Rindu Yang Harus Tertunda

::Rindu Yang Harus Tertunda::

“Kak, aku gak bisa pulang ke Jakarta, tolong kasih tahu ibu..”

Demikian bunyi pesan singkat yang masuk ke WA ku pagi ini. Aku hanya membalas singkat pesan itu.

“Iya, gak pa-pa, lebih baik mencegah, insyaallah gak lama wabah selesai kita bisa kumpul semua”

Ramadan kali ini memang berbeda dari sebelumnya. Semenjak wabah virus yang menelan banyak korban di banyak negara di dunia. Indonesia pun tak luput dari virus yang dikenal dengan nama Covid-19.

Wabah ini nyaris membuat lumpuh perekonomian karena penyebaran virusnya yang sangat cepat. Berbagai kebijakan dikeluarkan pemerintah guna menanggulangi dampak dari wabah tersebut.

Sekolah-sekolah diliburkan, instansi pemerintah dan swasta meliburkan pegawainya. Semua gerak orang dibatasi. Yang berstatus pelajar berubah belajarnya dari rumah, pun pegawai pekerjaan dilakukan dari rumah.

Sudah nyaris dua bulan kami semua tak bisa keluar jauh dari tempat tinggal. Suasana Ramadan yang semarak menjadi sepi. Ditambah dua hari lalu, tetangga kami berbeda RT ada yang meninggal akibat virus tersebut. Semakin ketatlah penjagaan di wilayah kami.

Surat edaran sekolah diperbarui setiap dua minggu berdasarkan instruksi pemerintah setempat. Pemberlakuan aktivitas warga di luar rumah dibatasi. Seiring dengan maraknya korban yang berjatuhan akibat virus mematikan.

Sampai Ramadan memasuki pertengahan bulan, pemerintah masih memberlakukan sistem bekerja dan bersekolah dari rumah. Kondisi ini juga membuat pemerintah akhirnya melarang aktivitas tahunan penduduknya menjelang hari Raya.
Apakah itu? Yup, Mudik!

Mudik atau pulang kampung merupakan tradisi tahunan yang sudah mengakar budaya di masyarakat Indonesia. Kebanyakan warga yang tinggal di Ibukota adalah penduduk tidak tetap. Pun di beberapa kota besar lainnya di Indonesia. Mereka bekerja di kota A dan tinggal menetap di kota B atau C. Dan momen hari Raya adalah yang ditunggu, untuk bisa berkumpul dengan semua keluarga.

Dengan adanya keadaan seperti sekarang, otomatis hal itu juga terkena dampaknya. Pemerintah menngeluarkan kebijakannya bahwa tidak ada kegiatan Mudik tahun ini.
Sesungguhnya bagi sebagian orang tak menjadi masalah, namun untuk sebagian lainnya menjadi masalah. Seperti kami yang hanya bisa berkumpul dengan semua keluarga pada saat hari Raya. Orang tua kami memang bukan di daerah, mereka ada di pusat kota Jakarta. Namun semua anaknya tinggal di luar Jakarta.

Rasa rindu bertemu dengan orangtua dan saudara yang berjauhan harus ditunda sejenak. Namun terpikir pula kondisi orangtua yang mulai sepuh. Hingga akhirnya kami hanya dapat saling berkabar lewat kecanggihan telekomunikasi saat ini.

“Pak, Bu, maafkan kami yang mungkin Raya tahun ini belum bisa pulang ke rumah. Semoga selekasnya wabah ini berlalu kami pasti akan menengok Bapak dan Ibu.”

Pesan singkat itu akhirnya harus aku kirimkan ke gawai ibu. Semoga ibu paham kondisi kami, anak-anaknya yang berjauhan tinggal dari Ibukota. Kami merindukan mereka pun anak-anak sudah sangat rindu dengan kakek dan neneknya. Semoga kerinduan ini hanya tertunda sesaat.

Depok, 7 Mei 2020/14 Ramadan 1441. H

rumahmediagroup/afafaulia18



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.