Pilih Mudik atau Pulang Kampung

“Mau ke mana, Bu?
“Mudik Pak.”
“Nggak boleh mudik Bu.”
“Maaf Pak, kami bukan mudik.”
“Terus?”
“Pulang kampung, Pak.”
“Kalau begitu, silakan jalan.”

undefined

Dialog dalam karikatur di atas sempat membuatku tergelitik. Bahkan menjadi perbincangan kami di grup Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Banyak rekan yang menguraikan makna dari kalimat tersebut.
Apa sih yang membuat tergelitik? Ya, kata mudik dan frasa pulang kampung. Sebenarnya apa perbedaan antaradua kata tersebut? Pertanyaanpun terlontarkan oleh bapak ketua MGMP.

Semua guru berebut jawaban dan mencoba mengeluarkan argumen masing-masing. “Mungkin kalau pulang kampung tidak membawa virus kalau mudik takut membawa virus,” celetuk bu Ambar. Akupun hanya tersenyum ketika membaca. Jawabannya dihubungkan dengan virus covid-19 yang sedang meresahkan.

“Mungkin kalau mudik identik jangka waktunya lebih sebentar dan pasti berpasangan dengan arus balik, tapi kalau pulang kampung untuk konteks sekarang lebih ke benar-benar pulang ke kampung untuk menetap lama karena saat mau balik akses akan ditutup alias nggak bisa kembali ke kota.” sahut bu Ajeng dengan melihat dari sisi waktu, yaitu saat lebaran.

Ia menjelaskan dialog di atas dari lawan makna kata yaitu dibahas permasalahan antonim so yang dinamakan arus mudik jelas akan ada lawan makna kata yaitu arus balik. Nah pastinya akan banyak orang-orang akan kembali ke kota.

Masih dengan perbincangan mudik dan pulang kampung. Apakah keduanya itu masih berbeda atau sama? Nah inilah tanggapan rekanku sesama guru bahasa Indonesia.

“Itu maknanya sama, mudik berarti pulang ke kampung halaman, kan?Mungkin yang Beliau maksud berbeda, jika “pulang kampung” tidak akan balik lagi ke daerah rantau. Kalau “mudik” kemungkinan  akan balik setelah liburan lebaran usai. Tapi pada dasarnya sama saja,  mau yang dimaksud konteksnya “mudik” dan “pulang kampung” sama-sama berkemungkinan bisa menyebarkan  virus.” Jelas bu Wati menjelaskan dengan panjang dan lebar.

Berbagai pendapat terlontar satu persatu dalam grup itu. Masing-masing mengeluarkan pendapatnya. Bahkan ada yang sedikit nyeleneh
“Baru tahun 2020, pengertian mudik dan pulang kampung BERBEDA.” Cetus pak Asep, sambil tertawa.

“Mantap argumentasi beliau, mudik berbeda dengan pulang kampung. Saya setuju, karena dari Kata mudik itu M-U-D-I-K sedangkan Pulang Kampung P-U-L-A-N-G K-A-M-P-U-N-G, saya tidak menyalahkan beliau, yang salah adalah saya. Mengapa harus didengarkan hahaha.” Ujar rekanku yang lain sambil tertawa. Meledak tawa kami dalam grup, diakhiri dengan perang stiker.

“Berarti badan bahasa mesti diberi tahu nih Bu, agar merevisi KBBI biar mereka tidak disalahkan sama Pakde.” Balas rekan yang lain. Masih ramai dalam tema mudik dan pulang kampung. Aku menyimak sambil tersenyum, kubiarkan mereka berpendapat. Belum berakhir juga perbincangan kami, antara kata mudik dan frasa pulang kampung.

“Jadi teringat soal Ujian Sekolah mengenai tanggapan logis. Kalau saya jadi Najwa, saya akan menggunakan kata … atau hehehe…. Agar tanggapan logis dan tetap terpelihara dengan saksama, tak membuat murid-murid cekgu bingung.” Jawab rekanku diakhiri dengan stiker emot tertawa. Pecahlah semua tertawa sambil mengirimkan berbagai stiker.

“Nah, siapa yang mau milih …. sekarang kita boleh pulang kampung tapi gak boleh mudik … bingungkan?” samber yang lainnya.
Jawaban terdapat dalam benak masing-masing. Namun tak kalah argumen, masih ada yang meyakinkan perbedaan tersebut dengan kalimat dalam dialog berikut. Kukira perbincangan telah usai ternyata masih ada yang berkomentar.

Kalau saya, pernah waktu itu membeli rumah dari karyawan PT yang berhenti kerja, saya tanya kenapa rumahnya di jual pak?
Dijawab: saya mau pulang kampung, nggak balik lagi ke sini pak.
Jarang saya  mendengar jawaban, saya mau mudik, nggak balik lagi ke sini pak.

Hahaha asyikkan mendiskusikan dua kata itu?
Semua mempunyai argumen masing-masing. Namun yang pasti mudik atau pulang kampung, harus mempunyai persiapan. Apa saja yang harus dipersiapkan?

Pertama jelas harus mempunyai kampung halaman. Bila tidak mempunyai kampung halaman tidak bisa kita menikmati indahnya mudik atau pulang kampung. Contohnya, Aku. Ups. Semenjak menikah saja baru merasakan tiga kali mudik awal tahun 2015 itupun hanya ke Pemalang kampung suami, kepeleset saja nyampe. Namun karena mudik dua hari sebelum lebaran, perjalanan kami menjadi sehari semalam.

Kedua harus dipersiapkan fisik kita, apakah benar-benar dalam kondisi sehat. Jika mudik atau pulang kampung hanya akan menyengsarakan sendiri dan orang lain? Untuk apa mudik atau pulang kampung? Jika alasannya kangen, cukup telepon dan video call apalagi sampaikan salam terakhir dengan kalimat. Mak, parantos dikirimnya eta artos. Sungguh indahnya berbagi itu.

Ketiga siapkan bekal yang banyak, mengapa harus menyiapkan bekal? So pasti, jika pulang itu akan 2x lipat biaya yang keluar. Untuk biaya pribadi dan keluarga yang dikunjungi. Nah mungkin itu saja kiranya yang harus dipersiapkan jika akan mudik atau pulang kampung

Kalau aku sih, yes. Stay at home. Untuk apa? So pasti, untuk kesehatan semuanya. Kita tak tahu apakah kepulangan kita akan aman atau tidak. Jadi intinya mudik atau pulang kampung sama-sama pergi keluar. Pastinya kita harus senantiasa berdoa, agar segera terbebas bumi ini dari wabah virus covid-19. Jangan panik tapi tetaplah waspada dan selalu jaga kebersihan. Janganlah lupa bacalah doa zikir pagi dan petang. Selipkan doa ini di setiap salat.

Bismillahirrahmanirrahim

Bismillahi ladzii laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa’i wa huwas samii’ul ‘aliim
Artinya: Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak celaka segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Dan Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allahumma ‘aafiinii fii badanii, allaahumma ‘aafinii fii sam’ii, allahumma ‘aafinii fii basharii, laa ilaaha illaa anta. Artinya: Ya Allah, sehatkan badanku, ya Allah sehatkan pendengaranku; ya Allah sehatkanlah penglihatanku; tiada Tuhan selain Engkau.

Allaahumma inni a’uudzubika minal kufri wal faqr, wa a’uudzubika min ‘adzaabil qabr, laa ilaaha illa anta. Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekafiran dan kefakiran, ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur; tiada Tuhan selain Engkau.

Doa-doa diambil dari buku Al-Ma’tsurat Zikir dan Doa Rasulullah Pagi dan Petang Hasan Al-Banna

Wallahu alam Bishowab

rumahmediagrup/suratmisupriyadi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.