Aki dan Ambu – Bagian 4 (Kangen Cucu)

Aki dan Ambu – Bagian 4 (Kangen Cucu)

Menunggu waktu berbuka, Aki Rahmat duduk santai di depan televisi. Selama Ramadan ini, Ambu lebih toleran memberikan remot TV pada Aki. Kesempatan itu tentu saja tidak disia-siakan Aki. Dia semakin rajin menyimak berita di televisi mengenai perkembangan kasus covid-19. Berita yang sedang banyak disorot saat ini adalah tentang pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai wilayah.

Menurut informasi yang diterima AKi Rahmat, PSBB mulai diberlakukan juga di wilayah kabupaten tempat tinggalnya. Melalui PSBB yang akan terus digelar selama 14 hari ini, aktivitas jual-beli dan mobilisasi masyarakat dibatasi. Pasar hanya boleh buka mulai pukul 04.00 sampai dengan pukul 12.00. Sementara untuk supermarket, minimarket, dan pertokoan diberi waktu buka mulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 16.00. Untuk angkutan transfortasi dimulai pukul 06.00 sampai dengan 16.00. Selepas itu diberlakukan penutupan jalan.  Masyarakat diimbau untuk lebih berdisiplin menjaga jarak, meminimalkan kegiatan ke luar rumah, menggunakan masker terutama saat bersama orang lain, dan menjaga kebersihan. Anjuran untuk menggunakan handsanitizer dan cuci tangan dengan air mengalir terus digembar-gemborkan. Ancaman sanksi kurungan selama 1 tahun atau denda maksimal Rp100 juta untuk yang melanggar pun terus disosialisasikan.

“Tidak ada Mang Kardin ke rumah, sepi ya Ki,” Ambu memulai obrolan sambil menyelesaikan menata menu berbuka di meja makan, lalu duduk di kursi seberang Aki.

“Iya, Ambu. Seperti ada yang hilang kalau Mang Kardin tidak bertandang,” jawab Aki.

Sudah dua hari ini Mang Kardin tidak bertandang ke rumah Aki. Sepertinya Mang Kardin lebih memilih beraktivitas di rumah saja.

“Semakin ketar-ketir saja ya, Ki. Kabar mengenai corona masih saja menjadi berita utama di televisi.,” Ambu membenahi duduknya. “Ambu kangen cucu-cucu di Jakarta, Ki,” suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca. “Kita ngalami juga ya, yang namanya PSBB,” lanjutnya, lalu menghela nafas panjang

Aki Rahmat dan Ambu memang memiliki anak tunggal, Satria namanya. Satria menikah dengan Rania, teman kuliahnya. Mereka menikah  sepuluh tahun yang lalu, tapi baru tahun ke enam setelah pernikahannya mereka dikaruniai momongan. Aina dan Aini lahir sebagai anak kembar.

“Baru juga kemarin video call-an, sudah kangen lagi, Ambu? Doakan saja agar mereka sehat wal’afiat,” suara Aki pun terdengar berat. Sejujurnya, Aki juga sangat meridukan  celoteh cucu-cucunya. “Apa boleh buat, kita tidak bisa ke sana, mereka pun tidak bisa ke sini menjumpai kita. Kalau Ambu mau, lakukan panggilan video lagi saja,” lanjutnya.

“Iya, Ki. Nanti malam saja seusai tarawih. Biasanya jam segini mereka sedang asyik bermain sepeda di taman depan komplek,” jawab Ambu.

“Ambu lupa ya?” Tanya Aki sambil mengulum senyum.

“Apa, Ki?” Ambu terlihat bingung.

“Sekarang mana boleh anak-anak main sepeda di taman depan komplek. Stay at home, kan Mbu. Apalagi sekarang sudah diterapkan PSBB,” papar Aki.

“Oh iya! Ambu sampai lupa. Berarti mereka ada di rumah ya Ki?” Ambu tersipu.

“Kemungkinan besar sih begitu,” jawab Aki singkat.

“Oh iya Ki, tadi tuh apa yang disebutkan Aki? PSBB ya?” Ambu terlihat menahan tawa.

“Iya PSBB, bukan PSPB, ha … ha .. ha…,” tertawa terbahak-bahak teringat pada apa yang dikatakan Mang Kardin tempo hari.

“Hus! Awas muncrat,” canda Ambu.

“Sekarang, tertawa lepas pun dilarang ya?” Tanya Aki sambil menahan tawa.

“Khawatir muncrat, Aki. Kalau mau tertawa lepas, pakai masker tuh, Ki!” Jawab Ambu mengulum senyum.

Kirain bersin dan batuk doang yang harus ditutup,” canda Aki.

“Itu sih wajib dari dulu, atuh Aki …. Apa lagi sekarang gencar PSPB, eh … PSBB, he … he … he,” Ambu kemudian mengambil gawainya untuk melakukan panggilan video pada anaknya di Jakarta. Selain untuk mengobati rasa kangen, juga supaya hati Ambu merasa tenang jika anak-cucunya baik-baik saja.

“Aki … nih si kembar, Ki!” Ambu mengarahkan layar gawainya ke hadapan Aki. Aki melambaikan tangan, menyapa cucu-cucu kesayangannya. Ambu asyik mendengarkan ocehan kedua cucunya. Sesekali dia menimpali.

“Syukurlah keluarga Surya semuanya sehat wal’afiat. Ambu tersenyum puas. Cucu-cucu sudah mulai belajar puasa, Ki,” lapor Ambu.

“Alhamdulillah, memang mereka harus diajari sejak dini,” Aki memberi penguatan. “Sepuluh menit lagi waktu buka nih, Ambu. Mari kita berdoa dulu. Sayang nih waktu mustajabnya doa jika dilewatkan. Kita panjatkan juga doa agar musibah corona ini segera reda, agar kondisi negara dan kehidupan bangsa kita bisa segera normal kembali,” ajaknya.

“Ayo, Ki,” sahut Ambu.

Kedua suami istri itu beranjak menuju halaman depan rumah. Dengan menghadap kiblat, keduanya khusyuk memanjatkan doa hingga tiba waktu berbuka.***

#WCR_tetap4_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.