Mudik Beresiko? Kita Buat Suasana Mudik Di Rumah Saja Yuk..!

Mudik Beresiko? Kita Buat Suasana Mudik Di Rumah Saja Yuk..!

Sahabat perantau, bagaimana perasaan kalian tahun ini tidak diizinkan mudik oleh pemerintah karena dikhawatirkan beresiko menyebarkan virus Covid-19, yang belum enggan beranjak dari tanah air kita?

Kita mengambil sisi positif nya saja, yaitu memang kita harus menyayangi keluarga besar kita di kampung, dengan cara menjaga mereka tak beresiko apapun walau kita bukan terdeteksi sebagai ODP tapi bukan tak mungkin kita menjadi OTG (orang tanpa gejala), sungguh riskan kalau kita paksakan mudik.

Aktifitas kita di keramaian ketika sedang di jalan raya, baik dengan kendaraan pribadi apalagi kendaraan umum memungkinankan resiko sebagai carrier, pembawa virus Covid-19 masih sangat besar. Jadi tidak ada salahnya berbesar hati berlapang dada menerima kenyataan tahun ini tidak mudik adalah langkah yang sangat bijak.

Untuk mengobati kerinduan akan suasana mudik yang hanya kita temukan di kampung halaman, kenapa tidak kita mencoba menduplikasi suasananya di rumah kita sendiri saat lebaran nanti?

Hal yang mudah kita tiru bisa paling tidak ada dua segi, dari sisi kuliner lebaran  dan tradisi unjung (bertamu ke tetangga bersalam-salaman dan sekaligus sungkem dari yang usianya lebih muda kepada orang tua, saudara, dan tetangga di kampung halaman kita.

Pertama  dari segi kuliner Lebaran.

Kalau biasanya kita mudik ke  orang tua kita, (kalau saya hanya mudik ke ibu mertua karena sudah tidak ada orang tua. Maka dari itu saya akan memberikan gambaran suasana mudik di kampung halaman pak suami di Kebumen), untuk nanti lebaran akan saya tiru menunya. Memang tidak jauh dari kategori opor atau kari dan gulai tetapi dengan daging unggas yang berbeda.

Kami biasa memasak lontong, pengganti nasi dengan opor atau kari bebek entok (itik Manila) dilengkapi dengan lauk sambal goreng kentang, jeroan sapi, dan petai yang dibuat biasanya nampol pedasnya biar tak memerlukan sambal khusus lagi. Jadi memang bukan ketupat dan gulai daging /ayam, semur, dan rendang seperti di kota besar. Kalau belum mampu membuat lontong dengan bagus, gampanglah kita bisa pesan jadi dari bibi sayur di pasar, so simple kan?

Kedua, tradisi unjung dan sungkeman. 

Di tempat tinggal kita di kota kita bermukim, tradisi unjung bukan tidak ada sama sekali, mungkin masih kental ada  suasana berlebaran keliling minimal satu gang di blok perumahan kita, namun yang berbeda adalah tidak ada kegiatan sungkeman yang agak membutuhkan  beberapa menit kala kita mengutarakan permohonan maaf lahir batin serta meminta doa restu dari orang tua dan saudara-saudara yang lebih tua untuk kebaikan-kebaikan dan keberhasilan kita. 

Suasana seperti ini bisa kita hidupkan kembali di rumah kita dengan kita berlakukan sungkeman dari anak-anak kita, dengan tentunya kita mengkondisikannya tidak dengan mendadak, bisa kita komunikasikan pas kita selesai shalat  tarawih bersama di hari-hari terakhir bulan Ramadhan misalnya. Dengan demikian anak-anak juga kita latih lebih menghargai jerih payah orang tuanya dalam mendidik dan berusaha menghantarkan kesuksesan mereka. 

Sekiranya minimal dua hal tadi kita bisa lakukan  maka akan terobati rindu kita dengan suasana mudik di kampung halaman, hanya mungkin suasana membawa oleh-oleh hasil kebun belakang rumah dan kue khas daerah yang harus kita ikhlas terlewatkan di tahun ini. 

Tidak mudik bukan berarti keluarga kita di kampung tidak  tersajikan kue-kue kering khas lebaran, yang pada saat ini bukan hanya dominasi milik orang kota. Saudara sepupu, keponakan, ayah ibu kandung, dan juga ayah ibu mertua kita tetap bisa menikmati kue-kue kering khas lebaran walaupun kita tidak mudik. Di kampung halaman sudah banyak yang jago membuat nastar dan kue kering lainnya imbas dari kemajuan teknologi internet saat ini.

Yang tidak boleh ketinggalan adalah  membagi aktivitas kita selama berlebaran di rumah saja dengan memvideokannya. Bisa juga dengan secara langsung kita pakai fasilitas video call di media sosial kita, supaya lebih seru tentunya. Usaha kita menduplikasi suasana berlebaran di kampung bisa kita ciptakan dengan hanya tetap di rumah saja. 

 

rumahmediagrup/isnakuainr 

3 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.