Sahur Pertama di Tengah Pandemi

            “Sahur…sahur! Sahur…sahur!”

            Sobat, siapa yang tak merindu dengan panggilan sahur itu? Dengan disertai bunyi kentongan yang khas, atau malah ada yang pakai angklung. Sungguh meriah sekali. Rindu, ya begitu rindu hati ini dengan suasana tersebut. Panggilan sahur yang daya hipnotisnya begitu kuat sehingga mampu membangunkan orang yang kelelahan sekalipun. Namun sayang, di tengah pandemic covid 19 ini dengan terpaksa alarm riuh tersebut terpaksa hilang.

            Di Brebes atau Cirebon, tidak ada yang khas dalam hal makanan untuk menyambut sahur pertama di bulan ramadhan.  Kemeriahan sahur pertama dan sahur selanjutnya ada pada “obrog” panggilan sahur yang meriah dengan nyanyian dan tabuhan yang beraneka. Ciri khas ini sungguh memberi kesan mendalam, terlebih bagi anak kecil. Terkadang anak-anak menunggu saat-saat sahur dengan antusias karena obrog ini.

            Ah, sedih rasanya! Sahur di hari pertama yang dinanti dengan hectic dan riuhnya suara tersebut, kini sepi hanya diwarnai bunyi alarm jam di kamar. Tapi, tenang Sobat! Justru di saat sahur inilah saat yang tepat untuk berdoa. Allah telah memberikan  tawaran yang menggiurkan yaitu memberikan ampunan kepada siapa yang memohon ampun kepada-Nya di waktu sahur. Jangan sampai ya waktu sahur kita berlalu begitu saja tanpa makna yang mendalam.

            Bagaimana hukum puasa tanpa sahur? Di masyarakat kita, ada pernyataan yang tersebar bahwa : inti puasa adalah sahur. Dari mana asal pernyataan ini, dan siapa yang membuatnya, tidak ada yang tahu. Pastinya karena pernyataan ‘ngawur’ ini, sebagian kaum muslimin ada yang meragukan keabsahan puasanya karena pagi harinya dia tidak sahur. Sampai ada yang membatalkan puasanya, gara-gara dia tidak sahur. Padahal membatalkan puasa wajib tanpa alasan yang dibenarkan, termasuk dosa besar. Dan tidak sahur, tidak boleh dijadikan alasan pembenar untuk membatalkan puasa. (sumber: yufid.com)

Perlu diluruskan bahwa, inti puasa bukan sahur. Sahur hukumnya dianjurkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkan bahwa diantara syarat sah puasa adalah makan sahur. Karena itu, puasa seseorang tetap sah sekalipun paginya tidak sahur.

Dalil tegas yang menunjukkan hal ini adalah hadis dari ummul mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan:

دخل علي النبي صلى الله عليه وسلم ذات يوم فقال: «هل عندكم شيء؟» فقلنا: لا، قال: «فإني إذن صائم»

“Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, dan bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?‘ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan puasa.”. (HR. Muslim 1154, Nasai 2324, Turmudzi 733).

          So, bagaimana cerita sahurmu Sobat? Yuk, share di kolom komentar ya!


            rumahmediagrup/nurfitriagustin

tema ditentukan

sumber gambar: yufid.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.