Membaca Bermakna

MEMBACA BERMAKNA

(Saiful Amri, M.Pd.)

“Ayah, besok aku enggak mau sekolah?” kata Pram. Dia baru pulang bersekolah di TK B. Pergi dan pulang dia lakukan sendiri, kebetulan lokasinya tidak jauh dari rumah.

“Loh, pulang-pulang kok sudah mengeluh. Ada apa sebenarnya, Pram?” tanya ayahnya.


“Itu Bu Guru Indah mengajarkan apa? Ba, bi, bu, be, bo,” jawab Pram.


“Oh, begitu rupanya,” kata ayah.


“Terus ca, ci, cu, ce, co,” lanjut Pram.


“Bagaimana kalau begini. Ini ada gambarnya dan ini bacaannya,” kata ayah. Ayahnya menggambarkan benda kongkrit dan kata yang mengikutinya.


“Oh, ini bacaannya buku. Ini bacaannya baju. Bisa kan!” bangga Pram.


“Hebat, Pram,” puji ayahnya.

Dialog di atas adalah sebuah contoh ketika seorang anak mengeluh diajarkan membaca oleh gurunya karena menurutya kegiatan mengeja tak bermakna. Suatu aktivitas membaca yang tak bermakna akan menimbulkan tanda tanya pada diri sebagian anak. Mereka akan menilai bahwa itu sebuah aktivitas sia-sia karena tak mengandung makna. Sebagian lainnya mungkin tidak menjadi permasalahan. Kegiatan mengeja juga boleh saja. Alangkah baiknya guru melakukan aktivitas membaca yang tidak menimbulkan konflik pada diri sebagian anak. Pada poin ini, seorang guru harus memahami karakteristik anak.


Kita dapat jumpai sebagian anak memiliki karakteristik belajar membaca melalui kebermaknaan. Aktivitas seperti ini sangat bagus untuk anak. Sehingga mereka membaca sekaligus memahami bacaan. Jangan sampai terjadi sebuah kasus dimana anak membaca dengan keras dan lancar namun tidak mengetahui apa yang dibacanya. Fungsi membaca adalah memperoleh informasi dari yang dibacanya. Jadi membaca bermakna itu membantu anak memahami apa yang dibacanya.


Aktivitas membaca bermakna ini menuntut kreativitas seorang guru. Bahan bacaan bukan hanya sekadar mengeja huruf konsonan yang dipadukan dengan huruf vokal. Lebih dari itu, seorang guru harus mampu meramu kata-kata yang bermakna dan dipahami sebagai benda kongkrit. Kreativitas guru menjadi penentu. Kata-kata yang menunjukkan benda kongkrit sangat sesuai dengan anak usia dini.


Pemakaian kata-kata kongkrit diusahakan dengan jumlah suku kata seminimal mungkin. Pada tahap awal, dapat memakai dua suku kata. seperti; buku, bola, sapu, baju, dan sebagainya. Pemakaian kata dengan jumlah suku kata yang minimal akan memudahkan anak. Hindari aktivitas yang menyulitkan anak. Sesuatu yang membuatnya sulit akan mematahkan semangat. Anak menjadi purtus asa. Usahakan menciptakan suasana dengan materi yang mudah dan menyenangkan. Jadi bukan hanya sekadar kata-kata kongkrit tetapi juga yang bersuku kata sedikit.


Lengkapi materi pembelajaran dengan gambar. Kata-kata kongkrit sangat mudah dilengkapi dengan gambar seperti; gambar buku, gambar bola, gambar sapu, dan sebagainya. Kreativitas terus dituntut kepada seorang guru. Menggambar tidak harus bagus. Tujuan utamanya adalah membantu anak memahami apa yang dibacanya. Pertanyaannya, mana yang lebih dahulu apakah kata atau gambar? Jawabannya, mana yang lebih menarik dan membuat anak nyaman. Bisa dimulai dari gambar. kemudian gambar dan kata. kemudian kata saja tanpa gambar. Poin utamanya adalah gambar sangat diperlukan agar anak lebih paham kata yang dibacanya.


Selanjutnya kita dapat menggunakan teknik permainan agar tidak membosankan misalnya; menjodohkan kata dengan gambar. Kita bisa membuat tiga gambar dan tiga kata yang diacak urutannya tidak sejajar gambarnya. Kemudian anak akan menjodohkan dengan membuat garis penghubung antara gambar dan kata yang sesuai. Langkah berikutnya, kita masih menggambar tiga benda namun menulis empat kata sehingga anak akan lebih telliti karena salah satu kata adalah bukan jawaban. Langkah ini merupakan variasi teknik belajar.


Selingi kegiatan dengan mewarnai gambar. Seorang anak usia dini sangat menyukai aktivitas mewarnai. Sambil mewarnai, anak akan mengkontruksi apa yang telah dipelajarinya. Warna yang digunakan adalah sembarang saja. Kegiatan ini hanya merupakan penyegaran agar anak tidak bosan. pada kegiatan ini anak dapat berekspresi sesuai keinginannya dalam memilih warna. Gambar yang diwarnai adalah gambar yang telah dipakai dalam belajar membaca sebelumnya.


Tahapan selanjutnya adalah menambah jumlah suku kata misalnya enam suku kata seperti; sepeda, celana, sepatu, dan sebagainya. Menambah jumlah kata dengan kata sifat yang berhubungan dengan warna seperti; baju biru, bola biru, sapu hitam, buku merah, dan sebagainya. pada kegiatan ini, gambar yang disajikan disesuaikan dengan warna dan kata sifat tentang warna. Menambah jumlah kata dengan kata bilangan, seperti; satu buku, dua bola, tiga sapu, dan sebagainya. Pada kegiatan ini, jumlah gambar disesuaikan dengan kata bilangan.


Level yang cukup tinggi adalah membaca kalimat. Pada level ini, kita dapat menambah kata seperti; ini, itu, dan ada. Contoh kalimatnya seperti; ini baju hijau, ada dua sapu, itu tiga bola biru, dan sebagainya. Pada level ini dapat disusun materi menjadi tiga baris. Mislanya, baris pertama kata bola. Baris kedua, ini bola. Baris terakhir, ini bola biru.


Beberapa langkah di atas adalah hanya contoh-contoh pembelajaran membaca bermakna. Materi pembelajaran dapat dikembangkan sesuai situasi dan kondisi anak. Membaca bermakna merupakan aktivitas penting memfasilitasi anak belajar memahami apa yang dibacanya. Sehingga melalui membaca, anak memperoleh informasi apa yang dibacanya.

Profil Penulis:
Saiful Amri, M.Pd. lahir di Bekasi pada 11 Juni 1969. Bertugas sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Cimahi Kabupaten Kuningan. Ia juga seorang Tutor Online UT Jakarta. Aktif di beberapa komunitas literasi, di antaranya KPLJ, KPPJB, dan komunitas lainnya. Pendidikan terakhirnya Magister Pendidikan Bahasa Inggris dari Uhamka Jakarta. Berharap dapat melanjutkan ke jenjang Doktoral. Saat ini berusaha menjadi orang yang banyak memberikan manfaat sesuai dengan kemampuannya. Dapat dihubungi melalui WA: 081388935209 atau surel: saiifulamri077@gmail.com. Sila kunjungi fb: Sam saiful Amri, Ig: saifulamri.

Rumahmediagrup/saifulamri

2 comments

  1. Tulisan yang bermanfaat untuk mengingatkan guru tentang bagaimana cara membimbing membaca yang benar, sehingga membaca bisa dimaknai dan menghasikan pengetahuan bagi anak. Lebih dari itu melatih daya pikir untuk bersikap kritis.

    Suka

  2. Master Saiful… trimks atas info dan sarannya. Isi tulisan yg sangat luar biasa kita pahami baik kata, kalimat dlm setiap paragrafnya mantap dan hebring.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.