Mudik yang Tak Lagi Kunikmati

Mudik memang momen yang paling ditunggu-tunggu bagi para perantau.  Namun mudik kali ini tak bisa dinikmati oleh sebagian besar  para perantau.  Larangan mudik yang diberlakukaan pemerintah telah memupuskan harapan dan rindu akan kampung halaman.

Ada kesan tersendiri jika kita mudik. Meskipun berdesak-desakkan di bus umum tapi itu tak melunturkan tekad untuk mudik. Semua kita lakukan demi bertemu orang-orang terkasih di kampung halaman. Bagaimana pun keadaan yang kita alami saat mudik selalu dinikmati.

Sejak mewabahnya virus corona di negeri ini,  keinginan untuk mudik hanyalah tinggal harapan. Pemerintah telah menetapkan peraturan larangan mudik tahun ini demi kesehatan keluarga di kampung. Karena banyak pemudik yang berasal dari zona merah. Meskipun hal ini betentangan dengan nurani tapi kita harus patuhi demi kesehatan bersama.

Pemerintah pun melarang semua angkutan umum dan pribadi untuk beroperasi. Maka tak heran jika ada yang berusaha untuk menyewa travel gelap demi bisa pulang ke kampung halaman meski harus membayar lebih besar.  Namun pada akhirnya kena razia karena di setiap perbatasan kota sudah disiapkan para petugas untuk menjaga dan mereka harus kembali. Apalagi PSBB sekarang sudah diterapkan di hampir semua kota. Ada lagi yang sampai rela ikut mobil angkutan hewan dan rela disatukan dengannya demi bisa mudik. Namun tetap ketahuan petugas.

Miris memang mendengarnya. Masa mau pulang kampung sendiri tidak boleh. Mungkin Yang jadi pemikiran para pemudik, di perantauan mau kerja apa sedangkan hampir semua aktivitas diberhentikan.

Bagi saya pribadi sudah sekian lama sejak menikah tak lagi merasakan yang namanya mudik.  Karena sejak menikah saya  sudah kembali ke kampung halaman dan bertugas di sini.  Adanya larangan mudik bagi ASN tak lagi menjadi persoalan bagi saya karena saya sudah bisa bertemu dengan kedua orang tua, meskipun sekarang hanya bisa dengan cara berziarah ke kuburnya. Punya mertua pun masih satu daerah tidak begitu jauh. Momen-momen mudik yang banyak ceritanya tak lagi bisa saya nikmati. Kadang merindukan juga suasana berdesakkan di bus. Atau berlarian berebutan ketika ada bus datang demi mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Bahkan pernah suatu hari harus balik lagi karena ga kebagian bus. Dan mudiknya ditunda sampai besok. Ah,  suasana yang menjengkelkan tapi masih kurindukan. Alhamdulillah sudah sejak lama saya sampai di kampung halaman. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.