Cinta di Hati Rima – Bagian 3

Cinta di Hati Rima – Bagian 3

Laki-laki di depanku tersenyum sambil memandang dengan sopan.
Dua telapak tangannya ditempelkan berhadapan di depan dada. Salam khas tanah Parahyangan.

Sekejap aku melongo.

Suara deheman Alina menyadarkanku. Waduh, sejak kapan si cantik ini ada di sebelahku? Tapi untunglah, tanpa disadari kehadirannya menolongku.

“Waalaikumsalam. Rima, perkenalkan Bang Drey. Lengkapnya Drey Abrisam. Dia campuran Jawa dan Bugis. Gimana Bang, Rima cantik ya?”

Aduh Alina!

“Eh sebentar, jadi ini yang mau dijodohkan denganku? Hmmm … Usia 35 tahun tapi terlihat seperti lebih muda beberapa tahun. Tinggi 180 cm berat badan seimbang. Lumayan, engga gemuk engga kurus juga. Kulitnya kuning bersih. Engga beda jauhlah sama aku. Alisnya tebal, matanya duh kayak orang timur tengah , tajam tapi meneduhkan. Hidungnya mancung kokoh dengan bibir tipis. Ya ampun, ini makhluk kok cakep banget.”

Ups! Untung itu suaraku dalam hati. Weleh, coba kalau tadi keceplosan bikin malu saja!

“Cantik, Dek! Semoga hatinya juga secantik orangnya.”

Jawaban laki-laki itu menyadarkanku.
Ada apa denganku hari ini?

Alina dan laki-laki itu tertawa. Bang Drey namanya. Aku ikuti cara Alina menyapanya.

“Boleh saya masuk ke dalam? Apa saya hanya disini aja dengan Mbak Rima?”

Pertanyaan yang menggoda.

“Astagfirullah, ayoo masuk, yuk! Saya jadi lupa. Maaf ya,” jawabku dengan malu. Tepatnya terkesima.

===

Seperti yang direncanakan, kedatangan mereka mengawali perkenalan. Bang Drey menyerahkan semua pembicaraan kepada Pak Arifin. Sebagai perwakilan keluarga laki-laki itu. Semua keluarga Bang Drey ada di Makassar.

Aku mencoba larut dengan suasana. Terus terang ini masih merasa aneh dan banyak yang belum aku ketahui. Aku dan Bang Drey bukan lagi anak remaja yang terbiasa puitis mengungkap aksara.

Diam-diam kuperhatikan lewat ekor mataku, jika Bang Drey sering mencuri perhatian memandangku. Mungkin hendak melihat seperti apa aku.

Hi hi … rasanya kok aku kegeeran!

“Rima, Drey ini sahabat saya waktu kecil. Kebetulan setelah ayahnya pensiun mereka semua kembali ke Makassar. Drey tetap tinggal di Jakarta karena udah punya pekerjaan.
Insyaa allah, kalo dia aneh-aneh bisa laporan ke saya atau Alina ya,”
terang Mas Aksa mencairkan suasana.

“Tenang ya, Rim! Ada aku kok nanti ya kalo mau curhat,” sambung Alina mengedipkan mata.

Kami semua tertawa. Kulihat Bang Drey meninju lengan Mas Aksa. Papa tersenyum sedikit dan memandangku. Mama dan Bu Ranti tertawa gembira.

Setelah itu kami banyak membahas segala hal yang ringan saja. Mungkin lebih ke acara reunian para orang tua. Kami yang muda hanya mendengarkan. Beberapa kali pandanganku bertemu dengan si mata elang itu. Netra yang membius dan menghanyutkan. Aku tertunduk menahan debaran jantung.

Lelaki yang dikirim Allah. Mungkinkah ini jodohku? Entahlah …

-Bersambung-

Gambar dari pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.