Untuk Sahabat

Untuk Sahabat

Jalan setapak itu masih seperti dulu rimbun, dingin, dan basah. Perlahan kami menjejakkan kaki di Bumi Rengganis. Setelah melewati Danau Taman Hidup, sengaja aku memilih berjalan paling belakang. Di depanku ada Deni dan Iwan. Sementara Awang dan Tari berjalan paling depan. Sesekali Iwan dan Deni menengok ke belakang, takut aku tertinggal jauh.

Tak seperti kemarin saat mendaki dari Desa Bremi menuju Danau Taman Hidup yang jalurnya lumayan terjal, jalur yang kulalui kini cukup landai. Aku pun bisa berjalan santai, menikmati pendakian keduaku di Gunung Argopuro ini. Seperti pendakian sebelumnya, aku pun memulainya dari Desa Bremi, Probolinggo dan akan turun di Desa Baderan, Situbondo.

Kuhirup dalam-dalam udara Argopuro. Segarnya merasuk hingga ke sukma. Hati-hati kumelangkah. Di kanan kiriku banyak terdapat daun jelatang. Tajam dan penuh duri. Daun ini mengingatkanku pada Bayu, sahabatku, yang terjatuh di pepohonan jelatang. Bayu, sekarang aku ada di sini.

Aku teringat chat yang dikirimnya beberapa waktu lalu.

[Kak, tak mungkin kembali ke Argopuro dengan jumlah yang sama dengan orang yang sama.]

Kubaca chat dari Bayu. Apa maksudnya?

[Hei, apa maksudmu? Kita akan kembali mendaki bersama-sama, menyusuri lagi Bumi Hyang yang dingin dan basah. Kita akan camp di sabana Cikasur yang dulu terlewatkan.]

[Entahlah, Kak, aku merasa kita tak akan kembali ke sana dengan jumlah yang sama.]

[Ih, maksudmu bagaimana? Kita akan ke sana lagi. Kuatur jadwal cuti dulu. Seminggu, agak ribet.]

Kenapa Bayu jadi pesimis begini. Biasanya anak itu yang paling semangat untuk urusan naik gunung. Aku mengenalnya sebagai pendaki solo, ke mana-mana sendiri. Tak ada balasan. Bayu tak membalas chat-ku.

Yang pasti aku harus mulai memikirkan kapan akan mengambil cuti. Gunung Argopuro terkenal dengan treknya yang terpanjang di Pulau Jawa. Bahkan pada pendakian sebelumnya, kami berada seminggu di dalamnya.

Aku lalu disibukkan kembali dengan pekerjaanku. Dan, itu adalah chat terakhirnya.

Beberapa minggu kemudian, saat sedang mampir di beranda Facebook, seorang kawan penggiat pencinta alam memposting foto Bayu. Puluhan komentar yang kubaca berisi ucapan duka cita atas kepergian Bayu. Tak percaya aku saat membacanya. Kubaca berulang kali tulisan itu. Tak mungkin.

Aku berinisiatif ikut berkomentar untuk menanyakan kebenaran berita tersebut. Balasan komentar dari seorang kawan, membuat air mataku menganak sungai. Bayu yang sudah kuanggap seperti adikku, telah tiada. Rasanya tak percaya kalau secepat ini ia pergi.

Beberapa hari kemudian, aku mendapat informasi kalau tiga bulan ini kanker otak telah menggerogoti tubuhnya.

Bayu … sekarang aku tahu kenapa engkau berkirim pesan seperti itu. Andai aku tahu saat itu kamu sedang berjuang melawan sakitmu. Maafkan, kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.

“Nis, lekas hari mulai gelap!” teriak Iwan membuyarkan lamunanku.

Bergegas aku menyusul Iwan. Medan mulai menanjak lagi. Membuat kami harus pandai-pandai mengatur nafas. Huf … siapa suruh naik gunung.

Setelah melewati Aeng Kenek, sebuah mata air kecil yang jernih, sampailah kami di sebuah bukit, Cemara Lima. Cemara Lima, sebuah tempat di mana dulu aku, Bayu, Rama, dan Rena terkena badai. Tiga hari dua malam kami terjebak dalam hujan angin dan badai, dan terpaksa ngedum di sini. Dan, itulah awal dari persaudaraan kami.

Aku kembali untukmu, Bayu. Semoga kau bahagia di sana.

Aku tersenyum. Segera kusandarkan kerilku pada sebatang cemara, lalu membantu Iwan dan Deni mendirikan tenda. Sementara Awang dan Tari kebagian tugas memasak.

Senja telah datang. Namun, petualangan kami di Bumi Rengganis belumlah usai.

***

rumahmediagrup/windadamayantirengganis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.