Kepemilikan Pekerjaan : Pekerja Atau Serikat?

Sumber gambar : http://www.google.com

Kepemilikan Pekerjaan : Pekerja Atau Serikat?

Aktivitas fisik yang agresif yang ditunjukkan serikat saat beraksi, banyak menunjukkan tindakan kekerasan dan pemaksaaan pada pekerja. Dan bukan adanya paksaan melainkan mempertahankan hak milik atas pekerjaan pekerja. Serikat pekerja hanya memberikan instruksi untuk mogok.

Aksi mogok dimaknai sebagai upaya mempertahankan diri (pekerja) atas pekerjaannya. Namun, perlu dipahami bahwa kepemilikan pekerjaan tersebut adalah tidak dapat dimiliki secara pribadi. Pekerjaan itu bukan milik pekerja atau serikat, namun kesepakatan antara pemilik usaha dan pekerja. Perwujudan kesepakatan yang telah disetujui keduanya.

Sedangkan, dalam hal mogok, pekerja telah terorganisir untuk tidak puas dengan keputusan majikan/perusahaan/pemilik usaha. Perlu dimaknai bahwa pemilik usaha juga bukan pemilik pekerjaan. Jadi tidak boleh dikatakan bahwa pekerjaan adalah milik pekerja, atau milik perusahaan. Namun, serikat pekerja memahami bahwa terdapat dua kelompok yang berkenaan dengan pekerjaan di pabrik tertentu. sehinga dibutuhkan kerja serikat untuk membantu pekerja menyelematkan pekerjaannya tersebut. Serikat menganggap hal ini adalah hak pekerja, jadi semua orang harus menahan diri dan memberikan kesempatan untuk bersuara bagi pekerja.

Selama ini, ada yang keliru. Penyebutan pekerjaan “saya”, atau “pekerjaanmu”, atau”pekerjaannya”, dan lainnya yang mengisyaratkan pekerjaan melekat pada milik seseorang. Padahal tidak demikian. Penggunaan itu juga berlaku pada perusahaan, seringkali menyebut “karyawan saya”. Padahal sekali lagi, pekerjaan adalah tentang hasil kesepakatan dua pihak atas pekerjaan dan upah. Jadi tidak bisa disebut sebagai kepemilikan dari satu kelompok saja.

Hak kepemilikan pekerjaan berada pada kesepakatan kedua pihak (perusahaan dan pekerja). Dalam hubungan ini akan muncul hubungan mutualitas (saling menguntungkan), bukan kepemilikan pada salah satu pihak saja. Jadi, perlu dipahami juga yang sering kali muncul adalah “saya bisa saja melarang karyawan saya untuk tidak ikut aksi”, halo? Meskipun karyawan atau pekerja bekerja pada perusahaan tertentu, bukan berati perusahaan mengakui kepemilikan atas hal tersebut. Sehingga apapun yang terjadi, dalam keputusan apapun yang terjadi, dibutuhkan kesepakatan atas keduanya.

Referensi :

Block, Walter. 2008.  Labor Economics From Free Market Perspective, Employing The Unemployable. World Scientific Publishing Co. Pte. Ltd : British.

rumahmediagrup/Anita Kristina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.