Aki dan Ambu – Bagian 3 (Bantuan Terdampak Corona)

Aki dan Ambu – Bagian 3 (Bantuan Terdampak Corona)

Seperti biasa, setelah mengurusi tanaman di halaman rumahnya, Aki Rahmat duduk santai di teras rumah sambil menikmati hangatnya udara sore. Berkali-kali dia menoleh ke arah  rumah Mang Kardin. Rumah mereka memang bersebelahan. Rumah Mang Kardin berada di samping kanan rumah Aki Rahmat. Kedua bertetangga itu biasa saling mengunjungi. Tetapi karena di teras rumah Aki ada kursinya, maka Mang Kardin yang lebih memilih berkunjung. Ada saja yang mereka obrolkan. Tapi, semenjak pandemi corona, mereka membatasi untuk sering-sering mengobrol.

Sebetulnya, belum genap setahun Aki Rahmat menetap di kampung itu. Dia dulu seorang pejabat teras salah satu BUMN di ibu kota. Setelah pensiun, dia kembali ke kampung halamannya dan menetap di rumah yang sengaja dia bangun di atas tanah warisan dari ayahnya.

Aki Rahmat adalah sosok pria tua bersahaja. Meskipun jarang keluar rumah, tapi di kampung barunya itu, dia dikenal warga sebagai dermawan. Begitu juga dengan istrinya, Ambu Rahmi. Kedua suami istri itu disukai para tetangganya. Di antara semua tetangganya itu, Mang Kardinlah yang paling sering mengobrol dengan Aki Rahmat. Selain karena rumahnya yang memang bersebelahan, kedua laki-laki itu memang sama-sama suka mengobrol.

“Ke mana ya Mang Kardin? Tumben sore begini tidak terlihat batang hidungnya?” Batin Aki Rahmat. Diambilnya gawai yang selalu berada di dekatnya. “Untung ada benda kecil ini, jadi aku bisa lihat kabar terkini. Jika  tidak ada ini, aku harus terus nongkrong di depan televisi,” gumamnya. Di kampung itu memang sulit mengakses surat kabar. Makanya, Aki Rahmat selalu mencari berita terkini di gawainya. Dia tidak terlalu suka berada lama-lama di depan televisi.  “TVRI sulit diakses di sini,” keluhnya suatu ketika.

Memang ada juga beberapa chanel televisi swasta yang dia tonton. Tetapi itu pada acara tertentu saja yang memang dia suka. Acara-acara yang membuka wawasan tentunya. Selain alasan itu, karena televisi di rumahnya hanya ada satu, sementara Ambu lebih mendominasi untuk memegang kendali remot, maka Aki Rahmat memilih mengalah. “Biarlah, si Ambu dapat hiburan gratis dengan sinetron striping yang alurnya muter-muter, konfliknya berkepanjangan hingga tak juga bertemu ending. Atau film-film impor yang didubbing kesukaannya,” kilahnya suatu ketika.

Hampir pukul lima petang, Mang Kardin menghampiri Aki Rahmat. Seperti biasanya, kedua sahabat itu langsung larut dalam obrolan tentang berita terkini, masih sekitar corona.

“Dari mana saja, Mang? Baru kelihatan,” tanya Aki Rahmat.

“Dari rumah Pak RT, Ki,” jawab Mang Kardin.

“Ada apa ke rumah Pak RT,” selidik Aki.

“Menyerahkan data ajuan penerima bantuan, Ki,” jawab Mang Kardin.

“Mamang mengajukan itu juga?” Tanya Aki Rahmat dengan nada heran. Sepengetahuannya, meskipun tidak tergolong kaya, kehidupan Mang Kardin terlihat cukup mapan. Apa lagi kebutuhan dia disokong anak sulungnya yang bekerja di kota.

“Bukan untuk mamang. Mamang membantu Nenek Irah. Itu loh yang rumahnya dekat sawah. Kasihan dia, sudah tua, hidup sebatang kara pula,” jelas Mang Kardin.

“Oooh …. Saya kira Mamang yang mengajukan agar dapat bantuan, “ Aki manggut-manggut.

“Malu atuh, Ki. Masa iya mamang mengajukan untuk dapat bantuan. Alhamdulillah, sampai sekarang sih mamang tidak berkekurangan,” kata Mang Kardin dengan wajah serius. “Ambu mana, Ki?” Lanjutnya sambil melongok ke dalam rumah.

“Ambu mah  masih di dapur meureun, belum selesai memasak untuk berbuka,” jawab Aki sambil ikut melongok ke dalam.

“Hebat si Ambu mah, jago masak. Masakannya enak-enak,” puji Mang Kardin.

“Alhamdulillah Mang, kegemaran si Ambu atuh masak mah. Aki juga terpikat ku si Ambu teh karena dia pandai memasak. Kata orang sih, cinta itu datangnya dari lidah turun ke perut, eh ke hati, he … he … he …. Makanya, sejak menikah, Aki mah jarang makan di luar,” papar Aki.

“Wah, hebat atuh Ki, lebih terjamin gizinya,” puji Mang Kardin lagi.

“Iya Mang. Masakan rumah rasanya lebih enak dan irit lagi, ha … ha … ha…,” kata Aki diikuti tawa renyahnya.

“Ikutan dong tertawanya,” Ambu muncul dari pintu.

“Ini Ambu, Mang Kardin memuji Ambu. Katanya Ambu pintar masak. Masakan Ambu enak-enak cenah,” Aki menjelaskan.

“Ah, Mang Kardin mah suka berlebihan. Tidak pintar juga kali, Mang. Sekadar untuk menangkal lapar saja,” kilah Ambu.

“Kali ini masak apa, Ambu?” Tanya Aki.

“Untuk takjilnya kolak labu pemberian Mamang kemarin. Kalau untuk teman nasinya sih, seadanya yang Ambu beli bahannya dari warung.” Jawab Ambu. “Mamang buka di sini saja. Sebentar lagi juga azan,” ajak ambu.

“Terima kasih banyak tawarannya, Ambu. Tapi … ya itu, kalau mamang buka di sini, kasihan yang di rumah menunggu. Kami terbiasa berdoa bersama sebelum berbuka” jawab Mang Kardin.

“Wah, bagus itu Mang. Memang harus begitu. Semoga berkah Ramadannya bertambah,” Aki memberi penguatan.

“Aamiin. Mamang permios Ki, Ambu,” Mang Kardin pamit pulang.

Mangga  atuh Mang.  Salam untuk yang di rumah,” Ambu yang menjawab.

“Insya Allah, Ambu. Assalamualaikum.,” Mang Kardin beranjak menuju rumahnya.

“Waalaikumussalam,” jawab Aki dan Ambu bersamaan.

Kedua suami itu pun bergegas masuk rumah. Bersiap-siap untuk berbuka. ***

Catatan:
mah (Sunda) : penegas kata (tidak ada padanan dalam bahasa Indonesia)

Atuh (Sunda): penegas kata bisa berarti lah atau dong

Meureun (Sunda): mungkin

Ku (Sunda): oleh

Cenah (Sunda): katanya

Permios (Sunda): permisi/pamit

Mangga (Sunda): silakan

#WCR_tetap3_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.