Aku Harus Pulang

Aku Harus Pulang

Joko menahan nafas. Beberapa meter di depannya, beberapa petugas polisi terlihat menghadang laju kendaraan yang berlalu lalang. Tak hanya pengendara motor yang diberhentikan, tapi juga kendaraan roda empat. Akibatnya, terjadi antrian panjang di jalan masuk ke Cileunyi. Wilayah ini memang salah satu jalur keluar dari Bandung menuju ke arah Tasikmalaya, Ciamis, dan kota-kota di Jawa Tengah.

Joko mengerem perlahan ketika seorang anggota polisi menyetop laju motornya. Dengan terpaksa, ia pun menepi.

“Selamat siang, Pak,” sapa seorang petugas bermasker hitam.

“Siang, Pak,” balas Joko. Dirasakannya jantungnya berdegup kencang, namun sebisa mungkin ia berusaha tenang.

“Maaf, menghambat perjalanan, Bapak,” ujar petugas itu sambil mengarahkan alat pengukur suhu. Setelah melihat hasilnya, ia mendekati Joko.

“Bisa lihat SIM dan STNK Bapak?” tanya petugas itu.

Joko segera merogoh kantung jaketnya, lalu mengeluarkan dua kartu yang ditanyakan petugas. Sang petugas hanya sekilas melihat, lalu berkata, ”Mau pulang kampung ke Jawa?”

“Bukan, Pak. Mau mudik,” jawab Joko.

“Begini, ya, Pak. Mau mudik apa mau pulang kampung, pokoknya tidak bisa. Silakan putar balik!” perintah petugas itu seraya mengangkat tangannya memberi kode agar Joko segera memutar balik.

“Tapi, Pak. Ibu saya menunggu ….”

“Silakan putar balik, Pak!”  Mendengar suara petugas yang meninggi, Joko mengurungkan niatnya untuk berdebat.

Joko tahu percuma ia melawan petugas bisa-bisa malah ditangkap. Tapi, apa mending di tangkap, ya? Bukankah napi-napi itu juga dibebaskan, apalagi dirinya yang tak memiliki kesalahan apa-apa. Ah, aku tak boleh menyerah.

Joko pun merencanakan untuk mencoba rute lain yaitu di Jatinangor, perbatasan Bandung-Sumedang. Tekadnya sudah bulat harus pulang ke kampung halamannya di Adipala. Ibunya yang renta telah menunggunya.

“Astagfirullah!” seru Joko saat sebuah mobil membunyikan klaksonnya dengan keras. Jarak mereka terlalu dekat dan ….

“Mas … Mas … bangun.” Sayup-sayup didengarnya suara seseorang.

Perlahan matanya terbuka. Dilihatnya, Neni, istrinya.

“Astagfirullah … untung cuma mimpi,” ucap Joko lirih.

“Mimpi apa, Mas?”

Joko kemudian duduk di tepi tempat tidur. “Mau mudik, tapi dihalangi petugas, terus pas putar balik hampir ketabrak mobil di dekat pintu luar tol Cileunyi,” terang Joko.

Owalah, Mas … yang sabar, ingin mudik sampai terbawa mimpi begitu. Tahun ini kita sebaiknya menahan diri ndak mudik. Mau bagaimana lagi, ini kan untuk mencegah menyebarnya Corona.”

“Tapi di sini juga mau apa. Jualan bakso sepi. Anak-anak kos di sekitar Sekeloa sudah pada pulang. Kos sepi.”

Neni termenung. Dirinya sendiri pun baru saja di PHK karena pabrik sepatu tempatnya bekerja gulung tikar.

“Aku masih ada sedikit tabungan, Mas. Setidaknya masih cukup untuk makan kita sebulan ke depan,” jelas Neni.

Joko termenung. Sebulan ini mungkin mereka berdua masih bisa makan. Entah hari-hari berikutnya.

***

Rumahmediagrup/windadamayantirengganis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.