Telur Ceplok Untuk Sahur

Telur Ceplok Untuk Sahur





Selesai salat tahajud dan membaca Alquran, Aisyah berzikir sambil menunggu azan Subuh. Di rumah hanya ada Aisyah dan Naina, sang kepala keluarga, Rahmat, sedang berikhtiar mencari rezeki lewat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

Rahmat adalah salah satu pekerja proyek sebuah gedung sekolah yang terpaksa dirumahkan oleh perusahaan kontraktor saat ini. Tidak hanya Rahmat, tapi semua teman-temannya yang tergabung dalam proyek tersebut.

Di saat orang-orang diwajibkan untuk tinggal rumah saja agar terputusnya rantai penyebaran virus corona di masa pandemi ini, hal itu tidak berlaku bagi Rahmat. Andaikan saja dia mengikuti anjuran itu, mau diberi makan apa anak dan istrinya.

Dengan bekal doa dan keyakinan diri, sang kepala keluarga meminta keridaan istri dan anak agar tetap berada di luar rumah mencari uang untuk sesuap nasi dan membayar kontrakan bulanan.

Rahmat bukannya tidak takut akan terpapar virus jika berada lama di luar dan bertemu orang banyak, tapi keadaan yang memaksa laki-laki kekar itu untuk menerjang bahaya. Apalagi Ramadan akan tiba. Dia ingin sahur pertama tersedia makanan yang layak untuk mereka makan. Atau setidaknya, mereka mempunyai bekal untuk beberapa hari ke depan.

Azan Subuh sudah terdengar dari Masjid yang tidak jauh dari rumah kontrakannya. Aisyah perlahan membangunkan Naina untuk salat subuh berjamaah. Gadis kecil usia sepuluh tahun itu bangun dan segera menuju kamar mandi.

Aisyah menatap wajah putri kecilnya yang basah oleh air wudu. Wajah yang polos dengan netra bening indahnya. Parasnya mirip dengan Rahmat.

“Kita salat berjamaah ya, Nak! Doakan agar Abah pulang hari ini membawa rezeki untuk persiapan saum lusa,” kata Aisyah lembut.

Gadis kecil itu tersenyum dan menggangguk. Mendoakan Ambu dan Abah sering dilakukannya setiap selesai salat.

Mereka salat dengan khusyuk dan penuh kepasrahan. Masa-masa yang sulit tengah hadir di depan mata. Mereka memang terbiasa prihatin, tapi saat ini keadaan mereka betul-betul sudah di ambang batas.

****

“Ambu, aku lapar. Makan apa hari ini?” tanya Naina.

Dari tadi, gadis kecil itu mondar-mandir ke dapur dan melihat meja makan tidak ada yang berubah. Tetap kosong. Sementara Aisyah sedang sibuk dengan cucian di kamar mandi. Cuciannya kini tinggal dijemur.

“Sebentar ya, Nak. Ambu mau masak nasi spesial buatmu. Duduk di sana sambil baca buku. Jangan ke dapur sebelum Ambu memanggil!” jawab Aisyah.

Naina mengangguk dengan hati senang. Dia mau menunggu walaupun perutnya keroncongan. Lalu diambilnya buku. Saking asyik membaca dia lupa akan perutnya. Sekilas,terdengar pintu samping dapur terbuka.

Setengah jam berlalu. Aisyah datang tergopoh-gopoh membawa nasi goreng dua piring dengan telor ceplok, satu untuk Naina dan satu piring lagi disimpan di atas meja.

“Ayo, Nak! Makan dulu! Ambu udah buatkan nasi goreng telor mata sapi. Pasti kamu suka,” kata Aisyah sambil memberikan sepiring nasi.

Naina memandang dengan sukacita. Air liurnya kembali terbit dan perutnya yang keroncongan berbunyi meminta jatah untuk segera diisi. Segera dilahapnya nasi goreng buatan Ambunya. Namun, Aisyah mengingatkan untuk mencuci tangan dan berdoa. Naina menuruti titah Ambunya.

“Ambu kok engga makan?” tanya gadis kecil itu heran. Nasi goreng yang di meja tidak disentuh sama sekali oleh ibunya.

“Ambu udah kenyang, Nak! Nasi ini untuk Abahmu. Sore nanti pulang,” Aisyah tersenyum lembut. “Oh, udah habis ya, nasi gorengnya? Waduh, anak Ambu pintar. Sekarang, piringnya dicuci ya! Siap-siap salat zuhur. Bentar lagi azan,” ujar Aisyah.

Baik, Ambu sayang!” jawab Naina sambil berjalan menuju dapur.

Aisyah kembali tersenyum. Hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini. Dia bangga dengan anak satu-satunya. Tidak pernah mengeluh maupun meminta hal yang tidak bisa diberikan olehnya.

Perempuan muda itu menatap nasi goreng yang ada di meja makan. Ingin rasanya dia menikmati nasi goreng yang dia masak itu. Sedari malam perutnya begitu perih belum diiisi. Tadi pagi dia hanya minum teh manis hangat saja. Anaknya tidak tahu jika nasi dan telur ceplok yang dibuatnya barusan adalah upah mencuci piring di warteg depan jalan.

****

Rahmat baru saja pulang. Dia langsung mandi dan pakaian yang dikenakannya segera dimasukan ke ember. Rahmat tidak mau membawa virus masuk ke rumahnya. Sejak kemarin pagi, laki-laki itu pamit mencari pekerjaan sambil membawa peralatan tukang.

“Dek, aku ada uang! Cuma dapet segini. Proyek, kata Kang Bandrun, belum jalan. Ini juga karena ada orang yang minta ngegali tanah buat nanem pohon di rumahnya.” Laki-laki itu menyerahkan empat lebar uang duapuluhan. “dua puluh ribunya Akang pake buat peminta-minta lumpuh yang belum makan,” kata Rahmat lagi.

Aisyah bersyukur, masih ada rezeki untuk mereka. Lalu diberikannya nasi goreng yang tadi siang dibuatnya. Naina sedang duduk di ruangan depan sambil belajar.

“Kang, makan dulu! Aisyah udah bikinin nasi goreng. Naina udah makan tadi siang, sepiring lagi buat Akang.”

Rahmat menatap istrinya. Ada ketulusan yang dia lihat di mata perempuan itu.

“Dek, Akang udah makan tadi.
Dikasih sama yang punya rumah. Makan aja sama kamu,” jawab Rahmat.

Aisyah sekarang yang menatap dalam-dalam suaminya. Dia tahu apa yang ada dipikiran laki-laki itu.
Lalu diambilnya nasi goreng itu.

“Kang, Aisyah tahu Akang belum makan,” lalu disuapkannya satu sendok nasi ke mulut suaminya.

Rahmat terkejut dan langsung membuka mulutnya. Terasa enak nasi goreng buatan istrinya. Lalu dia mengambil alih sendok yang ada di tangan Aisyah. Sekarang giliran dia yang menyuapi Aisyah. Aisyah terpana. Ragu-ragu dia membuka mulutnya dan menikmati suapan dari Rahmat.

“Kita sama-sama makan ‘kan, Dek! Jadi kenyang atau lapar kita tanggung berdua. Terima kasih ya! Selalu sabar mendampingi Akang selama ini,” kata Rahmat lembut dan tangannya mengusap pipi tirus Aisyah.

Mata Aisyah berkaca-kaca. Perempuan itu tersenyum sendu dan menggangguk.

*****

Dengan berbekal uang yang diberikan Rahmat kemarin, Aisyah berjalan menuju pasar yang tdak jauh dari rumah kontrakannya. Nanti malam sudah tarawih pertama.

Aisyah terkenang, jika tahun kemarin, setiap munggahan atau saum pertama mereka selalu pulang kampung ke rumah orangtuanya di kota lain. Walaupun orang tuanya di kampung hidup sederhana, tapi kebutuhan sehari-hari tercukupi. Emak dan Bapak memilik sawah dan kebun walaupun tidak luas. Di depan rumahnya ada kolam ikan dan kandang ayam yang bisa diambil kapan saja mau. Mereka tidak kekurangan.

Ada lagi yang paling Aisyah ingat, sehari sebelum saum, mereka sekeluarga akan ziarah ke makam orang tua Emak dan Bapak Aisyah kemudian lanjut ke kampung sebelah, berziarah ke makam orang tua Rahmat. Suaminya sudah kehilangan orang tua sejak Rahmat masih kecil.

Setelah itu, Aisyah, Emak, dan beberapa saudara sepupu perempuan akan memasak untuk dimakan sore hari dan  mempersiapkan makanan untuk sahur. Sementara Bapak dan Rahmat, membersihkan rumah serta pekarangan agar terlihat berbeda dari hari-hari biasa.

Setelah tiga hari di kampung, keluarga kecil Aisyah kembali ke perantauan. Tentu membawa buah tangan dari Emak. Ada ayam, kelapa, sayur mayur dari kebun, gula aren, dan juga berbagai makanan kering yang bisa disimpan lama. Tentu saja Aisyah akan membagikannya kepada para tetangga di dekat kontrakan.

Sayang, tahun ini mereka tidak bisa pulang ke kampung. Ada pelarangan dari pemerintah, orang-orang yang tinggal di kota dengan tanda zona merah tidak boleh pergi atau pulang kampung ke daerah lain. Jika pulang, dikhawatirkan mereka akan membawa virus ke daerah tujuan.

Pasar sudah terlihat. Aisyah menyudahi lamunannya. Ternyata, walaupun kondisi pandemi, pasar tetap ramai. Aisyah memakai jilbab dan juga masker kain yang diberikan tetangganya.

Aisyah menatap uang yang diberikan Rahmat kemarin. Dia berpikir keras. Apa saja yang bisa dibelanjakan dengan sejumlah uang di tangannya. Harga-harga pangan ternyata cukup tinggi.

Akhirnya Aisyah mendapatkan bahan makanan yang dicarinya walaupun harus sedikit menawar kepada penjual. Sebenarnya dia tidak tega, namun dia terpaksa.

“Maaf ya, Mbak! Saya nawar mulu dari tadi. Uangnya engga cukup. Kalo engga, seadanya aja. Yang penting saya dapet barang yang saya butuhkan,” kata Aisyah dengan malu.

Penjual sayuran tersenyum. Dia paham kondisi saat ini. Lalu dia membungkus bahan-bahan yang diminta Aisyah dengan cekatan setelah itu diberikannya kepada Aisyah.

“Terima kasih banyak, Mbak!

“Sama-sama.”


Aisyah segera pulang, sekilas dia melihat seorang ibu di depan kios sembako. Diikuti dua orang perempuan, mungkin pembantunya, dia berbelanja cukup banyak bahan-bakan keringan. Mungkin untuk stok.

Aisyah mengelus dada.

*****

Waktu sahur telah tiba, Aisyah membangunkan Rahmat dan Naina. Mereka lalu menuju meja makan.
Hanya ada goreng tempe, sayur bayam, telor cemplok yang diberi bumbu tumis bawang dan cabe.
Sederhana sekali namun terasa nikmat. Naina memakan hasil olahan Aisyah dengan lahap. Begitu juga dengan Rahmat. Aisyah bersyukur, kondisi prihatin tidak membuat mereka putus asa akan rezeki esok hari.

Rezeki Allah itu begitu banyak. Insyaallah untuk esok sudah pasti akan ada r, asalkan mau berikhtiar dengan optimal lalu menyempurnakannya dengan tawakal dan kanaah.

Sahur kali ini terasa syahdu dan sepi. Hanya hati yang penuh keikhlasan dan kepasrahan kepada takdir Allah bisa melewati ujian yang belum berujung.

Sumber foto dari Pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.