Siapakah yang Ter-Mindful dalam Event Spesial Nubar Sumatera: Mindfulness Parenting

Siapakah yang Ter-Mindful dalam Event Spesial Nubar Sumatera: Mindfulness Parenting

Di antara sekian event Nubar Sumatera, mungkin inilah event yang paling spesial. Bagaimana tidak? Ini adalah event khusus yang diselenggarakan oleh kami, para alumni pelatihan Mindfulness Parenting bersama Bapak Supri Yatno, mentor kami yang merupakan praktisi kesehatan mental. Simak ringkasannya:

Judul: Mindfulness Parenting (How to be A Mindful Parent)

Penulis: Supri Yatno, dkk

Penerbit: Rumah Media

Membesarkan anak adalah salah satu tanggung jawab yang penuh tantangan bagi orang tua di zaman modern ini. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menangani stres atau tekanan hidup. Padahal stres dapat memberi pengaruh tidak baik dalam pengasuhan anak. Mindfulness parenting mengajarkan orang tua belajar memfokuskan perhatiannya pada “di sini dan sekarang.” Cara seperti ini dapat menolong orang tua menangani stres secara lebih sadar. Tak hanya teori, buku ini juga dilengkapi oleh sharing pengalaman yang ditulis langsung oleh alumni pelatihan Mindfulness Parenting yang telah mempraktikkan ilmunya.

***

Menarik, bukan? Pelatihan ini tak hanya sudah menyelamatkan kami, para orang tua yang berjuang membesarkan anak masing-masing, namun juga membukakan mata mengenai beberapa karakter yang mengganggu. Seperti victim mentality (mental korban), OCD (Obsessive Compulsive Disorder) /perfeksionis, HSP (Highly Sensitive Person), yang kesemuanya saya ketahui sejak mengikuti pelatihan Mindfulness Parenting. Kita intip sebagian isi buku ini, yuk.

***

Dikutip dari Myla dan Jon Kabat-Zinn, personal communication, Sept. 2012, Mindfulness parenting adalah proses kreatif yang berlangsung terus-menerus, bukan sebuah titik akhir. Proses ini melibatkan membawa kesadaran tidak menghakimi (non-judgemental), semampu yang orangtua bisa di dalam setiap momen. Mindfulness parenting mengajarkan orangtua belajar memfokuskan perhatiannya pada “di sini dan sekarang.” Cara seperti ini dapat menolong orangtua menangani stres secara lebih sadar. (Oleh Bapak Supri Yatno, dari Bab Pendahuluan: Mindfulness Parenting)

***

Kalau yang ini, cuplikan pengalaman yang saya tuangkan dalam buku ini:

Ya Allah. Aku malu. Kenapa anakku tak bisa menahan diri? Kenapa dia malah melampiaskan kekesalannya dengan cara melempar barang? Terlintas dalam benakku hari-hari pertamaku menjadi ibu. Larut dalam kesedihan terus menerus, jauh dari suami karena posisi LDR (Long Distance Relationship), tidak ada yang membantu mengurus anakku, bahkan aku dengan sengaja cenderung menjauh dari dunia, termasuk mengabaikan telepon ucapan selamat dari teman-teman atas kelahiran anak pertamaku. Dalam kondisi kelelahan dan stres, aku akan melempar-lempar barang di hadapannya. Ya. Saat anakku yang masih berusia setahun itu tantrum, aku akan mudah ikut menjadi tantrum. (Oleh Emmy Herlina dari Not a Perfect Mom, But a Happy Mom, bab VIII Mindfulness Parenting)

***

Seperti Nubar lainnya, event kali ini juga mengharuskan kami, sebagai tim penerbit, memilih satu naskah terbaik pilihan. Siapakah yang beruntung kali ini?

Padahal, semula mood-ku sedang bahagia. Sebab kami tengah bersiap menuju minimarket untuk membeli roti tawar sebagai bekal sekolah besok. Aktivitas jalan-jalan sore hari memang membuatku bahagia. Karena membayangkan celoteh riang kedua anakku selama perjalanan menuju minimarket.

Dengan mendengus penuh amarah kuurungkan saja niat itu. Sebab bad mood-ku biasanya menghadirkan sensasi yang membuat semua tulang terasa lepas dari tubuhku. Lantas aku menggiring paksa saja kedua anakku untuk masuk ke carport rumah kami. Carport dengan keramik bercorak batu alam yang dominan berwarna coklat muda dan kombinasi abu menjadi tempat kedua Tyaga muntah.

“Aarrgghh … muntah melulu, sih!” (Oleh Ribka ImaRi, dari Anak Lelakiku, Si Pemicu Inner Child-ku pada Bab VI: Mindfulness Parenting)

Selamat ya, buat Mbak Ribka ImaRi. Terbukti tak hanya dapat menuliskan pengalamannya dengan baik, Mbak Ribka juga sudah menjadi orang tua ter-mindful yang kini sudah menjadi mentor mengelola berbagai pelatihan online untuk para orang tua.

Pada akhirnya, semua dimulai dari pondasi paling dasar, yaitu keluarga. Siapkah kita menjadi orang tua mindful?

rumahmediagrup/EmmyHerlina

2 comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.