Emak, Aku Akan Pulang

Emak, Aku Akan Pulang

“Emakmu sakit, Dan. Sudah seminggu ini, ia terus memanggil-manggil namamu.”

Ucapan Bi Nani, adik dari emaknya, terus terngiang-ngiang dalam pikiran Dani. Lelaki seperempat abad itu tak bisa tenang setelah menerima telepon dari bibinya.

Kabar mengenai kondisi emaknya di kampung, membuat Dani mengurut dadanya, pilu. Bagaimana ia bisa pulang, sementara kondisi tak memungkinkannya untuk bisa menemui emaknya yang tengah terbaring sakit.

Selain Pemberlakuan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), larangan mudik pun membuat Dani harus tertahan di tempat yang juga tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Tempat tak beratap, dan hanya beralaskan koran bekas di kolong jembatan, kota metropolitan yang telah menaungi hidupnya selama dua tahun, hanya menjadi alas berpijaknya saat ini.

Sebulan lalu, Dani di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) dari tempatnya bekerjanya sebagai staff marketing di salah satu hotel di Jakarta, dan akhirnya harus terusir dari rumah kosnya karena tak bisa membayar uang sewa.

Dani dan beberapa teman di tempat kosnya yang tak bisa pulang kampung karena ketiadaan dana, akhirnya harus luntang-lantung tak karuan di kota yang semakin asing baginya itu.

Hanya untuk sekadar makan saja, Dani harus menunggu orang dermawan yang hampir setiap hari membagi-bagikan makanan gratis. Sedih yang ia rasakan, tak bisa pulang ke kampung halaman, sementara ia menjadi gelandangan di kota orang.

Apalagi, setelah mendapat kabar bahwa emaknya sakit, Dani semakin pilu. Bagaimana ia bisa menemui emak yang dicintainya itu. Pada siapa ia meminta pertolongan, hanya untuk bisa sampai ke rumahnya.

Derai air mata sudah tertumpah. Dengan wajah sendu, Dani bersandar ke dinding jembatan yang menjadi tempat tinggalnya kini. Ia gelisah. Semenjak ayahnya tiada sepuluh tahun lalu, hanya emak yang ia punya.

Selama ini, meskipun terpisah jarak dan waktu, tapi ia tak pernah melewatkan untuk pulang ke kampung halamannya. Setiap lebaran tiba, ia manfaatkan waktu libur yang diberikan tempat kerjanya untuk mudik.

Dani bisa menuntaskan kerinduan pada emak yang begitu dicintainya. Menghabiskan waktu libur dengan mendatangi saudara dan teman-teman kecilnya. Terkadang, ia menikmati hari di tempat-tempat kenangan masa kecilnya dulu.

“Dan, ada orang yang bagi-bagi makanan gratis. Ayo kita ke sana!”

Ajakan Rudi, teman yang juga tinggal tak jelas dengannya itu, tak ia gubris. Dani tak seantusias biasanya. Ia tak berselera untuk berebut nasi bungkus atau menu takjil lainnya kali ini.

Rudi yang sudah menghilang dari pandangannya, ia biarkan saja. Keadaan tentang emaknya masih belum bisa beranjak dari pikirannya. Akankah emak baik-baik saja di sana? Siapa yang akan mengurusnya selama sakit?

Pikiran Dani berkecamuk tak menentu. Bahkan saat Rudi meletakkan bungkusan di sampingnya, ia tak menyadari.

“Kamu kenapa, Dan?” tanya Rudi yang kemudian duduk di hadapannya.

Dani membuang pandangannya ke jalanan, yang tak begitu ramai hilir mudik kendaraan. Diembuskannya napas perlahan, seolah ingin melepas semua beban yang tengah menghimpit dadanya.

“Ada masalah?” tanya Rudi lagi semakin penasaran.

Dani mengangguk pelan. Ditundukkan kepalanya kini. Masih tak bicara.

“Ada masalah apa, Dan?” desak Rudi, menatap Dani lekat.

“Emakku sakit.”

Rudi tersentak.

“Sakit apa?”

“Bibiku bilang, Emak sakit asam lambung. Justru yang membuat aku sedih, Emak terus memanggil-manggil namaku. Aku takut, Rud.”

“Takut kenapa?”

“Takut kehilang Emak saat ini. Saat aku tak bisa segera pulang untuk menemuinya.”

Dani menelungkupkan kedua tangan ke wajahnya. Rudi beringsut, bangkit dan menghampiri temannya itu. Diraih pundak Dani kuat-kuat.

“Sabar, Dan.”

Hanya kata itu yang mampu diucapkannya. Rudi tak bisa berbuat apa-apa. Kondisinya saat ini pun tengah terpuruk. Sama persis seperti Dani.

**

Sehari setelah Dani mendapat telepon dari bibinya, ia masih belum bisa mengacuhkan keadaan emaknya. Bahkan saat Rudi menarik tangannya paksa, untuk mendapatkan makanan gratis yang dibagikan seorang dermawan dari dalam mobil, ia hanya mengikuti dengan enggan.

Tampak seorang lelaki berseragam polisi tengah membagikan sekotak makanan, ke beberapa orang yang sudah berkerumun di depan jendela mobilnya. Rudi ikut Berbaur di tengah kerumunan itu, sambil tak melepaskan pegangan tangan Dani.

Saat hanya tinggal Rudi dan Dani yang tengah menunggu giliran, tiba-tiba Rudi bertanya pada lelaki berseragam polisi itu.

“Pak, bisakah Bapak membantu teman saya pulang kampung?”

Polisi itu tampak terkejut mendapati pertanyaan Rudi.

“Maksudmu bagaimana?” tanya Polisi itu heran.

“Emak teman saya ini sedang sakit di kampungnya, Pak. Teman saya takut jika ia akan kehilangan Emaknya saat ini,” ujar Rudi menjelaskan.

Polisi itu tampak mengerutkan kening. Ia berpikir sejenak, kemudian keluar dari dalam mobil, mengajak Rudi dan Dani ke depan sebuah toko yang sudah tutup, tak jauh dari mobilnya.

“Jadi, ini temanmu yang ingin pulang kampung menemui emaknya itu?” tanya sang polisi seraya menunjuk Dani yang tertunduk.

Rudi mengangguk pasti.

“Kalian tahu ‘kan peraturan pemerintah saat ini yang melarang siapa pun mudik?”

Dani mendongak.

“Saya tahu, Pak, tapi apa pemerintah juga tahu rasanya tak bisa pulang, sementara ibu yang dicintai tengah berjuang melawan sakit di kampung dan mengharapkan kepulangan anaknya?”

Polisi itu tak bisa berkata apa-apa saat Dani tiba-tiba meluncurkan kata-kata itu dari mulutnya.

“Memangnya kamu mau pulang kemana?”

“Ke Cianjur, Pak,” jawab Dani singkat.

“Saya akan bantu kamu untuk pulang. Besok pagi, temui saya di kantor. Saya pastikan, kamu bisa bertemu dengan ibumu segera.”

Ucapan polisi itu bagaikan air di tengah ladang gersang bagi Dani. Ia tak menyangka, lelaki paruh baya dan bertubuh tinggi tegap itu mau membantunya pulang kampung.

“Ini kartu nama saya, datanglah bersama temanmu juga,” katanya sembari menatap ke arah Rudi.

Rudi terkesiap.

“Kenapa harus dengan saya, Pak?” tanya Rudi heran.

“Kamu tak mau pulang kampung?” tanya sang polisi dengan tegas.

Rudi gelagapan. Ingin ia pulang kampung, tapi kini sudah tak ada lagi kedua orang tuanya. Kakaknya pun tinggal di negeri seberang. Hanya beberapa kerabat yang hubungan dengannya pun tak begitu dekat.

Rudi menggeleng.

“Saya tak akan pulang kampung, Pak. Orang tua saya sudah tak ada. Meski sudah tak bisa lagi tinggal di rumah kos, saya lebih memilih tinggal di sini saja, Pak.

“Baiklah kalau begitu. Kamu bisa tinggal di penampungan kalau kamu mau. Di sana, semua fasilitas disediakan, gratis bagi warga tak memiliki tempat tinggal dan pekerjaan.”

“Tentu, Pak, saya mau,” ucap Rudi sumringah.

“Di kantor saya nanti, kalian akan diperiksa kesehatan terlebih dulu,” ucap sang polisi menutup perbincangan senja itu.

Rudi dan Dani mengangguk bersamaan.

Setelah mengucapkan terima kasih, polisi itu segera pergi meninggalkan Rudi dan Dani yang masih tak percaya akan kebaikan sang polisi.

Ditatapnya kartu nama yang tengah Dani pegang erat. Senyumnya terukir saat ia membaca nama dan jabatan polisi baik hati itu.

Ia juga bahagia, karena sebentar lagi akan bertemu dengan emaknya. Entah bagaimana caranya ia pulang, tapi yang pasti, kepulangannya begitu dirindukan.

‘Emak, aku akan pulang,’ bisik Dani bahagia.

rumahmediagrup/bungamonintja

4 comments

    1. Oh, Bunda Irma orang Cianjur ya?
      Semoga wabah ini segera berlalu ya, Bun, agar kita semua bisa kembali merasakan pulang kampung.

      Disukai oleh 1 orang

        1. 😁😁
          Semangat..
          Semoga kesehatan dan keselamatan senantiasa menyertai bunda dan keluarga ya. Aamiin

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.