Aroma Tak Bertuan

Belajar positif thinking

“Terus saja bicara, lanjutkan ngobrolnya! Bila perlu tak perlu diam. “Jelas bu Rani ketika masuk di salah satu kelas. Anak-anak merasa heran dan kaget ketika kedatangan bu Rani secara mendadak dan langsung meledak amarahnya.

“Kalian tahu, ini tembok terbuat dari apa? Apakah terbuat dari bata? atau hanya tempelan teriplek! Kalian tahu, ketika kalian berbicara atau tertawa sedikit pun, pasti terdengar ke ruang sebelah. Tahu tidak, itu sangat mengganggu penghuni ruang sebelah!” Cerocos bu Rani dengan power tinggi.

Anak-anak semakin takut. Karena guru ini tak marah saja, anak-anak  takut apalagi saat suaranya menggelegar karena emosi. Usut kena usut ternyata, bu Rani merasa tersinggung karena secara kebetulan saat ada tamu di ruang sebelah dan ia mengajar di kelas sebelahnya. Bu Rani belum ada di kelas, tetapi ketua kelas masih menyiapkan persiapan untuk belajar. ketua kelas harus mempersiapkan proyektor dan kawan-kawannya, sedangkan bu Rani masih di kelas perwaliannya.

Bu Rani selalu membiasakan salat Duha sebelum mengajar. Selain itu ia harus mengarahkan dan memberikan pijakan kepada perwaliannya sebelum ia meninggalkan kelas. Secara kebetulan kelas perwaliannya pun masih kosong karena belum ada guru. Sehingga ia pun harus mengondisikan anak-anak perwaliannya. Namun ternyata di sisi lain, ia pun harus mengajar di kelas lainnya.

Kelas yang akan dia ajar bersebelahan dengan ruang guru. Secara kebetulan pula ada tamu. Kelas ini terbilang kelas istimewa, hampir semua guru mengatakan bahwa siswa ini memang cenderung sangat aktif. Selain itu pula, kelas tersebut terhalang pemisah yang bukan terbuat dari tembok bata. Sehingga segala suara dan aktivitas mereka pasti terdengar jelas. Mungkin berbicara pelan pun akan terdengar ke sebelah.

“Ketahuilah, ibu sangat marah ketika ada informasi bahwa kelas ini sangat berisik. Memang apa yang kalian lakukan? Pukul-pukul meja, gendang-gendang meja atau teriak-teriak? Atau jangan-jangan kamu jerit-jeritan? Tembakan pertanyaan keluar dari bu Rani dengan emosi. Siswa hening, semua tertunduk, tak ada yang mengeluarkan kata. Mata bu Rani terbelalak, ia tak sadar padahal ia dalam kondisi sedang berpuasa.

“Bu, kabel HDMI nya enggak ada” kata Adit. Adit sebagai ketua kelas menyampaikan kepada bu Rani. “Sudah nanti dulu, biarkan itu proyektor! Jangan disentuh.” Teriak bu Rani. Tak biasa bu Rani marah begitu dahsyat terhadap Adit. Adit anak yang baik dan rajin, ia menjadi sasaran kemarahan bu Rani, padahal Adit hanya menenangkan bu Rani.

Kembali bu Rani menjelaskan, akan tetapi suaranya mulai rendah. “Kalian harus paham, dan harus menyadari bahwa kelas kalian ini rawan sekali. Bicara sedikit saja terdengar ke ruang sebelah. Diam saja, tak perlu berbicara biar tenang, biarkan kelas ini sepi walau seperti kuburan. Bicaranya berbisik, bila perlu gunakan isyarat. Apabila tak ada kegiatan maka lebih baik tertidurlah daripada kalian bersuara.” jelas bu Rani dengan intonasi yang mulai melemah.

Bayangkan, anak remaja yang sedang aktif-aktifnya. Mereka memerlukan ekspresi yang bebas, bebas bersuara dan bercanda. Namun karena keterbatasan ruangan sehingga mengakibatkan anak-anak seusianya itu tak mampu mengekspresikan hasratnya. Ada hal yang lucu terjadi ketika pembelajaran berlangsung. Bu Rani karena dari awal sudah tak merasa nyaman, sehingga ketika melihat kondisi sedikit ramai, ia langsung menegurnya. Anak-anak berbicara pelan malahan mereka  berbisik-bisik. Padahal mereka sedang belajar mempresentasikan hasil karyanya. 

Tiba-tiba saat hening, terdengar bunyi tertahan tetapi terdengar jelas.  Tuuuuuuut. Anak-anak tetap diam, dan tak bersuara. Mulailah tercium aroma yang luar biasa, membuat kepala menjadi pusing dan perut terasa mual. Ternyata ada salah satu siswa yang menahan sakit perut, dia tak berani izin keluar kelas. Ia tahan sakit perutnya hingga tak mampu menahan akhirnya keluarlah bunyi.

Belajarlah lebih bersabar,Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Surat Al-Baqarah; Ayat 153)

rumahmediagrup/suratmisupriyadi



One comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.