Oleh-oleh yang Tidak Diinginkan

Oleh-oleh yang Tidak Diinginkan

Sebut saja namanya Ibu Enok. Ia seorang guru SD. Saat itu mengajar Kelas III. Paling tidak ada sekitar dua puluh murid di kelasnya. Ia mengajar hampir seluruh mata pelajaran kecuali Pendidikan Agama dan Olah Raga. Begitulah guru SD sebagai guru yang hebat serba bisa.

Sebagaimana biasa hari itu Ibu Enok sedang mengajar. Ia mengajar di siang hari. Maklum ruang belajar di sekolah itu tidak memadai sehingga sebagian pagi dan sebagian lainnya siang. Sesaat lagi istirahat, ia sangat semangat menyudahi pelajaran sebelum lanjut setelah istirahat.


Bel istirahat berbunyi. “Anak-anak! Kita istirahat dulu, ya,” ucap Bu Enok kepada murid-muridnya.


“Baik, Bu,” sahut murid-murid serempak.


Para murid berhamburan ke luar. Mereka menuju tempat jajannya di kantin. Ada juga yang sembunyi-sembunyi jajan melalui celah-celah pagar sekolah. Di luar pagar, sudah menunggu beberapa penjual jajanan. Sebagian murid, hanya ngobrol dan ada juga yang langsung bermain kejar-kejaran.


Sementara itu, Bu Enok menuju ruang guru untuk melepas lelah. “Aduh, pusing sekali kepalaku,” keluhnya kepada dua orang guru yang ada di ruangan tersebut.


“Ada apa, Bu? Istirahatlah. Jangan terlalu cape. Sudah minum obat?” tanya Bu Esih, salah seorang guru.


“Saya tidak sakit, kok. Cuma ada bau yang membuat saya mabok di kelas. Sepertinya Darwati kambuh lagi telinganya. Aku hampir mau pingsan,” lanjutnya.


“Oalah, si Darwati congean lagi,” sahut Pak Yadi dengan ketus.


Bel kembali berbunyi sebagai tanda masuk jam pelajaran terakhir. Bu Enok terlihat kurang semangat. Kali ini memakai masker penutup hidung.


Penampilannya menimbulkan tanya dari muridnya. “Bu Enok, kok pakai masker?” tanya Wahyu, salah seorang murid.


“Iya, Ibu sedang flu,” jawab Bu Enok sekenanya.


Tak terasa dua jam pelajaran terkhir usai. Para murid berdoa sebelum pulang. Kemudian Ibu Enok menyilakan para murid menyalaminya sebelum meninggalkan kelas. Darwati mengawali karena ia duduk paling depan. Satu per satu murid bersalaman hingga kelas kosong.


“Mengapa bau itu ada di tanganku?” gerutunya, “Ya ampun, ini pasti dari tangannya Darwati yang telinganya infeksi itu. Aduh, pasti seluruh murid mendapati bau ini terbawa pulang. Ya hitung-hitung oleh-oleh yang tak diinginkan,” pikirnya dalam hati sambil senyum.

Rumahmediagrup/saifulamri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.