Komunikasi Pola Rasulullah

Komunikasi Pola Rasulullah

Komunikasi efektif dapat diartikan sebagai pertukaran informasi yang tepat sasaran, sehingga mampu menghasilkan perubahan sikap. Artikel kali ini mencoba memaparkan pola-pola komunikasi yang dicontohkan oleh makhluk termulia, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau dikenal sebagai sosok nomor wahid yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, demikian yang diungkap Michael H. Hart dalam bukunya The 100 A Ranking Of The Most Influential Persons In History.

Berikut sekelumit petikan keluhuran pekerti manusia agung ini. Hingga tak heran beliau sukses memimpin dunia. Meraih simpati kawan maupun lawan.

1. Sedikit Bicara Banyak Kerja (less talk do more)

Beliau lebih mengutamakan praktik (suri teladan) ketimbang banyak teori (bicara). Dari praktik-praktik inilah para sahabat mencontoh amal perbuatan Nabi dan meriwayatkannya dalam bentuk hadits hingga sampai kepada kita, sehingga dapat kita amalkan pula seperti yang Nabi contohkan. Praktik memang lebih efektif mengubah perilaku seseorang daripada teori.

2. Menjauhi Perkataan Dusta

Beliau tidak pernah mengucapkan sepatah kebohongan pun sedari kecil. Penduduk Makkah menyematkan gelar al Amin (yang dapat dipercaya) kepadanya. Kejujuran beliau telah memikat segenap hati insan dan menjadi modal kesuksesan beliau dalam mendakwahkan Islam.

3. Berkata yang Menyejukan

Beliau tidak pernah melontarkan kata-kata yang menyakitkan hati pendengar, sekalipun dalam keadaan marah. Beliau balas kejahatan dengan kebaikan, sehingga banyak hati yang luluh dan berbalik mencintai beliau. Sabdanya, “Janganlah engkau berkata buruk, karena Allah tidak menyukai perkataan yang buruk dan keji.” (HR. Muslim).

4. Hemat Kata Padat Makna

Beliau memiliki keistimewaan yang disebut dengan Jawami’ al-Kalim, maknanya perkataan beliau ringkas lagi sarat makna serta mudah dipahami. Beliau berbicara tidak bertele-tele, tidak bias makna dan semacamnya yang dapat menghambat keefektifan komunikasi. “Sesungguhnya kalimat Rasulullah sangat jelas dan mudah dipahami bagi setiap yang mendengarkan.” (HR. Abu Dawud).

5. Berwajah Ceria

Beliau menampakkan wajah yang ceria dan rupa yang berseri dalam pergaulan sehari-hari. Melihat wajah indah beliau yang bak bulan purnama dengan senyuman yang terurai, menciptakan kehangatan suasana dan kelekatan batin serta memecah kebekuan di hati. Beliau berwasiat, “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun juga, meski engkau bertemu saudaramu dengan wajah berseri.” (HR. Muslim no. 2626).

Sangat penting artinya berkomunikasi dengan disertai wajah yang berseri-seri, dengannya akan mengundang rasa simpati di hati, sebagai awal terciptanya interaksi yang efektif dan terjalinny

6. Memuliakan Lawan Bicara

Cara beliau memuliakan lawan bicara adalah dengan memusatkan perhatian kepada orang yang berbicara  atau yang diajak bicara. Menunjukkan antusiasme terhadap apa yang didengarkan serta tidak menyela pembicaraan. Dari Amru bin ‘Ash, ia berkata, “Rasulullah apabila berbicara menghadap kepadaku, hingga aku merasa bahwa aku yang terbaik di antara orang-orang.”

7. Memahami Kondisi Penanya

Beliau akan memberikan jawaban sesuai kondisi penanya, sehingga jawaban beliau sesuai kadar kemampuan penanya dalam melaksanakannya. Beliau memahami bahwa kondisi penanya berbeda-beda dalam merespon jawaban beliau dalam bentuk perilaku, walaupun pertanyaannya sama. Hal ini sebagaimana kita dapati contohnya dalam kisah Abu Bakar dan Sa’ad bin Abi Waqqash yang datang kepada beliau untuk bertanya dalam masalah menginfakkan harta dan jawaban beliau berbeda bagi keduanya.

8. Berlaku Lemah Lembut

Beliau sangat mengutamakan sikap lemah lembut. Kelembutan beliau telah banyak mampu meluluhkan hati yang sekeras batu. Dari yang semula antipati menjadi simpati; yang semula memusuhi menjadi mencintai; yang semula membenci menjadi mengasihi. Sabda beliau, “Hendaklah engkau bersikap lemah lembut dan jangan bersikap kasar maupun berkata buruk. Sesungguhnya sifat lemah lembut itu tidak terdapat pada sesuatu, melainkan ia menjadi bagus. Dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan ia menjadi buruk.” (HR. Muslim).

Demikianlah sekelumit paparan bagaimana interaksi Rasulullah. Semoga kita dapat mencontoh pola komunikasi beliau. Aamiin yaa Robbal ‘aalamiin.

(rumahmediagrup/wahyudinaufath)

Gambar: Blog.unitomo.ac.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.