Aki Rahmat. Dia segera merapikan perlengkapan yang tadi digunakan mengurus tanamannya, lalu mencuri tangannaya di kran yang ada di sudut halaman.

Keduanya duduk berseberangan di kursi teras terhalang meja menghadap ke halaman rumah yang sarat dengan aneka tanaman.

“Ada kabar baru apa, Mang?” Tanya Aki Rahmat.

“Pemerintahan desa semakin gencar mengimbau masyarakat agar berperan aktif dalam mencegah penularan corona,” jawab Mang Kardin.

“Penutup jalan desa masih dipasang, Mang?” Tanya Aki lagi.

“Masih, malah sekarang semakin ketat. Yang menjaga juga dijadwal. Pokoknya, jika ada pendatang, atau orang luar daerah yang mau masuk, diperiksa dulu dan wajib memakai masker. Yang keperluannya tidak mendesak, diminta untuk kembali pulang.

Aki Rahmat mulai mengutak-atik gawainya.

“Ada kabar baru apa, Ki?” Mang Kardin turut memandangi layar gawai Aki Rahmat. Begitulah, ketika bersama, kedua orang tua itu selalu saja saling bertukar informasi.

“Karena semakin banyak masyarakat yang dinyatakan positif terkena corona, maka makin banyak pemerintah daerah yang mengambil kebijakan untuk menerapkan PSBB,” jawab Aki.

“Apa, Ki? PSPB? Kayak mata pelajaran sekolah,” Mang Kardin mengernyitkan dahi.

“PSBB Mang. Pembatasan Sosial Berskala Besar. Upaya untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit gitu. Kalau sekarang … ya mencegah menyebarnya penyakit akibat corona,” papar Aki. “Contohnya yang sekarang kita laksanakan, Mang. Salat Jum’at dan tarawih di rumah, pelajar dan mahasiswa belajarnya di rumah melalui internet, kita disuruh diam dan kerja di rumah. Pokoknya tidak boleh ngumpul-ngumpul, harus jaga jarak,” lanjut Aki.

“Ooh … begitu ya, Ki?” Mang Kardin manggut-manggut.

“Iya, Mang. Malahan ada imbauan yang merantau agar tidak perlu mudik. Lebaran kali ini pasti bakal sepi,” Ambu muncul dari pintu sambil menjinjing keresek kecil. “Pasti akan berkurang bahagianya lebaran kita jika Surya dan keluarganya tidak bersama kita ya, Ki? ” Lanjutnya dengan suara bergetar sambil menoleh ke arah Aki Rahmat. Matanya berkaca-kaca. Dilihatnya Aki hanya menjawab dengan anggukan pelan. Ambu menyimpan keresek yang dibawanya itu di atas meja dekat Mang Kardin. “Kurma. Lumayan buat takjil, Mang,” katanya kemudian.

“Alhamdulillah …. Terima kasih Ambu,” kata Mang Kardin.

“Iya Mang, sama-sama,” jawab Ambu. “Sebentar lagi waktu buka tiba. Buka di sini saja, Mang,” ajak Ambu.

“Terima kasih banyak Ambu. Tapi kalau Mamang buka di sini, kasihan si Bibi dan si bungsu. Pasti nunggu di rumah,’ jawab Mang Kardin.

Mang Kardin pamit pulang. Sementara Aki dan Ambu masuk ke rumah. Bersiap untuk berbuka puasa. ***

#WCR_tetap2_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.