Maafkan Aku, Ibu

Maafkan Aku, Ibu

Alarm dari gawaiku membangunkan aku dan isteri. Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari. Tubuh terasa masih penat karena malam tadi kami melaksanakan tarawih pertama setelah salat Isya. Hal ini belum terbiasa karena tidak seperti malam sebelumnya yang hanya salat Isya.

Kami ke kamar mandi dan berwudu. Selain membuat segar, wudu sebagian dari ibadah. Setelah itu kami melaksanakan salat Tahajud namun tidak berjamaah. Segala doa kupanjatkan terutama memohon terhindar dari virus corona.

Aku lanjut tadarus sedangkan isteriku menyibukkan dirinya di dapur untuk menyiapkan hidangan sahur. Biasanya di hari pertama, isteriku masak semur daging kesukaan keluarga kami. Pada saat sahur, isteriku cukup menghangatkannya.

Semur daging seyogyanya sudah masak sejak magrib sehingga kami sudah menyantapnya di malam pertama. Namun kali ini berbeda karena pasar terdekat rumah kami tidak menyediakan daging sehingga isteriku masak seadanya. Pasar tidak seramai sebagaimana menjelang Ramadan di tahun-tahun sebelumnya. Covid-19 telah mengubah hampir segalanya.

Selesai tadarus, pandanganku tertuju pada sebuah foto yang terpajang di atas lemari pajang. Dari beberapa deretan foto, mataku basah memandang salah satunya. Ia adalah ibuku.

Aku merasa bersalah karena tidak sempat menemuinya menjelang Ramadan. Biasanya kami keluarga besar berziarah di makam ayahanda beberapa hari sebelum Ramadan. Kemudian kami menyantap masakan ibu yang selalu terhidang di rumahnya yang besar itu.

Lamunanku membayang bahwa ibuku merasa kesepian di rumah itu karena tidak ada kehadiran anak, menantu, cucu, dan cicitnya. Ia tinggal bersama adikku yang paling bungsu. Paling tidak keluarga adikku mampu menghiburnya.

Kondisi saat ini sangat berat kami rasakan. Ibuku tinggal di zona merah di mana kami selalu berpesan agar ia tidak ke luar rumah. Keadaan semakin memburuk sehingga pemerintah daerah menerapkan PSBB. Air mataku bertambah deras karena khawatir tidak bisa menjumpainya di hari Idulfitri.

“Ayah, ayo kita sahur,” panggil isteriku. Aku segera menyeka pipiku yang basah.

“Iya, Ma,” jawabku.

Aku berdoa semoga ibu selalu sehat dan berkah di usia senjanya. Amin.

Rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.