Cinta di Hati Rima – Bagian 2

Cinta di Hati Rima – Bagian 2




Ingatanku kembali ke sepuluh tahun yang lalu. Saat usiaku 25 tahun. Bekerja di salah satu kantor swasta di kota kecil tempat tinggal selama ini. Mama dan Papa aktif sebagai pengajar di sekolah yang berbeda.

Suatu hari Mama mengabarkan jika salah satu temannya di sekolah tempat mengajar sedang mencari calon istri untuk kolega anak mereka.
Tepatnya teman dari menantu mereka. Yang aku tahu, Bu Ranti teman Mama itu memiliki putri pertama yang sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Namanya Alina. Alina bersuamikan Mas Aksa. Nah, teman Mas Aksa ini yang sedang mencari calon istri.

Usiaku sepantaran dengan Alina. Terus terang aku belum pernah bertemu dengannya. Menurut Mama, anak Bu Ranti ini sangat cantik dan cerdas. Dia anak yang beruntung, mendapatkan jodoh dengan cepat dan tepat. Alina dan Mas Aksa menikah lima tahun yang lalu dan sudah memiliki dua orang anak.

Informasi sementara yang aku dapat dari Mama, laki-laki itu usianya sama dengan suami Alina. Usianya 35 tahun. Status perjaka belum menikah tepatnya telat nikah. Pekerjaannya adalah eksportir kopi ke luar negri.

“Wow… eksportir kopi! Pasti kopi berkualitas tinggi nih. Tapi kok belum menikahnya? Apa dia jelek? Atau engga laku? Atau terlalu sibuk?”
Aku menerka dengan tak pasti.

“Gimana, Nak? Mau lanjut ke perkenalan sama temannya Mas Aksa? Tadi Bu Ranti tanya Mama lagi di sekolah. Beliau berharap Rima mau dikenalkan sama temannya Mas Aksa,” tanya Mama sambil tersenyum.

Kulihat mata Mama berharap banyak. Mungkin beliau risau jika anak  perempuannya belum menikah. Usia Mama dan Bu Ranti hampir sama. Mungkin melihat Bu Ranti sudah memiliki cucu, Mama pun berharap sama.

Tak ingin mengecewakan beliau, aku menggangguk. Ada binar di netra beliau. Mama tersenyum lebar. Harapan anaknya akan segera menikah kembali menyeruak.

Dulu, aku pernah memiliki kekasih. Namun kandas di tengah jalan. Kang Tama dijodohkan dengan anak sahabat ibunya. Sedih tapi aku tidak terpuruk. Kuanggap itu hanya proses kehidupan yang harus kulalui karena terlalu menyimpan harapan besar pada makhluk-Nya yang fana.

===

Seminggu setelah kuiyakan tawaran Bu Ranti, Mama mendapat kabar lewat sms bahwa rombongan Alina dari Jakarta akan datang berkunjung dua hari lagi.

Aku berbenah diri. Salon dan butik kudatangi. Aku ingin terlihat segar saat nanti. Mama mulai ribut dengan penampilanku. Papa tidak banyak berbicara. Entahlah yang jelas beliau hanya diam saja. Sementara adik-adik begitu antusias menata isi rumah dan merapikan taman depan.

Dua hari kemudian datang rombongan Bu Ranti dan suaminya, Pak Arifin. Dibelakang mereka kulihat seorang perempuan ramping, tinggi, cantik berhijab menggandeng mesra lelaki tegap di sampingnya.

Aku menyambut mereka di beranda depan. Sementara Mama dan Papa menanti di ruang tamu.

“Pasti itu Alina dan Mas Aksa,” pikirku. “Cantik sekali. Pasangan serasi.”

“Hai, kamu pasti Rima ya? Kenalin, aku Alina. Aduh, kamu cantik sekali Rima. Sstt … Bang Drey pasti menyukaimu,” kata Rania tersenyum nakal.

Drey?

Kutatap Alina dan laki-laki di sampingnya.

Laki-laki tampan di samping Rania kali ini yang tertawa. Dengan lembut di tepuknya pundak wanita cantik itu.

“Saya bukan Drey, Rima!” Sepertinya laki-laki itu tahu isi hatiku. “Perkenalkan, saya Aksa suami Alina. Drey lagi di dalam mobil. Katanya mau menenangkan jantungnya yang sedari tadi mulai bergejolak tak karuan. Sssttt … dia sudah melihatmu lho dari dalam mobil,” godanya. Iseng.

“Oh, jadi lelaki itu bernama Drey,” batinku bersuara.

Aduh, aku merasa wajahku mulai memerah. Untung mereka tidak terus-terusan menggodaku. Pastinya hari ini aku akan menjadi pusat perhatian Alina dan rombongannya.

Kulirik mobil berwarna hitam bernomor  Jakarta yang terpakir di depan rumah. Tidak ada yang keluar dari pintunya. Sementara Alina, Mas Aksa, Bu Ranti dan Pak Arifin sudah ada di dalam bersama Mama dan Papa.

Aku membalikan badan. Hendak bergabung dengan para tamu. Malu rasanya jika ketahuan mencoba mengintip penghuni yang tertinggal di mobil itu.

Pyuuhh … kuhembuskan pelan-pelan nafasku.

Jangankan dia yang dibilang Mas Aksa sedang meredam suasana hatinya, rasa di dadaku pun mulai berloncatan membentur dinding jiwa dan sukses menghasilkan getaran-getaran halus.

“Assalamualaikum Mbak Rima …”

Belum hilang degup jantungku, suara bariton di belakang ternyata mengagetkanku. Aku terlonjak.

Refleks aku membalikan badan.

Ya Tuhan …

-Bersambung-


Gambar dari Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.