Sahur dan Pantai Teluk Penyu

Sahur dan Pantai Teluk Penyu

Nasi goreng, telur dadar suwir, dan sepotong tempe goreng menemani sahurku pagi itu. No sendok. Aku lebih suka makan menggunakan tangan. Kata pak ustaz hal itu sunah. Akhirnya, tiap kali makan-makanan yang tanpa kuah, aku memakannya menggunakan tangan. Lebih enak ternyata. Segera kumasukkan potongan tempe terakhir. Menu sahur yang sederhana, namun nikmat kurasa. Ditutup dengan segelas teh hangat. Alhamdulillah. Tak lama kemudian terdengar pengumuman dari toa masjid bahwa telah masuk waktu imsak.

Aku segera ke kamar mandi, menggosok gigi, lalu segera ke masjid untuk salat Subuh berjamaah. Setelah itu, aku dan teman-temanku tetangga kiri-kanan akan berjalan-jalan ke Pantai Teluk Penyu Cilacap. Di sana kami bermain pasir atau hanya sekedar duduk-duduk saja menunggu matahari terbit. Saat matahari telah terbit dengan sempurna, kami pun segera pulang. Begitulah yang sering kami lakukan setelah makan sahur. Tak ada kata bosan.

***

Malam sebelum sahur, kami menunaikan salat Isa dan salat Tarawih berjamaah di masjid. Suasana di masjid sangat ramai. Aku dan beberapa anak perempuan menempati saf paling belakang. Di depan kami adalah saf perempuan dewasa, lalu di depannya lagi saf anak laki-laki, dan yang paling depan saf lelaki dewasa. Posisi anak-anak perempuan berada di saf paling belakang bukan tanpa sebab. Mereka ke masjid biasanya tak hanya untuk mengikuti salat Tarawih, tapi untuk berjumpa dengan teman-temannya. Jadilah kadang mengobrol di sela-sela khutbah sebelum salat Tarawih dimulai, termasuk aku hehehe ….

“Eh, judulnya apa tadi, ya?” tanya Okti, tetanggaku.

Tangannya memegang sebuah buku pantauan salat Tarawih. Buku itu harus dikumpulkan saat kami masuk sekolah nanti setelah libur Idul Fitri usai. Kusodorkan bukuku. Tadi aku khusyu mendengarkan ceramah, jadi tahu judulnya.

“Cepet dihabiskan, hampir imsak!”

Teriakan ibu membuyarkan lamunan masa kecilku. Ah, serunya masa-masa itu. Jalan kaki ke pantai yang berjarak sekitar 4 kilometer, diselingi bermain petasan banting hampir di sepanjang jalan.

Aku memasukkan potongan ayam goreng ke dalam mulutku, ditutup dengan semangkuk sup hangat. Ramadan yang sungguh berbeda. Bukan menunya yang kurindu, tapi suasananya. Pandemi Covid-19 mengubah segalanya. Tak ada salat Subuh berjamaah. Bahkan, selama wabah corona ini aku dan keluarga kecilku pulang ke rumah ibu. Itu terjadi setelah aku dinyatakan sebagai ODP (Orang Dalam Pantauan) setelah pulang bertugas dari Malang pertengahan Maret lalu. Walhasil, aku “karantina mandiri” di rumah ibu.

Kuambil air wudu selepas mendengar azan subuh. Ada keinginan untuk main ke Pantai Teluk Penyu sebenarnya. Tapi aku yakin, orang-orang di kota kecil ini pasti berpikiran sama, jalan-jalan ke pantai. Ya, ke mana lagi, kotaku kan memang kota pantai. Akhirnya, aku memilih melanjutkan tugas menulis yang deadline beberapa hari lagi.

Dan, benar saja, kudengar kabar setelah sahur pertama, banyak masyarakat yang berkunjung ke Pantai Teluk Penyu. Akibatnya tempat favorit ngabuburit dan nongkrong setelah sahur itu pun ditutup untuk mencegah mewabahnya corona. Semoga wabah ini segera berakhir, ya Allah. Sungguh, kurindu Ramadan yang dulu.

Pagi di Pantai Teluk Penyu Cilacap
Foto: winda’s collection

rumahmediagrup/windadamayantirengganis

5 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.