Nak, Mama Tak Akan Mengizinkanmu Pulang Kali Ini!

Nak, Mama Tak Akan Mengizinkanmu Datang Kali Ini!

“Saya pulang ke kampung karena di Jakarta mau apa? Tidak ada yang bisa menjamin kami tidak kelaparan dan tenang dalam masa begini. Saya dan teman-teman sudah dirumahkan oleh Bos. Kalau di kampung masih ada yang bisa dikerjakan, ada sawah dan kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.”

Di sebuah tayangan salah satu stasiun televisi, seorang laki-laki menjawab pertanyaan jurnalis yang sedang meliput kepulangan secara besar-besaran para pemudik yang akan pulang ke daerah asalnya. Padahal saat itu, di Jakarta sudah diberlakukan PSBB. Jalur-jalur keluar Jakarta menuju berbagai daerah mulai ketat dengan penjagaan.

Saya terpaku dan diam membisu.

Mereka yang bekerja di Jakarta dan sudah tidak ada pekerjaan lagi karena diberhentikan akhirnya memilih pulang kembali ke kampung masing-masing. Padahal, apa yang mereka lakukan membawa resiko besar untuk masyarakat di sana. Resiko terpapar virus korona yang dibawa dari kota dengan tanda zona merah.

Ironis.

*****

Teh, tahun ini engga usah mudik ke Cianjur. Tetap tinggal di Jakarta dan jangan keluar. Mama sama Papa doakan semua anak dan cucu sehat semua. Jaga anak-anak! Jangan sampai mereka keluar rumah di masa pandemi ini. Doakan juga Mama dan Papa di Cianjur, semoga tetap sehat, ada rezeki, dan bisa beribadah dengan tenang. Mama ikhlas, Teh! Ikhlas tahun ini engga ditengok anak-cucu semua. Semoga lebaran haji nanti kita bisa berkumpul lagi. Ada umur dari Allah! Aamiiin.”

Satu pesan masuk ke whatsapp dini hari sewaktu saum di hari pertama.

Ada rasa haru dan lara ketika membacanya. Tak terasa, netra ini berkaca-kaca. Menyesakan dada.

*****

Mudik atau pulang kampung, buat saya dan keluarga adalah satu hal yang rutin dilakukan tiap tahun menjelang atau setelah Idul Fitri. Tidak ada bedanya.

Mudik atau pulang ke kampung halaman. Ke kampung siapa? Ya, ke kampung sendiri -padahal aslinya bukan kampung sih, rumah Mama saya masih masuk perkotaan- di mana kita lahir dan dibesarkan atau ke tempat ayah-ibu, nenek-kakek, abah-ambu, aki-nini kita berada. Entah itu di sebuah kampung yang jauh dari kebisingan kota atau juga yang tinggal di sebuah kota yang ramai.

Dulu, di awal-awal nikah di tahun 2000-an, saya suka sebal, jika ada orang bilang, “Mbak, engga pulang kampung lebaran tahun ini?”

Lah … gue mah bukan orang kampung, kota tempat lahir dan besar sampai remaja usia tujuh belas tahun itu sebuah kota yang cukup ramai dengan fasilitas yang lumayan modern.

Siapa sih yang tidak tahu kota Cianjur? Kota penghasil beras dan tauco. Dan kota ini setidaknya ada di Google Maps atau peta Jawa Barat. Mobil banyak lalu-lalang di depan rumah kok! Duh, rasanya tidak ikhlas dan gondok jika kota saya dibilang kampung.

Lagi pula, Cianjur itu tidak jauh dari Jakarta, catat! Sebelum ada tol Jakarta-Bandung, orang Jakarta atau Bogor mau ke Bandung pasti lewat Cianjur. Begitu juga dari Sukabumi-Bandung pasti lewat kota kecil ini. Benar ‘kan?

Seiring waktu, pemikiran saya berubah, istilah pulang kampung itu bukan sekedar mengacu ke kondisi tempat yang betul-betul sangat kampung yang terpencil di ujung langit, tanpa penerangan, dan tidak ada infrastruktur yang memadai. Pulang kampung artinya pulang untuk bertemu dengan sanak keluarga dan handai tolan di tanah kelahiran.

*****

Seperti yang saya tulis di awal, tahun ini saya dan keluarga tidak akan mudik lebaran. Jika dulu saya pulang H-3 ke rumah Mama di Cianjur kemudian setelah lebaran H+3 kumpul bareng keluarga besar suami di Ciamis dan Bogor, kali ini tetap tinggal di Jakarta.

Rasa sedih yang melingkupi hati. Entah kapan saya dan Mama bisa bertemu lagi. Memandang figur lemah lembut dan selalu basah dengan air wudu. Wajah yang sudah penuh dengan asam garam kehidupan.

Jakarta-Cianjur itu tidaklah jauh.
Cukup tiga jam saja sudah sampai jika tidak ada aral melintang. Melewati perkebunan teh yang asri dan melegenda dari zaman kolonial, menyesap udara yang dingin menyegarkan, serta pemandangan yang elok kehijauan di daerah Puncak.

Rindu … jangan tanyakan itu kepada kami. Rasa itu selalu mengelayut di hati dan juga pelupuk mata. Berkumpul dan memandang wajah senja yang bijak adalah keinginan yang sangat besar sebelum mereka menutup mata.

“Jangan pulang dulu! Tetaplah di rumah. Mama tidak mengizinkan Teteh pulang kali ini. Doakan Mama dan Papa selalu sehat. Insyaallah suatu saat, saat badai ini sudah reda, datanglah dengan penuh cinta,” pesan perempuan terkasih lagi.

Mama kembali mengulang nasihat. Seolah-olah saya si gadis kecilnya yang harus selalu diingatkan akan sesuatu.

Allah, kami merindukan surga yang selalu menyebut nama kami dalam sujud panjang dan doa yang menguntai hingga ke langit.

❤❤❤

Gambar dari pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.