Diari Cik Onis

Cik Onis Butuh Bantuan

Pagi jelang siang, Negeri Batu Berserak sedang panas-panasnya. Nyelekiiit
Cik Onis yang dapat tugas jaga toko baru saja mendaratkan motornya di parkiran. Tengok kiri kanan, “Wah, ramai ini di toko sebelah,” kata Cik Onis dalam hati. Habis simpan helmnya di bagasi dan cabut kunci motor, dia berjalan cepat menuju tokonya.

Begitu masuk toko, sambutan semilir angin AC membuatnya mendesah nyaman, “Oooyyy, kimacam masok bang kelokas yeee rase è… deluar seeehhh tepanggang benar,” ujarnya dalam bahasa yegeri Batu Berserak. Icak-icak pandai, padahal ngarang bebas itu ngomongnya.

Sang pegawai yang masih muda belia menganggukkan kepala tanda setuju sambil nyengir. Mungkin di pikirannya begini yang dia bilang, “Cik Onis ini agak korslet sepertinya kena serangan panas. Kasihannyaaa…”

Cik Onis letak tas besarnya di atas meja, geser kursi, lalu duduk berselonjor menghadap AC. Bulan puasa memang ujiannya ya panas, haus, dan orang-orang yang dikirimkan Allah untuk memancing emosi kita. Dan cara paling mudah melalui puasa adalah mendekam di ruangan dingin, sehingga haus jadi tereliminasi, dan jauh pula dari setan, eh, orang, yang terkutuk, eh, yang pancing emosi. Maaf korslet…

Lagi santai begitu, tiba-tiba masuk seorang bapak. “Ada aqua,” tanyanya. Cik Onis melongo sejenak. Ini bukan sedang shooting iklan, kan? Tadi gak pake bedak soalnya. Lalu dia sadar sekarang kan masih bulan puasa, tega bener tukang iklan bikin script dadakan kayak begini. Maka dia menyahut, “Adanya cuma saingan aqua, Pak… Mau?”
Si bapak mengangguk. Lalu mereka tukeran duit dengan barang.

Nah, beres urusan jual beli tadi, Cik Onis kembali selonjor. Tak sampai lima menit masuk pula om-om ganteng tanya stiker. Ooh rupanya ada perlu dengan Maklong Bumbu, yang menyusul masuk sekitar 10 menit kemudian. Urusan mereka berdualah itu. Beres si om, keluar dia, muncul abang-abang pake baju cap hotel. Si abang ini berurusan juga dengan Maklong Bumbu. Mereka ngobrol sejenak dua jenak. Tak lama.

Lalu, “Cik Onis, kita dapat pesanan bikin paket untuk lebaran,” Maklong buka pembicaraan. “Totalnya 81 paket dengan 3 tipe harga. Isinya bebas. Bisa kamu siapkan?”

“Haaaa???” Cik Onis kembali melongo. Kasihan Cik Onis, keseringan melongo membuat wajahnya jadi kurang simetris. Padahal, dia itu kalau perkara susun menyusun semuanya harus sama persis. Kemudian dia memandang sekeliling toko. “Sepertinya bisa, Long. Kita habiskan saja semua stok di sini.”
Maklong pun setuju. Si abang baju cap hotel tersenyum, “Tolong dihitung dulu total harganya. Saya pergi ambil duit sebentar. Saya bayar tunai semuanya.”

Kalkulator pun langsung dipencet-pencet. Cik Onis sampai hitung 2-3 kali. Eh, banyak juga totalnya. Masa iya sih. Tak percaya dia.

Sekitar 15 menit, si abang baju cap hotel datang lagi bawa duit biru bertumpuk-tumpuk. Rasa-rasa nak tergelincir jari Cik Onis hitung lembar demi lembar duit tu. Selembar saja hilang, hilang juga harapan makan sate padang pas buka nanti. Wusss, dia pun istighfar terus dalam hati supaya uangnya cukup dan aman. Alhamdulillah pas…

Sejak hitung duit banyak itu, hilang lemas Cik Onis. Hilang pula semangat selonjor. Berganti jadi galau. Bagaimana ini wadahnya, cukup apa tidak semua stok untuk pesanan ini, siapa yang bungkus dan hias paket? Itu salah tiga pikirannya…

Kebanyakan mikir, kapan kerjanya? Maka Cik Onis pun bertindak memanggil Nyonya Moyang yang pandai simpan duit. Nyonya Moyang pun segera datang. Diserahkannya lah duit bertumpuk itu.

“Kau beri aku 500 saja untuk beli bahan hias paket,” perintah Cik Onis. Nyonya Moyang tanpa banyak cingcong menyodorkan duit merah dan biru. Campuran dua warna itu bikin mata Cik Onis jadi hijau, hatinya jadi pinky. Asyik, bisa belanja belanji, katanya dalam hati.
Dia pun segera meluncur ke toko pernak-pernik langganannya di Pasar Samudra.

Selesai belanja dan menyetor belanjaannya ke toko, Cik Onis pulang dulu. Ada kawannya hendak bertemu di rumah. Lagipula kalau seharian kerja di luar, anak-anaknya pasti protes. Mereka rindu juga dengan emak antik ini.
Nanti malam baru dia balik lagi ke toko untuk membuat paket hias. Tadi sudah kirim pesan minta tolong kawan-kawannya untuk membantu dan mereka setuju.

Malam pun tiba…
Kawan-kawannya sudah menghias dua paket ketika Mang Olele datang dan melihat hasilnya berseru, “Beeeh, ngape kimacam ngembungkus nasi? Bikin nok lagak. Idang berik urang nee. Itula mikak kebanyakan bebiakan duluk e… jadi dak pandai bebuatan.”

Issshh, Mang Olele ini ribut betul. Untungnya dia memberi contoh bagaimana membuat paket hias lebih menarik. Kalau cuma sekedar komen pedas, siap-siap saja mulutnya ditambal selotip.

Malam makin larut. Cik Onis dan kawan-kawan tak mungkin lanjut kerja. Padahal masih banyak yang harus dibungkus. Biarlah, besok dilanjut pula. Tolong bantuin yaaa…

Foto : Ben White/Unsplash

rumahmediagrup/fifialfida

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.