Ramadan Pak Tua

Ramadan Pak Tua

Seperti biasa, pagi buta Pak Tua membuka kios kecil tempatnya berjualan sepatu. Beberapa hari belakangan ini kiosnya sepi pembeli. Semakin sepi saat pemerintah daerah memberlakukan PSBB.

Sebelumnya, ada saja satu-dua pembeli yang datang pagi-pagi begini. Biasanya mereka membeli sepatu karena terdesak kebutuhan. Anak sekolah yang mencari sepatu hitam bertali putih yang harus dipakainya saat ujian, atau pekerja yang mengharuskan memakai sepatu tetapi sepatu yang mereka punya sudah tidak layak dipakai. Tapi kali ini, mereka semua nyaris tidak memerlukan sepatu lagi. Bagaimana tidak, pemberlakuan aturan untuk diam di rumah menyebabkan siswa belajar dan pegawai bekerja dari rumah. Otomatis, mereka tidak memerlukan sepatu untuk beraktivitas.

Pak Tua merasakan dampak langsung dari kondisi yang tidak menentu akibat serangan virus corona ini. Pendapatannya menurun drastis. Padahal, dari hasil penjualan sepatu itulah, Pak Tua menghidupi dirinya sendiri. Dia memang sekarang hidup menyendiri. Sejak istrinya meninggal tiga tahun lalu. Sejak itulah ia hidup sebatang kara.

Sebetulnya, Pak Tua memiliki seorang anak perempuan. Akan tetapi, setelah menikah, anaknya itu diboyong ke kampung halaman suaminya di pulau seberang. Komunikasi antara Pak tua dengan anaknya hanya terjalin selama kurang lebih dua tahun. Setelahnya, ia kehilangan kontak dengan anak semata wayangnya itu. Telepon genggam jadul yang biasa ia pakai, rusak parah setelah jatuh menimpa aspal jalan. Perlu waktu cukup lama Pak Tua mengumpulkan uang agar bisa membeli telepon genggam lagi. Akhirnya terbeli juga sebuah telepon genggam bekas. Lumayan, masih bisa dipakai sekadar menghubungi anaknya. Sayangnya, nomor kontak anaknya sepertinya telah diganti. Semenjak itulah Pak Tua tidak bisa berkomunikasi lagi dengan anaknya. Sepuluh tahun berlalu tanpa ada lagi kabar tentangnya.

Hari beranjak siang. Pak Tua sedang duduk terpekur di bangku plastik depan kios kecilnya saat tiga orang kamtib datang menghampirinya.

“Selamat pagi, Pak Tua,” sapa salah seorang di antaranya.

“Selamat pagi Nak,” jawab Pak tua. “Mau beli sepatu, Nak?” tanyanya kemudian dengan mata berbinar penuh harap.

“Maaf Pak Tua. Kami ke sini bukan untuk membeli sepatu,” tutur kamtib lainnya.

“Oh… Jadi untuk apa Nak?” Pak Tua mengernyitkan dahi.

“Begini Pak Tua, kami sedang melaksanakan tugas. Berdasarkan kesepakatan antara pihak kelurahan dengan beberapa tokoh masyarakat di sini, semua warga harus tinggal di rumah, setidaknya dalam tiga hari ke depan. Jadi, kami mohon  selama tiga hari untuk tidak berjualan dulu.” jelas kamtib yang menyapanya tadi.

“Innalillah…. Kalau saya tidak berjualan, dari mana saya dapat penghasilan, Nak?” Pak tua memelas.

“Begini, Pak Tua. Ada bantuan dari pemerintah daerah untuk yang terdampak seperti Bapak. Lapor saja pada ketua RT tempat Bapak tinggal. Mungkin tidak bisa memenuhi seluruh keebutuhan Bapak. Tetapi, setidaknya dapat membantu meringankan beban Bapak,” papar  kamtib itu lagi.

“Jadi, kapan Bapak harus tutup kios?” tanya Pak Tua.

“Mulai besok Pak.” Jawabnya.

“Baiklah, Nak. Besok bapak tidak akan berjualan,” kata Pak Tua. Serasa ada yang menyayat hatinya. Perih ia rasakan di hatinya. Rasa perih itu menjalar melalui kerongkongan hingga mata yang membuatnya terisak. “Semoga hari ini ada yang membeli sepatu bapak,” katanya kemudian sambil menyeka air matanya yang mulai meleleh membasahi pipinya yang keriput.

“Sabar ya, Pak. Kita semua sedang diuji. Semoga kondisi seperti ini tidak berlangsung lama,” kata kamtib yang tertua sambil menepuk-nepuk bahu Pak Tua.

“iya, Nak. Aamiin,” jawab Pak Tua. Hatinya terasa semakin perih.

**

Hingga azan magrib berkumandang, tidak satu pun pembeli yang datang. Dengan lesu, Pak tua menutup kios sepatunya. “Saatnya berbuka. Aku tidak mempunyai apa pun untuk berbuka, kecuali air putih,” keluhnya. Hatinya terasa begitu pilu.

Berkelebat dalam pikirannya, tagihan sewa kios yang sudah dua bulan ini belum terbayarkan. Sambil berjalan pulang ke rumah petaknya yang tidak jauh dari kiosnya itu, pikirannya terus berputar. Carut marut dalam benaknya itu makin membuat deras air matanya. Segera dia seka dengan punggung tangannya yang juga semakin keriput.

Di atas sajadah lusuhnya, dia bersimpuh. Ditadahkan tangan tuanya. Dengan terbata-bata, di tengah doa, di sela isak tangisnya, Pak tua menyampaikan semua keluh kesahnya kepada Sang Penguasa. Dia sampaikan tentang rasa sepinya, tentang kerinduan pada anak dan istrinya, juga tentang rasa getirnya menghadapi hari esok.

“Tuhanku, aku ini teramat lemah, hanya dengan kekuatan dari-Mulah aku menjadi kuat, maka kuatkanlah aku. Aku takut kerinduanku pada anak dan istriku membuat berkurangnya rinduku pada-Mu. Kerisauanku karena tidak ada lagi penghasilan, aku khawatirkan membuat syukurku pada-Mu hilang. Aku pun khawatir jika perutku yang melilit ini membuatku berputus asa dari rahmat-Mu. Buatlah agar aku ikhlas menerima semua itu.” Tangisnya pecah.

“Wahai Kekasih yang kurindukan, yang paling aku risaukan adalah jika hatiku menjadi lemah. Karena hal itu akan membuatku melupakan betapa kasih dan sayangnya Engkau padaku. Karena itu, kuatkanlah … kuatkanlah hatiku! Hadirlah dalam setiap waktuku agar aku tak merasa sendirian! Aamiin!” Pak Tua mengusapkan kedua telapak tangannya ke muka, menyeka juga pipi keriputnya yang kuyup. ***

#WCR_ramadan2_sinur

rumahmediagrup/sinur

2 comments

    1. Iya, Pak. Wabah corona berdampak langsung pada tatanan kehidupan sosial dan ekonomi kita.
      Kisah ini idenya dari kisah nyata.
      Terima kasih Mr. sidah berkenan singgah mengapresiasi. 🙏🙏🙏

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.