Batasan Kemitraan Sosial di Tempat Kerja

Sumber gambar : http://www.google.com

Batasan Kemitraan Sosial di Tempat Kerja

Partisipasi di tempat kerja sebagai faktor awal dari proses sosial, selanjutnya berposes ke arah yang luas dan bertransformasi dalam bentuk kemitraan. Kesepakatan dalam kemitraan yang terbentuk melalui motivasi dari persoalan ketidakadilan di tempat kerja. Pada awalnya, kemitraan sosial berfokus pada agenda sosial yang lebih luas. Namun, saat sekarang lebih banyak terjadi dikarenakan adanya perasaan senasib, koordinasi di tempat kerja dan mengambil tindakan penting yang berhubungan dengan persoalan di tempat kerja. Bahkan tindakan-tindakan tersebut sebagai tindakan bersama dengan pemerintah lokal, nasional maupun internasional.

Daya tarik serikat pekerja untuk melakukan kemitraan adalah upaya mencari kelayakan kerja. Keterlibatan serikat pekerja dihadapkan pada persoalan kesepakatan/kontrak kerja yang memuat upah, jam kerja, perlindungan dan jaminan sosial pekerja. Serikat pekerja mengiikuti perannya sebagai kontrol atas kesepakatan-kesepakatan yang telah dibuat antara pekerja dan majikan/perusahaan. Kemitraan sosial menjadi alat kerja bagi serikat pekerja mewujudkan controlling system yang ia bangun bersama perusahaan atau bahkan dengan pemerintah.

Namun, harus diingat bahwa semua interaksi menyisahkan persoalan biaya. Begitu juga pada kemitraan sosial ini. Terdapat biaya transaksi yang harus ditanggung oleh aktor yang bermitra. Meskipun sangat sulit untuk menentukan apakah dari biaya yang dikeluarkan sebagai dampak transaksi tersebut menyebabkan keuntungan mutualisme di antara yang bersepakat? Dalam praktiknya, perusahaanlah yang banyak mendapatkan kesuksesan atas kemitraan ini. Kontribusi terbesar adalah didapatkan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan lebih mudah melakukan pengawasan pada kinerja pekerja dan lebih mudah fokus pada peningkatan produktivitas pekerja, jika bersifat kolektif dan berbasis komunitas. Pengusaha juga dapat menggunakan kemitraan ini sebagai upaya untuk mencegah serikat pekerja untuk masuk dalam cakupan di luar kesepakatan yang dibuat, karena seringkali serikat pekerja ini bersifat idealis. Dengan adanya kesepakatan dalam kemitraan, terdapat pembatasan-pembatasan negosiasi dan perluasan cakupan diskusi. Hal ini membuat orientasi serikat pekerja dipaksa untuk tunduk pada kesepakatan tersebut.

Kemitraan memiliki kecenderungan ditemui di tempat yang sama dengan di mana serikat pekerja didirikan. Jarang sekali pekerja yang tidak bergabung dalam serikat pekerja, walau bergabung dengan sebatas komunitas. Respon pekerja pada komunitas maupun serikat pekerja ini sekuat keinginan mereka untuk memperbaiki hubungan ketenagakerjaan atau hubungan industrial yang terbentuk di tempat kerja. Fleksibiltas penyelesaian persoalan kerja, dapat mereka selesaikan melalui serikat pekerja atau komunitas yang mereka ikuti. Jadi sebenarnya, kemitraan sosial ini dapat muncul dalam hubungan ketenagakerjaan di tempat kerja. Berdampak saling menguntungkan bagi aktor yang bersepakat, jika masing-masing aktor berkomitmen untuk saling memberikan value kerja terbaik di tempat kerja. 

rumahmediagrup/Anita Krsitina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.